Bagaimana jika apresiasi kepada siswa tak hanya berupa angka di rapor atau ucapan selamat di akhir tahun, melainkan hadiah yang lahir dari bakat gurunya sendiri? Itulah yang dilakukan Ahmad Ridwan, S.Pd., guru Pendidikan Bahasa Inggris di Duta Samudera Indonesia. Tahun ini, Ridwan menginisiasi sebuah Pameran Terbuka yang dirangkai dengan kegiatan gifting dan farewell—penanda berakhirnya satu rangkaian pengajaran yang ia tutup dengan rasa terima kasih dan penghormatan kepada para siswa.

Proyek Tahunan yang Berevolusi

Sejak 2018 hingga 2025, Ridwan konsisten mengadakan pameran setahun sekali. Fokus sebelumnya banyak diarahkan pada tujuan komersial dan kolaborasi: bermitra dengan pelaku seni–interior, berkolaborasi dengan sekolah melalui pameran potret pahlawan, serta menggandeng kafe dan restoran untuk pameran bertema makanan dan minuman—bahkan hingga proyek mural. Tahun ini, haluannya berubah. Pameran tidak sekadar ruang tontonan, melainkan ruang apresiasi personal bagi siswa.

Seratus Hari yang Penuh Sketsa

Proyek tahun ini dikerjakan selama kurang lebih 100 hari, dari Mei hingga Agustus. Terdapat 15 karya utama berupa potret dan 32 karya pendukung untuk kebutuhan pameran luring. Untuk satu sketsa, Ridwan menghabiskan waktu 6–10 jam, bergantung pada tingkat kesulitan dan detail. Dalam sepekan, ia menuntaskan 2–4 karya, menyesuaikan ketersediaan perlengkapan seni serta suasana berkarya. Ritme disiplin ini membuat setiap potret bukan sekadar “mirip”, melainkan menyimpan jejak proses belajar pemilik wajahnya.

Cermin Perjalanan, Bukan Sekadar Gambar

Ridwan berharap, saat siswa berdiri di depan potret mereka, yang terlihat bukan hanya garis dan arsiran, melainkan cermin perjalanan—dari hari pertama belajar hingga momen perpisahan. Ia ingin para siswa merasa dihargai, diingat, dan menyadari bahwa setiap usaha kecil telah meninggalkan jejak. Kelak, ketika langkah mereka terasa berat, potret itu diharapkan menjadi pengingat bahwa mereka pernah bertumbuh, berjuang, dan melewati tahap penting dalam hidup.

Estetika yang Membumi

Pilihan hitam–putih bukan tanpa alasan. Kesederhanaan warna menonjolkan ekspresi, gestur, dan cerita: persahabatan, kerja keras, juga pelukan halus bernama perpisahan. Tanpa distraksi warna, makna tampil lebih jernih. Inilah “hadiah” yang Ridwan berikan—doa dalam bentuk visual—yang tetap hidup bahkan setelah kelas usai.

Mengajar dengan Memberi dari Diri

Kisah Ridwan menunjukkan bahwa apresiasi dapat lahir dari kompetensi personal guru—apa pun bentuknya: musik, lukisan, fotografi, desain, atau tulisan. Nilai, rubrik, dan target tetap penting dalam pendidikan; namun hadiah yang berangkat dari bakat guru menambahkan lapisan makna yang tak tercantum di silabus.

Ajakan untuk Sesama Guru

Kisah ini mengundang para pendidik untuk bertanya pada diri sendiri:

  • Bakat apa yang bisa dibagikan sebagai bentuk apresiasi?
  • Media apa yang paling bermakna bagi siswa?
  • Kapan momen terbaik menjadikannya hadiah perpisahan, penguatan karakter, atau pengingat bahwa mereka dilihat?

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mengantar siswa mencapai standar, melainkan juga membuat mereka merasa berharga. Lewat pameran dan potret, Ahmad Ridwan, S.Pd. membuktikan bahwa hadiah terbaik terkadang lahir dari ketekunan, rasa, dan bakat—sesuatu yang jejaknya bertahan lebih lama daripada sekadar nilai akhir.

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *