Proposal di Atas Aspal – Puisi Karya Raden Saett (Said Kosim)

Di persimpangan ini, Tuhan, proposal kami tak diketik di atas kertas wangi.
Ia tertulis di atas kardus bekas mi instan,
dibawa oleh tangan-tangan kecil yang hafal aroma asap knalpot daripada bau buku sekolah.

Kami tak punya lampiran gelar atau sertifikat suci,
hanya lampiran perut yang keroncongan dan telapak kaki yang pecah-pecah dimakan hari.
Tuhan, apakah doa kami harus melewati birokrasi langit yang panjang?
Sebab di bumi, suara kami seringkali kalah nyaring dari klakson mobil pejabat
yang kacanya lebih gelap dari masa depan kami.

Kami melihat kemewahan gedung-gedung yang menusuk langit,
sementara kami mencangkul sisa-sisa keadilan di tempat sampah yang kian menjepit.
Jangan beri kami janji-janji manis dalam pidato atau khotbah yang tinggi,
beri kami kekuatan untuk tidak mencuri saat anak kami menangis minta nasi.

Sebab bagi kami, iman bukan lagi soal diskusi filosofi,
tapi soal bagaimana caranya tetap menjadi manusia di tengah kota yang tak punya hati.
Kami tidak sedang meminta istana, Tuhan.
Kami hanya minta agar aspal ini tidak terlalu panas bagi kaki-kaki kami yang telanjang

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *