Tuhan, kemana ini arahnya?
Langkahku berat, terjerat dalam jaring-jaring buntu
Setiap pintu yang ku ketuk hanya menyisakan gema bisu
Dan samudera-Mu seolah tak bertepi dimataku yang layu
Tuhan, kemana ini arahnya?
Maaf, aku seperti pengelana yang kehilangan kompas di rimba takdir
Jiwaku gaduh, remuk, dan ringkih
Logika ku habis, dikoyak duri-duri getir
Hanya tersisa raga yang gemetar, menanti satu isyarat agar tak tersingkir
Kini kuserahkan sisa nafas pada jemari takdir-Mu,
Sebab aku hanyalah pengelana kecil di bentangan semesta-Mu.
Jika jalan di depanku adalah kabut yang menutup pandang,
Berilah cahaya, meski hanya setitik, agar aku tak hilang.
Tuhan, kemana ini arahnya?
Aku tak lagi bertanya dengan kepala yang tegak,
Namun dengan hati yang lumat, bersimpuh di antara retak.
Tuntunlah aku pulang, atau beri aku ruang untuk sejenak tenang.
Ciamis, 31 Maret 2026







