Tuhan, izinkan aku bicara tanpa perlu berpura-pura menjadi penyair, karena malam ini kepalaku lebih mirip pasar tumpah daripada sebuah sajak yang rapi. Aku datang membawa rongsokan janji yang gagal kutepati; janji untuk menjadi lebih baik, janji untuk tidak mengeluh, dan janji untuk tidak lagi menjadikan dunia sebagai satu-satunya kiblat. Aku berdiri di depan pintu-Mu dengan napas yang tersenggal-senggal, seperti pelari yang salah arah dan baru sadar bahwa garis finisnya ternyata ada di titik keberangkatan.
Bolehkah aku menanggalkan semua gelar dan atribut yang kupakai di hadapan manusia? Di sini, aku ingin menjadi nol, menjadi tiada, menjadi sekadar nama yang tidak perlu dihormati. Aku lelah menjahit topeng-topeng sosial yang setiap hari harus kupasang agar terlihat baik-baik saja, padahal di dalam sini, di balik tulang rusuk ini, ada ruang gelap yang hanya bisa diterangi oleh sedikit saja kerelaan-Mu.
Jangan hukum aku dengan memberikan semua yang kuminta, sebab seringkali aku tidak tahu apa yang benar-benar kubutuhkan. Aku ini anak kecil yang merengek meminta api karena warnanya yang indah, tanpa tahu bahwa ia bisa menghanguskan seluruh rumah. Jadi, Tuhan, ambillah alih kemudiku. Jika jalanku masih berliku, biarlah; asal tujuannya adalah Engkau. Jika hatiku harus patah berkali-kali, biarlah; asal retakannya menjadi jalan masuk bagi cahaya-Mu. Aku tidak lagi meminta dunia ini digenggamanku, aku hanya minta agar dunia tidak memenjarakan hatiku







