Tuhan, aku datang lagi dengan dahi yang sok hitam,
membawa proposal yang isinya tuntutan agar aku masuk surga paling depan.
Lucu, ya? Aku yang mencuri waktu-Mu sepanjang hari untuk urusan dunia,
tapi menagih balasan seolah-olah aku ini kekasih-Mu yang paling setia.
Aku ini pedagang yang licik, Tuhan.
Kuhitung setiap sujudku seperti menabung saham untuk masa depan,
tapi aku lupa membayar pajak rasa syukur atas napas yang Kau pinjamkan.
Aku mengemis ampunan hanya saat aku sedang ketakutan,
tapi saat kenyang, aku berjalan di bumi-Mu seolah aku yang punya kerajaan.
Jangan beri aku firdaus jika di sana aku masih sombong seperti ini.
Lebih baik Kau lempar aku ke ruang tunggu sunyi,
biar kurasakan betapa dinginnya menjadi manusia yang merasa bisa hidup sendiri.
Aku tak butuh kata-kata puitis untuk membungkus busuknya niatku,
aku cuma butuh tangan-Mu untuk menghancurkan berhala ego di dalam dadaku.
Jika doa adalah peluru, maka doaku adalah peluru hampa;
bersuara nyaring saat ditembakkan, tapi tak pernah membunuh dosa-dosa di kepala







