Aku Tersandung Lagi, Tetapi Semangatku Tak Sudi Berhenti

Aku Tersandung Lagi, Tetapi Semangatku Tak Sudi Berhenti

Oleh: Nofan Alfandi

“Jika tidak hari ini, mungkin minggu depan. Jika tidak minggu ini, mungkin bulan depan.”

 Ada masa di hidup ini ketika harapan terasa lebih jauh dan usaha terlalu sunyi, tetapi arah juga enggan menunjukkan diri.

Kita diam, bukan karena tak ingin melangkah, tapi karena terlalu sering jatuh di tempat yang sama. Bukan lelah yang membuat kita berhenti, melainkan ragu. Apakah arah ini masih layak diperjuangkan? Tapi meski jatuh, aku tak mau berhenti. Karena diam terlalu lama hanya membuat luka terasa lebih dalam, sedangkan jatuh…setidaknya aku masih mencoba.

Lirik lagu “Kita Usahakan Lagi” dari Masitong dan Erica itu seolah merespon isi pikiranku belakangan ini dan ia seperti suara dari dalam diriku sendiri. Aku  benar-benar tidak kuat namun belum juga sepenuhnya hancur.

Aku jatuh lagi di tempat yang nyaris sama, dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Meski langkahku goyah dan arah terasa samar, ada bagian dari diri ini yang masih ingin terus berjalan.

Lagu itu seakan menenangkan, bahwa diam bukan berarti menyerah. Mungkin kita hanya sedang mengumpulkan sisa tenaga untuk bertahan sedikit lebih lama. Dan mungkin itulah sebabnya lagu itu terasa begitu dekat karena ia tidak menyuruhku bangkit, ia hanya duduk bersamaku dalam sunyi.

Teman-teman satu per satu meninggalkan ruang tunggu. Ada yang melangkah ke dunia kerja, dan ada juga yang melangkah ke pelaminan. Semuanya tampak tahu kemana arah mereka.

Sementara aku? Masih terpaku di depan layar yang sama, dengan kursor yang terus berkedip seolah-olah denyut luka yang tak kunjung sembuh. Dan menggertakku pelan “Yang lain sudah melangkah, kamu masih menunggu apa?”

Aku tidak secepat dan tidak seproduktif mereka, serta tidak setegas seperti apa yang bisa mereka bilang “aku siap” dan langsung tancap gas.

Aku..sering diam terlalu lama, bukan karena malas tapi karena bingung. Karena takut jatuh lagi di tempat yang sama.

Dan ya, aku jatuh lagi…

Tetapi herannya walau sudah jatuh, aku masih tetap di sini. Membuka laptop yang kursor layarnya seperti menertawakanku pelan-pelan “Masih belum selesai juga?”

Tapi aku mulai belajar…

Bahwa diam terlalu lama bisa membuat luka semakin dalam.

Bahwa tertinggal bukan berarti gagal.

Bahwa terlambat bukan berarti kalah.

Lagu “Kita Usahakan Lagi” datang sebagai penyemangat keras kepala. Ia hadir seperti teman seperjalanan yang tidak menyuruhku untuk bangkit hari ini juga, tapi duduk bersamaku dan berkata “Kalau hari ini belum bisa, gak apa-apa. Kita coba lagi nanti. Gak harus selesai, yang penting gak nyerah.”

Dan aku pikir mungkin benar, hidup bukan tentang yang paling cepat sampai tetapi tentang siapa yang masih bertekad untuk melangkah, meski jalannya pelan atau pun dengan hati penuh luka.

Lucunya terkadang motivasi tidak datang dari tempat perkumpulan atau seminar dan tidak juga dari omongan “kamu pasti bisa.”

Terkadang datang dari hal-hal kecil, seperti seorang kurir JNE datang ke kosan dengan wajah lelah, jaket basah, dan ucapan yang ringan “Paketnya ya, Kak.”

Dari situ aku paham…

Walaupun lelah, ia tetap menerjang cuaca yang panas maupun hujan, jalanan yang macet, dan alamat yang membingungkan untuk terus mengantar.

Sedangkan aku…? Baru gagal dua, tiga kali  saja sudah ragu.

Kurir itu tidak pernah bertanya, “Ini paket penting gak sih?” ia juga tidak akan menunggu sampai anda siap. Baginya  yang terpenting adalah terus melaju, tetap mengirim, dan menuntaskan pekerjaannya.

Aku mengamati…lalu aku belajar. Tindakan yang kecil harus dijalankan dengan konsisten, kadang jauh lebih berarti dari pada niat yang besar kemudian terus di tunda.

Aku tersandung lagi, tetapi semangatku tak sudi berhenti. Karena seperti kurir JNE itu, aku juga punya sesuatu yang harus aku antarkan, bukan ke orang lain tetapi ke diriku sendiri.

Ini perihal janji, yang harus aku buktikan…

Bahwa aku akan terus mencoba, walaupun pelan.

Bahwa aku akan tetap bertahan, walaupun tak ada kepastian.

Hidup bukan soal siapa yang paling cepat kirim mimpi, tetapi tentang siapa yang gigih untuk melangkah, meski impian itu masih belum terlaksana sesuai arah.

Kalau JNE aja gak nunda kiriman, masa kamu nunda impian?

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *