Suasana aula lembaga itu begitu meriah pagi itu. Semua Guru, santri, dan beberapa karyawan berkumpul rapi dengan pakaian rapi. Acara tahunan yaitu pengumuman guru, santri, dan karyawan terbaik.
Bapak Sanjari duduk di barisan tengah. Wajahnya tenang, seperti biasa. Ia tak pernah merasa istimewa meski semua orang mengenalnya sebagai sosok yang sangat disiplin. Hampir setiap hari ia datang lebih awal daripada siapa pun. Sampai tempat tugas ia selalu datang lebih awal. Ia bekerja dengan penuh tanggung jawab, jarang sekali meninggalkan tugas tertunda. Dan yang paling dikenal orang, ia tidak pernah meninggalkan shalat, bahkan di kantor ia selalu mengingatkan rekan-rekannya untuk shalat berjamaah.
Ketika musik berhenti, pembawa acara memanggil nama karyawan terbaik tahun ini.
“Dan karyawan terbaik tahun ini, jatuh kepada… *Bapak Sanjari!*”
Sekejap, ruangan bergemuruh dengan tepuk tangan. Semua mata tertuju padanya.
“Silakan maju ke depan, Pak Sanjari,” ujar pimpinan lembaga sambil tersenyum lebar.
Dengan wajah terkejut bercampur gugup, Bapak Sanjari berdiri. Ia menundukkan kepala, melangkah pelan ke depan panggung. Hatinya bergetar. *“Ya Allah… kenapa aku yang terpilih? Rasanya masih banyak yang lebih pantas daripada aku,”* batinnya.
Sesampainya di depan, pimpinan lembaga menyerahkan sebuah selembar Piagam hadiah besar sambil berkata,
“Selamat, Pak Sanjari. Karena pengabdian, kedisiplinan, dan keistiqamahan Bapak, lembaga memberikan hadiah istimewa… *Umroh gratis!* Semua biaya ditanggung lembaga.”
Seketika tubuh Bapak Sanjari terasa lemas. Ia hampir terjatuh.
“U… umroh, Pak?” suaranya bergetar.
“Betul, Pak. Umroh gratis. Inilah bentuk penghargaan kami,” jawab pimpinan sambil menepuk bahunya.
Tepuk tangan kembali menggema. Rekan-rekannya bersorak, ada yang berdiri, ada yang menyalami dari jauh sambil melambaikan tangan.
“Selamat ya, Pak Sanjari!” seru mereka.
“Luar biasa, Pak! Bapak memang pantas dapat ini.”
“Doakan kami nanti di sana, Pak.”
Bapak Sanjari hanya mampu tersenyum kaku. Matanya berkaca-kaca. Ia menerima piagam tersebut dengan tangan gemetar.
Malam harinya, di rumah sederhana mereka, suasana justru berbeda.
Istrinya, menyambut kepulangan suaminya dengan penuh bahagia.
“Alhamdulillah, Pak! Masya Allah… hadiah umroh! Ini benar-benar rezeki besar,” katanya dengan wajah berseri-seri.
Namun, wajah Bapak Sanjari justru muram. Ia duduk di kursi ruang tamu, menunduk, tak berani menatap istrinya.
“Kenapa, Pak? Bukannya ini kabar gembira?” tanya Bu Rini heran.
Bapak Sanjari menarik napas panjang.
“Bu… saya bingung. Saya merasa tidak pantas. Rasanya banyak orang lain yang lebih baik daripada saya. Saya ini masih banyak dosa, masih sering lalai. Bagaimana mungkin saya pantas ke Baitullah?”
“Pak…” istrinya menggenggam tangannya. “Justru kesempatan ini datang agar Bapak bisa memperbaiki diri. Jangan terlalu keras menilai diri sendiri.”
“Tapi, Bu…” lanjutnya, “saya juga takut nanti di sana. Saya tidak paham benar tata cara umroh. Bagaimana kalau saya salah? Bagaimana kalau ibadah saya tidak diterima? Bagaimana makan di hotel, tidur di hotel, ibadah di Makkah dan Madinah… saya benar-benar tidak tahu.”
Istrinya tersenyum menenangkan.
“Insya Allah, nanti bisa belajar, Pak. Ada pembimbing juga. Jangan terlalu dipikir berat. Ingat, ini hadiah, bukan hutang. Allah yang memilih Bapak.”
Meski begitu, keraguan masih menghantui hati Bapak Sanjari. Malam itu ia tak bisa tidur. Berkali-kali ia berguling di kasur. Dadanya sesak oleh rasa takut, sungkan, dan cemas.
Keesokan harinya, ia mendatangi kakaknya, Pak Untung.
“Bang… saya dapat hadiah umroh. Tapi saya bingung, apakah saya pantas?” katanya lirih.
Pak Untung menatap adiknya lekat-lekat, lalu tersenyum.
“Anjar… dengar ya. Umroh itu undangan Allah. Kalau Allah sudah pilih kamu, berarti kamu tamu-Nya. Masa kamu menolak undangan Allah?”
“Tapi, Bang… saya ini masih banyak dosa.”
“Justru! Orang yang banyak dosa itu lebih butuh datang ke sana. Supaya bersih. Kalau semua orang harus sempurna dulu baru ke Baitullah, siapa yang bisa berangkat?”
Bapak Sanjari terdiam. Kata-kata kakaknya menusuk hatinya.
Namun keraguan belum hilang. Ia akhirnya memberanikan diri mendatangi seorang ustadz yang sangat ia hormati, Ustadz Karim.
“Ustadz… saya ini mendapat hadiah umroh. Tapi hati saya gelisah. Saya merasa belum pantas. Banyak dosa. Saya juga khawatir masalah biaya tambahan, oleh-oleh, syukuran… saya tidak punya cukup uang. Apa saya sebaiknya menolak?”
Ustadz Karim tersenyum bijak.
“Pak Sanjari, dengar baik-baik. Pertama, umroh adalah undangan Allah, bukan semata pilihan manusia. Kalau Allah sudah mengundang, jangan ditolak. Itu rahmat.”
“Hmm…” Bapak Sanjari mengangguk pelan.
“Kedua, rasa tidak pantas itu tanda kerendahan hati. Bagus. Tapi jangan sampai kerendahan hati menghalangi langkah menuju kebaikan. Itu hanya bisikan syaitan.”
Bapak Sanjari menunduk. Air matanya mulai mengalir.
“Ketiga, biaya utama sudah ditanggung. Jangan pikirkan oleh-oleh atau jamuan. Itu bukan kewajiban. Bekal secukupnya sudah cukup.”
“Tapi, Ustadz, bagaimana kalau keluarga dan tetangga bertanya oleh-oleh?”
“Pak Sanjari, yang wajib adalah ibadahnya, bukan oleh-olehnya. Jangan bebani diri dengan budaya yang tidak diwajibkan agama. Fokus pada ibadah.”
Ia makin terharu mendengarnya.
“Keempat, kesempatan ini belum tentu datang lagi. Bisa jadi ini panggilan pertama sekaligus terakhir. Mau menunggu apa lagi? Umur kita siapa yang tahu?”
“Betul juga, Ustadz…”
“Dan yang terakhir,” lanjut Ustadz Karim, “yakinkan hati. Allah akan mencukupkan semua kebutuhanmu. Kamu hanya perlu niat ikhlas. Jangan menolak rahmat Allah.”
Setelah pulang, Bapak Sanjari kembali berbicara dengan istrinya.
“Bu, tadi Ustadz Karim memberi banyak nasehat. Saya jadi teringat… benar juga. Ini undangan Allah. Kalau saya menolak, berarti saya menolak rahmat-Nya.”
Istrinya tersenyum. “Alhamdulillah. Nah, sekarang Bapak sudah lebih tenang, kan?”
“Iya, Bu. Saya jadi ingat, banyak orang berdoa seumur hidup ingin ke Baitullah, tapi tidak semua mendapat kesempatan. Kenapa saya harus menolak?”
“Betul, Pak. Justru Bapak harus bersyukur.”
“Baiklah, Bu. Saya akan terima dengan ikhlas. Saya akan berangkat. Mohon doanya ya, Bu.”
“Insya Allah, saya akan selalu mendoakan Bapak. Semoga perjalanan Bapak penuh keberkahan.”
Hari-hari berikutnya, Bapak Sanjari mulai mempersiapkan diri. Ia mulai membaca tuntunan dan rara cara umroh, belajar tata cara ibadah dari pembimbing. Ia juga banyak membaca buku kecil tentang doa-doa.
Rekan kerjanya, Pak Hadi, menyalaminya.
“Pak Sanjari, luar biasa ya Bapak dapat hadiah umroh. Tolong doakan saya juga ya, semoga suatu saat bisa menyusul.”
“Insya Allah, Pak Hadi. Saya doakan semua teman-teman bisa ke sana juga.”
Walaupun hari keberangkatan masih lama. Setiap malam sebelum berangkat, Bapak Sanjari shalat tahajud dengan penuh khusyuk. Air matanya membasahi sajadah.
“Ya Allah… terima kasih Engkau beri aku kesempatan ini. Aku tahu aku bukan orang terbaik, tapi Engkau memilihku. Aku yakin, Engkau tidak akan memanggil kecuali Engkau siapkan segalanya. Aku serahkan semuanya pada-Mu.”
Akhirnya, dengan hati yang tenang dan penuh keyakinan, Bapak Sanjari berniat untuk berangkat bersama rombongan umroh. Wajahnya kini berbeda. Tidak ada lagi keraguan. Yang ada hanyalah keyakinan penuh bahwa Allah akan mencukupkan segalanya.
“Doakan saya ya. Saya berangkat bukan hanya untuk diri saya, tapi juga untuk keluarga, teman, dan semua yang saya cintai.”
Kembali istrinya tersenyum sambil menahan tangis haru.
“Insya Allah, Pak. Semoga Allah menjaga Bapak. Semoga ibadah Bapak diterima.”
Dan dengan niat mantap, Bapak Sanjari meyakinkan hatinya ia yakin:
“Allah pasti memberi jalan. Aku hanya perlu ikhlas dan berserah diri.”