Di pojok kelas,
aku menata kapur seperti merapal mantra,
sementara layar-layar kecil di tanganmu
menyala lebih terang dari mata pelajaran
Suaraku
beradu dengan denting notifikasi,
yang kadang lebih kamu percayai
daripada titik koma dalam buku cetak.
Tapi aku tak lagi gusar.
Aku tahu,
kita tumbuh dari musim yang berbeda
Aku disiram pagi oleh pena dan papan tulis,
sedang kamu dibesarkan malam
oleh algoritma dan pencarian daring.
Aku tak ingin jadi penjaga gerbang nostalgia,
yang melarangmu melangkah ke masa depan
Aku hanya ingin jadi jendela,
yang tetap terbuka meski engselnya berderit.
Karena tugas kami bukan menjaga
segala tetap sama,
tapi mengantar kalian
menjadi berbeda dengan arah yang bijak
Meski suaraku kadang teredam
oleh bisik teknologi yang tak pernah tidur,
aku percaya:
masih ada ruang dalam dirimu
yang menunggu disentuh bukan oleh layar,
melainkan oleh makna