Gamon: Seni Merayakan Rindu yang Tak Tuntas di Era Digital

Gamon: Seni Merayakan Rindu yang Tak Tuntas di Era Digital

Hujan di bulan Desember selalu punya cara curang untuk memanggil kenangan. Kamu sedang duduk di kedai kopi, atau mungkin berbaring di kamar sambil scrolling layar ponsel, lalu tiba-tiba satu lagu lewat di playlist. Seketika, pikiranmu melayang ke satu nama.

Selamat datang di klub. Kamu sedang Gamon.

Di tahun 2025 ini, kata “Gamon” sudah bukan lagi sekadar singkatan kasar. Ia telah menjadi fenomena budaya, sebuah “ritual” kolektif netizen Indonesia. Tapi pernahkah kamu bertanya, kenapa satu kata ini begitu powerful dan mengapa kita semua sepertinya susah sekali lolos dari jeratannya?

Asal-Usul: Dari Tragis Menjadi Ironis

Secara harfiah, kita tahu Gamon adalah akronim dari Gagal Move On. Namun, evolusi bahasa ini menarik untuk diamati.

Dulu, orang tua kita menyebutnya “Patah Hati”. Frasa itu terdengar berat, gelap, dan penuh derita. Rasanya seperti dunia runtuh. Namun, Gen Z dan Gen Alpha mengubah narasi itu. Mereka butuh istilah yang lebih santuy, lebih kasual, dan bisa ditertawakan.

Muncullah “Gamon”.

Kata ini mengubah posisi kita dari “korban tragedi cinta” menjadi “pelaku komedi romantis”. Saat kamu bilang “Duh, gue lagi Gamon nih,” itu tidak terdengar menyedihkan. Itu terdengar manusiawi. Gamon mengubah rasa sakit menjadi bahan obrolan tongkrongan yang renyah. Ia adalah jembatan yang mengubah tangisan menjadi tawa ironis.

Fenomena Masyarakat: “Gamon” Sebagai Gaya Hidup

Coba buka media sosial hari ini. Berapa banyak konten galau yang lewat di For You Page (FYP) kamu?

Masyarakat Indonesia memiliki budaya unik: Komunalisme Kesedihan. Kita tidak suka sedih sendirian. Sejak era “Sobat Ambyar” hingga sekarang, kita belajar bahwa merayakan luka secara berjamaah itu melegakan.

Gamon di tahun 2025 didukung oleh teknologi yang menjadi pedang bermata dua:

  1. Arsip Digital Abadi: Fitur memories di Instagram atau Google Photos adalah “mesin waktu” jahat yang memaksa kita melihat momen bahagia 1, 3, atau 5 tahun lalu tepat di hari ini.

  2. Validasi Netizen: Menjadi Gamon itu relatable. Konten tentang susah melupakan mantan seringkali panen likes dan share. Komentar seperti “Mbak, kita satu server” atau “Peluk jauh” menjadi obat penenang instan.

Tanpa sadar, masyarakat kita menormalisasi Gamon bukan sebagai penyakit, tapi sebagai fase estetis yang “wajib” dilalui.

Sisi Humanis: Kenapa Otak Kita Menolak Lupa?

Seringkali kita menyalahkan diri sendiri: “Kenapa sih aku lemah banget? Padahal dia udah bahagia sama yang lain.”

Tunggu dulu. Berhenti menghakimi dirimu sendiri.

Secara ilmiah, Gamon itu bukan tanda kebodohan, melainkan tanda bahwa otakmu bekerja dengan normal. Otak manusia adalah organ yang gila pola (pattern-seeking).

Bayangkan hubunganmu dulu adalah sebuah lagu favorit yang diputar setiap hari selama bertahun-tahun. Otakmu hafal nadanya, hafal liriknya. Saat hubungan itu putus, musiknya berhenti mendadak. Tapi otakmu? Dia masih “bersenandung” melanjutkan liriknya.

Rasa rindu yang menyiksa itu (Gamon) sebenarnya adalah otak yang sedang jetlag. Ia kebingungan karena rutinitas chat “selamat pagi”, aroma parfum, atau tempat makan favorit mendadak hilang dari radar. Otakmu sedang “sakau” dopamin dan oksitosin yang biasanya didapat dari si Dia.

Berdamai dengan “Gamon”

Jadi, apa yang harus dilakukan?

Mungkin jawabannya bukan “Lupakan sekarang juga!” atau “Ayo cari yang baru!”. Itu nasihat basi.

Di penghujung tahun 2025 dan awal 2026 ini, mari kita ubah cara pandang. Gamon adalah bukti bahwa kamu punya hati yang tulus. Kamu pernah berani mencintai seseorang begitu dalam hingga ketiadaannya mengubah ritme hidupmu. Itu adalah hal yang indah.

Nikmati saja fase Gamon-mu. Dengarkan lagu sedih itu sampai bosan. Nangis sepuasnya jika perlu. Tapi ingat, jangan biarkan Gamon menjadi tempat tinggal permanen. Jadikan ia tempat transit.

Karena pada akhirnya, obat dari Gamon bukanlah melupakan, melainkan menerima bahwa beberapa orang memang ditakdirkan hanya untuk menjadi bagian dari sejarah, bukan masa depan.

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *