Dalam kajian budaya dan linguistik, konsep kelisanan (oralitas) dan keaksaraan (literasi) sering kali menjadi titik tolak untuk memahami bagaimana masyarakat membentuk identitas mereka. Kelisanan Merujuk pada tradisi komunikasi lisan yang bergantung pada ingatan, tuturan cerita, dan interaksi langsung, sedangkan keaksaraan melibatkan penggunaan tulisan sebagai alat penyimpanan dan penyebaran pengetahuan. Hubungan antara keduanya tidaklah sederhana; keduanya saling mempengaruhi dan berkontribusi dalam pembentukan identitas budaya. Esai ini akan menganalisis bagaimana kelisanan dan keaksaraan berinteraksi dalam proses ini, dengan fokus pada peran mereka dalam mempertahankan, mentransformasi, dan membangun identitas budaya melalui contoh-contoh sejarah dan kontemporer.
Untuk memahami konteks ini lebih dalam, penting untuk mengakui bahwa identitas budaya bukanlah entitas statistik. Ia terbentuk melalui proses dinamis yang melibatkan unsur-unsur seperti bahasa, ritual, dan narasi. Kelisanan, sebagai bentuk komunikasi primer dalam masyarakat pra-aksara, memainkan peran fundamental dalam membentuk identitas kolektif. Sementara itu, keaksaraan, yang muncul dengan revolusi tulisan sekitar 3000 SM di Mesopotamia, memperkenalkan kemampuan untuk mengabadikan pengetahuan, sehingga memungkinkan evolusi identitas yang lebih kompleks.
Esai ini akan mengeksplorasi interaksi keduanya, dengan argumen bahwa kelisanan memberikan dasar emosional dan komunal, sedangkan keaksaraan menambahkan dimensi analitis dan permanen. Melalui analisis teoritis dan empiris, esai ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa identitas budaya modern sering kali merupakan hibrida dari kedua elemen ini, yang terus berkembang di tengah tantangan globalisasi dan teknologi digital.
pengertian Kelisanan Dan Keaksaraan
Kelisanan, sebagaimana didefinisikan oleh Walter Ong dalam bukunya Orality and Literacy (1982), adalah budaya yang didominasi oleh komunikasi lisan. Dalam masyarakat lisan, pengetahuan disimpan melalui ingatan kolektif, cerita rakyat, dan ritual. Identitas budaya di sini sering kali bersifat komunal dan dinamis, di mana individu bergantung pada kelompok untuk mempertahankan tradisi. Sebaliknya, keaksaraan muncul dengan penemuan tulisan, yang memungkinkan pengetahuan diarsipkan secara permanen.
Hal ini mendorong individualisme, analisis kritis, dan perubahan sosial yang lebih cepat.
Untuk memperdalam pemahaman, kita dapat melihat perbedaan psikologis antara keduanya. Ong menjelaskan bahwa masyarakat lisan cenderung berpikir dalam pola aditif dan situasional, di mana cerita dibangun melalui pengulangan dan formula. Misalnya, epik Homer seperti Iliad awalnya lisan sebelum ditulis, mencerminkan struktur yang mudah diingat. Di sisi lain, keaksaraan memfasilitasi pemikiran abstrak dan linier, seperti yang terlihat dalam filsafat Plato, yang menganggap kelisanan sebagai kurang akurat. Namun, perbedaan ini tidak mutlak; Banyak budaya awalnya lisan, tetapi keaksaraan memperkenalkan unsur-unsur baru yang memodifikasi identitas. Misalnya, dalam masyarakat Afrika pra-kolonial, kelisanan membentuk identitas melalui griot (penutur cerita) yang menyampaikan sejarah suku. Dengan masuknya keaksaraan melalui kolonialisme, identitas ini mulai terdokumentasi, namun sering kali mengalami distorsi atau hibridisasi. Selain itu, konsep keaksaraan tidak terbatas pada tulisan alfabetik. Sistem seperti hieroglif Mesir atau aksara Cina juga merupakan bentuk keaksaraan yang membentuk identitas budaya melalui dokumentasi resmi. Di era kontemporer, keaksaraan meluas ke bentuk digital, seperti teks elektronik, yang mempercepat penyebaran pengetahuan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kelisanan dan keaksaraan berinteraksi dalam konteks global, di mana identitas budaya tidak lagi terjalin tetapi saling terhubung.
Peran Keaksaraan dalam Pembentukan Identitas Budaya
Kelisanan memainkan peran sentral dalam membentuk identitas budaya yang kohesif dan adaptif. Dalam budaya lisan, identitas tidak statis; ia terbentuk melalui interaksi sosial. Cerita lisan, seperti mitos dan legenda, menjadi sarana untuk menegaskan nilai-nilai budaya, seperti solidaritas keluarga atau penghormatan terhadap leluhur. Contohnya, di Indonesia, tradisi lisan seperti cerita wayang kulit Jawa memperkuat identitas Jawa melalui narasi epik yang menggabungkan unsur Hindu-Buddha dengan lokal.
Lebih lanjut, kelisanan memfasilitasi inklusi sosial. Dalam masyarakat lisan, siapa saja dapat berpartisipasi dalam penyebaran pengetahuan, sehingga identitas budaya menjadi milik bersama. Hal ini terlihat dalam praktik storytelling di suku-suku asli Amerika, di mana cerita lisan digunakan untuk mengajarkan etika dan sejarah. Namun, kelisanan juga rentan terhadap perubahan; Ingatan manusia tidak sempurna, sehingga cerita dapat berevolusi seiring waktu, mencerminkan dinamika sosial seperti migrasi atau konflik. Misalnya, dalam budaya Maori di Selandia Baru, haka (tarian lisan) telah beradaptasi dengan konteks modern, mempertahankan identitas sambil mengintegrasikan elemen baru.Di tingkat psikologis, kelisanan membentuk identitas melalui empati dan partisipasi. Ong berpendapat bahwa komunikasi lisan menciptakan “kehadiran” yang intens, di mana pendengar terlibat secara aktif. Ini kontras dengan keaksaraan, yang lebih pasif. Dalam konteks terbentuknya identitas, kelisanan memungkinkan budaya untuk tetap hidup dan relevan, terutama di masyarakat yang menghadapi ancaman eksternal seperti kolonialisme. Namun tantangannya adalah kelisanan sering kali dianggap inferior oleh masyarakat aksara, yang berujung pada marginalisasi tradisi lisan.
Peran Keaksaraan Dalam Pembentukan Identitas Budaya
Keaksaraan memperkenalkan dimensi baru dengan memungkinkan dokumentasi dan analisis. Tulisan memisahkan pengetahuan dari konteks lisan, memungkinkan refleksi individu dan perbandingan lintas budaya. Hal ini dapat memperkuat identitas dengan menciptakan narasi resmi, seperti kitab suci atau konstitusi, yang menjadi landasan identitas nasional. Di Barat, keaksaraan Yunani-Romawi berkontribusi pada identitas Eropa melalui filsafat tertulis, yang membedakan diri dari budaya lisan Timur Tengah.Namun, keaksaraan juga dapat mengancam identitas lisan. Dalam konteks kolonialisme, misalnya, keaksaraan Eropa digunakan untuk mendokumentasikan dan mengubah identitas pribumi, seperti di Amerika Latin di mana bahasa Spanyol tertulis menggantikan tradisi lisan Maya. Di era digital, keaksaraan elektronik (seperti media sosial) memungkinkan hibridisasi, di mana identitas budaya global terbentuk melalui teks yang diedarkan secara cepat, namun sering kali memberlakukan batas-batas budaya lokal.
Lebih dalam lagi, keaksaraan memfasilitasi pembentukan identitas melalui institusi. Sekolah dan perpustakaan menjadi pusat penyebaran pengetahuan tertulis, yang membentuk generasi baru dengan identitas yang lebih terstruktur. Misalnya, di India, keaksaraan Sanskerta memperkuat identitas Hindu melalui teks Veda. Namun, hal ini juga menimbulkan kebingunan; masyarakat dengan akses terbatas ke keaksaraan mungkin kehilangan identitas asli mereka. Di abad ke-21, keaksaraan digital menambahkan lapisan baru, di mana platform seperti Twitter memungkinkan ekspresi identitas yang cepat dan viral, namun sering kali meremehkan.
Interaksi Kelisanan dan Keaksaraan
Hubungan antara kelisanan dan keaksaraan sering kali bersifat dialektis. Kelisanan memberikan dasar emosional dan komunal, sementara keaksaraan menambahkan struktur dan presisi. Dalam pembentukan identitas budaya, keduanya saling melengkapi: kelisanan mempertahankan tradisi, sedangkan keaksaraan memungkinkan inovasi. Contohnya, di Jepang, identitas budaya Shinto yang lisan (cerita lisan tentang dewa) diperkuat oleh teks tertulis seperti Kojiki, yang menciptakan narasi nasional yang hibrid.Di era modern, globalisasi mempercepat interaksi ini. Budaya populer, seperti musik rap atau film Bollywood, menggabungkan unsur lisan (ritme dan cerita) dengan keaksaraan (lirik tertulis dan skrip). Identitas budaya kini sering kali hibrid, di mana kelisanan digital (podcast, video) berinteraksi dengan keaksaraan tradisional, membentuk identitas yang lebih inklusif namun kompleks.
Untuk mengilustrasikan lebih lanjut, mengenai studi kasus di Afrika. Di Ghana, tradisi lisan Akan dilestarikan melalui grot, tetapi keaksaraan kolonial Inggris memperkenalkan sastra baru yang memodifikasi identitas. Saat ini, hibridisasi terlihat dalam musik Afrobeats, yang menggabungkan ritme oral dengan lirik tertulis. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi keduanya tidak hanya membentuk identitas, tetapi juga memungkinkan resistensi terhadap dominasi budaya asing. Implikasi di era digital menambah kompleksitas. Kelisanan digital, seperti vlog atau TikTok, memungkinkan penyebaran cerita lisan secara global, sementara keaksaraan tetap penting untuk dokumentasi. Identitas budaya kini sering kali cair, di mana individu dapat mengadopsi elemen dari berbagai tradisi. Namun, hal ini juga menimbulkan risiko homogenisasi, di mana identitas lokal terancam oleh narasi global.
Kelisanan dan keaksaraan bukanlah entitas yang terpisah-pisah, melainkan komponen-komponen yang saling berkaitan dalam terbentuknya identitas budaya. Kelisanan menyediakan fondasi komunal dan adaptif, sementara keaksaraan menawarkan alat untuk preservasi dan transformasi. Dalam konteks global, interaksi tersebut memungkinkan terjadinya evolusi, namun juga menimbulkan tantangan seperti homogenisasi. Memahami hubungan ini penting untuk melestarikan budaya, di mana kelisanan tetap relevan sebagai penjaga identitas emosional, dan keaksaraan sebagai katalisator inovasi. Dengan demikian, identitas budaya yang kuat harus mengintegrasikan keduanya secara harmonis.
Secara keseluruhan, esai ini menekankan bahwa pembentukan identitas budaya adalah proses kontinyu yang dipengaruhi oleh teknologi dan interaksi sosial. Di masa depan, dengan kemajuan AI dan media sosial, hubungan kelisanan dan keaksaraan akan semakin kompleks, memerlukan pendekatan yang holistik untuk memahami dan melestarikannya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi dampak spesifik pada budaya minoritas, yang sering kali bergantung pada kelisanan untuk bertahan.
Keterkaitan antara tradisi lisan dan tradisi tulis memperlihatkan bahwa keduanya berperan penting dalam membentuk identitas budaya suatu masyarakat. Melalui kelisanan, nilai‐nilai, kisah, dan ingatan bersama dapat terus hidup dan diteruskan, sementara keaksaraan memungkinkan budaya didokumentasikan, dipikirkan ulang, dan berkembang mengikuti perubahan zaman. Kedua aspek ini bekerja saling mendukung dalam membantu sebuah kelompok mengenal dan menegaskan jati dirinya. Oleh karena itu, identitas budaya terbentuk bukan hanya dari apa yang diucapkan atau dicatat, melainkan dari hubungan timbal balik antara keduanya yang menjaga keberlanjutan sekaligus membuka ruang pembaruan budaya.







