BUDAYA LISAN PRIMER MENURUT WALTER J. ONG: SUARA DALAM RELEVANSI MODERN

Walter J. Ong dalam bukunya “Orality and Literacy” (1982) memperkenalkan

gagasan tentang budaya lisan primer, di mana masyarakat sepenuhnya mengandalkan

komunikasi lisan sebelum tulisan muncul. Bagi Ong, lisan bukan cuma alat bicara ia

membentuk cara kita berpikir. Di masyarakat seperti itu, pengetahuan tersimpan dalam

ingatan bersama, disampaikan lewat suara, dan diwujudkan melalui narasi lisan seperti

cerita, mitos, nasihat, dan puisi (Ong, 1982). Ini menciptakan pola pikir yang aditif

(menambah alih-alih mengurai), berulang-ulang untuk memperkuat memori, dan

partisipatif—di mana pendengar ikut aktif membangun makna bersama pembicara.

Di Indonesia, teori Ong ini sangat berguna. Ambil contoh masyarakat adat

Baduy: penelitian Winursiti dkk. (2024) menunjukkan bahwa sastra lisan, seperti cerita

adat dan petuah, masih jadi alat utama untuk mendidik moral dan sosial. Orang Baduy

memakai tutur lisan untuk menanamkan nilai lokal pada anak muda dan melindungi

identitas budaya mereka (Winursiti, Sapriya & Supriatna, 2024). Ini bukti bahwa,

meski literasi modern sudah datang, kekuatan lisan primer tetap jadi dasar sosial dan

nilai. Pola ini cocok dengan pandangan Ong: lisan sebagai ruang sosial yang menjaga

ikatan komunitas dan mewariskan nilai bersama dari generasi ke generasi.

 

Lebih lanjut, ciri lisan primer yang digambarkan Ong seperti kedekatan

emosional, partisipasi pendengar, dan pola ulangan terlihat jelas dalam tradisi lisan

berbagai suku di Indonesia. Studi di Sumatera Barat, misalnya, menekankan peran

tradisi lisan sebagai bagian identitas lokal. Penelitian Utari dkk. (2023) menemukan

bahwa cerita lisan, mitos, dan legenda di sana terus diwariskan turun-temurun,

dianggap penting untuk melestarikan budaya setempat (Utari, Islami, Ardi, dan

Rahayu, 2023). Kebiasaan ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal masih

menyerap nilai tradisi lewat lisan bukti bahwa nilai-nilai primer ini tak hilang meski

tulisan sudah ada.

Lebih lanjut, ciri-ciri lisan primer yang digambarkan Ong seperti kedekatan

emosional, partisipasi aktif pendengar, dan pola ulangan yang memperkuat memori

terlihat jelas dalam tradisi lisan berbagai suku di Indonesia. Bayangkan saja, di tengah

kehidupan sehari-hari, orang-orang masih berkumpul untuk mendengarkan cerita yang

sama berulang kali, bukan hanya untuk hiburan, tapi untuk merasa terhubung satu sama

lain. Ini menciptakan ikatan emosional yang kuat, di mana pendengar bukan sekadar

pasif, melainkan ikut membentuk narasi bersama. Studi di Sumatera Barat, misalnya,

menekankan betapa tradisi lisan ini jadi bagian tak terpisahkan dari identitas lokal,

membantu masyarakat menjaga akar budaya mereka di tengah perubahan zaman.

Penelitian Utari dkk. (2023) menggali lebih dalam hal ini, menemukan bahwa

cerita lisan, mitos, dan legenda di wilayah tersebut terus diwariskan dari generasi ke

generasi, dianggap sebagai elemen krusial untuk melestarikan budaya setempat (Utari,

Islami, Ardi, dan Rahayu, 2023). Kebiasaan ini menunjukkan bagaimana masyarakat

lokal masih menyerap nilai-nilai tradisi melalui lisan sebuah bukti nyata bahwa nilainilai primer ini tak mudah lenyap, bahkan saat tulisan sudah merambah ke mana-mana.

Ini seperti napas hidup yang terus mengalir, mengingatkan kita bahwa meski dunia

berubah cepat, akar-akar lisan tetap kuat dan relevan.

Namun, perubahan tak bisa dihindari. Penelitian Lubis dkk. (2023) tentang

tradisi lisan dalam upacara pernikahan Mandailing mengungkap bahwa modernisasi

dan kebutuhan efisiensi waktu membuat beberapa elemen lisan disederhanakan atau bahkan hilang (Lubis, Pane & Lubis, 2023). Kata-kata panjang, formula, dan narasi

berulang khas lisan primer kini sering dipadatkan. Ini mengingatkan kita bahwa lisan

primer, walau kuat, rentan terhadap arus sosial. Tapi, penelitian seperti ini menegaskan

pentingnya menghidupkan kembali lisan melalui pendidikan, dokumentasi, dan

kegiatan komunitas agar tak punah total.

Selain di tradisi adat, lisan primer juga relevan di pendidikan modern. Hasanah

dan Andari (2024) menunjukkan bagaimana tradisi lisan di desa jadi platform ampuh

untuk menanamkan gotong-royong, toleransi, dan kearifan lokal. Pengajaran berbasis

cerita lisan masih efektif menyampaikan nilai moral pada anak-anak, karena cocok

dengan cara berpikir manusia: lewat suara, dialog, dan partisipasi bersama (Hasanah &

Andari, 2024). Ini menegaskan bahwa lisan primer bukan cuma peninggalan lama, tapi

aset edukasi yang masih berguna sekarang.

Di bidang ekologi dan pariwisata, lisan primer pun berperan kunci. Penelitian

di Sumatera Barat menunjukkan bahwa cerita dan legenda lokal tak hanya melestarikan

budaya, tapi juga mendukung pelestarian alam. Anwar (2019) menyebut bahwa mitos

dan legenda sering sarat pesan ekologis, dan keberadaannya dalam tradisi lisan

memperkuat kesadaran masyarakat tentang hubungan dengan lingkungan (Anwar,

2019). Ini sejalan dengan gagasan Ong bahwa lisan punya kekuatan performatif dan

pulsa sosial: cerita lisan bukan sekadar hiburan, tapi medium moral dan interaksi

kolektif.

Meski begitu, ancaman terhadap budaya lisan primer itu sungguh nyata dan tak

bisa dianggap remeh. Globalisasi yang membawa pengaruh dari luar, modernisasi yang

membuat hidup kita lebih cepat dan efisien, plus dominasi media tulis dan digital yang

mengubah cara kita berkomunikasi, semua ini bisa secara perlahan menghapus praktikpraktik lisan tradisional. Bayangkan saja, anak-anak sekarang lebih sering scrolling

layar daripada duduk mendengarkan cerita dari nenek moyang. Ini bukan cuma soal

kehilangan hiburan, tapi juga risiko lenyapnya cara kita berpikir dan berhubungan

sebagai komunitas. Jadi, kita perlu merancang strategi pelestarian yang matang dan bijak, agar akar budaya ini tidak tergerus habis oleh arus zaman.

 

Untuk itu, seperti yang diusulkan dalam penelitian revitalisasi, salah satu jalan

keluarnya adalah mengintegrasikan lisan ke dalam pendidikan formal, dokumentasi

berbasis komunitas, dan bahkan media digital yang lebih modern (Achmad, Natasia &

Haliq, 2024). Pendekatan ini memungkinkan lisan primer bertahan dalam bentuk baru,

tanpa kehilangan esensinya sebagai cara pikir kolektif dan identitas sosial. Misalnya,

dengan merekam cerita lisan ke video atau aplikasi, kita bisa menjangkau generasi

muda yang sudah terbiasa dengan gadget, sambil tetap menjaga nilai-nilai intinya. Ini

seperti memberi napas baru pada tradisi lama, supaya tetap hidup dan berguna di dunia

sekarang.

Secara keseluruhan, konsep budaya lisan primer yang diperkenalkan oleh

Walter J. Ong dalam karya klasiknya “Orality and Literacy” (1982) mengungkapkan

bahwa komunikasi lisan bukanlah sekadar mekanisme sederhana, melainkan fondasi

mendalam bagi cara berpikir manusia yaitu pola aditif yang menumpuk pengetahuan

daripada menganalisisnya, berulang-ulang untuk memperkuat ingatan, dan partisipatif

di mana pendengar aktif terlibat dalam pembentukan makna bersama. Di konteks

Indonesia, gagasan ini menemukan relevansi kuat dalam praktik sehari-hari masyarakat

adat, seperti suku Baduy di Jawa Barat atau komunitas di Sumatera Barat, di mana

cerita lisan, mitos, dan legenda terus menjadi sarana vital untuk menjaga identitas

budaya, mendidik nilai moral, serta bahkan mendukung pelestarian lingkungan. Ini

menunjukkan bahwa, meski literasi tulis dan digital telah mendominasi, lisan primer

tetap bertahan sebagai jembatan sosial yang menghubungkan generasi, membentuk

ikatan emosional yang mendalam di tengah kehidupan komunitas.

Namun, ancaman terhadap kelangsungan budaya ini tak bisa diabaikan, dengan

globalisasi dan modernisasi yang perlahan menggerus praktik tradisional melalui

dominasi media digital dan efisiensi waktu. Untuk itu, strategi pelestarian yang bijak

diperlukan, seperti mengintegrasikan elemen lisan ke dalam kurikulum pendidikan

formal, dokumentasi komunitas, dan bahkan platform digital sebagaimana

disarankan dalam berbagai penelitian agar lisan primer dapat beradaptasi tanpa

kehilangan esensinya sebagai ruang kolektif dan identitas sosial. Pada akhirnya, lisan primer bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan hidup yang terus

mengalir, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga warisan ini di era perubahan

cepat, supaya generasi mendatang tetap merasakan kehangatan suara dan cerita yang

membentuk manusia sebagai makhluk sosial.

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *