ULASAN CERPEN “TULAH” KARYA HERI HALILING DI SUARA MERDEKA, MINGGU 08 FEBRUARI 2026

SASTRA-Cerpen “Tulah” karya Heri Haliling merupakan sebuah kisah yang menghunjam langsung ke relung perasaan pembaca melalui tema-tema berat seperti penyakit kritis, dilema keluarga, dan rahasia masa lalu yang pahit. Cerita ini dibangun dengan narasi yang padat dan penuh ketegangan emosional, dimulai dari situasi genting di ruang ICU di mana tokoh utama, Madrovie, menghadapi kondisi putrinya, Delila, yang membutuhkan transfusi darah dengan golongan darah sangat langka, rhesus-null.

Dari segi konflik, cerpen ini berlapis. Di permukaan, ada konflik medis: perjuangan mencari darah langka untuk menyelamatkan nyawa seorang anak. Namun, di balik itu, tersimpan konflik batin yang lebih dalam dan tragis: hubungan terlarang antara Madrovie dan Mirna yang ternyata adalah saudara kandung, sebuah rahasia yang disembunyikan oleh ibu mereka. Pengungkapan rahasia ini menjadi “tulah” yang dimaksud—kutukan atau konsekuensi tragis dari dosa masa lalu orang tua yang berimbas pada generasi berikutnya.

Penulis berhasil menggambarkan keputusasaan dan kegetiran hidup dengan bahasa yang puitis namun menyentuh, seperti dalam kalimat: “semua terasa seperti ratusan jarum menembus setiap syaraf di tubuh.” Adegan-adegan penuh emosi—seperti saat Madrovie menceritakan kebenaran kepada Mirna, atau saat Delila tiba-tiba sadar dan meminta orang tuanya rukun—diangkat dengan intensitas yang tinggi, membuat pembaca ikut merasakan gejolak yang dialami tokoh.

Simbolisme dalam cerita juga kuat. Darah rhesus-null yang langka bukan hanya sekadar kebutuhan medis, tetapi juga metafora dari hubungan keluarga yang “tidak cocok” dan penuh konsekuensi fatal. Kebangkitan semu Delila (terminal lucidity) menjadi ironi yang menyayat hati: di saat keluarga merasa bahagia karena melihatnya sadar, justru itu pertanda akhir yang semakin dekat. Adegan itu memperkuat tema kesia-siaan dan kepasrahan di hadapan takdir.

Dari segi pesan, cerpen ini menyoroti betapa masa lalu—terutama rahasia dan dosa yang tak terungkap—dapat menghantui dan menghancurkan masa kini. Namun, di balik tragedi, ada pula pesan tentang pengorbanan, penerimaan, dan cinta keluarga yang tulus, meski harus dibayar dengan penderitaan.

Secara keseluruhan, “Tulah” adalah cerpen yang kuat secara emosional dan tematik. Heri Haliling berhasil merangkai konflik personal dan universal menjadi sebuah narasi yang memukau dan meninggalkan kesan mendalam. Cerita ini bukan hanya sekadar kisah sedih, tetapi juga renungan tentang konsekuensi, dosa turunan, dan kegetiran hidup yang harus dihadapi dengan keberanian dan keikhlasan (IW.S). 

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *