Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Dulu, saya membaca hadits itu sebagai kalimat yang indah. Belum terasa berat. Belum ada tanggung jawab yang menggantung di setiap katanya. Namun sekarang, setelah bertahun-tahun duduk di lantai bersama anak-anak kecil yang belum fasih menyebut huruf Ba, barulah saya mengerti bahwa mengajar bukan soal apa yang kita sampaikan. Mengajar adalah soal apa yang kita tinggalkan di dalam hati seseorang.
Saya mulai mengajar ngaji saat masih berseragam putih-biru, di bangku MTs. Yang ada di kepala saya waktu itu hanya satu rasa: tidak pantas. Siapa saya? Seorang anak yang ilmunya masih setengah matang. Tapi saya melihat sesuatu yang tidak bisa saya abaikan. Kakak dan ibu saya kewalahan. Rumah Al-Qur’an kami dipenuhi anak-anak yang ingin belajar, sementara tenaga pengajar tidak sebanding. Kakak saya menyodorkan buku-buku tajwid dan berkata bahwa saya sudah cukup. Saya tidak sepenuhnya percaya kala itu. Tapi saya memilih untuk percaya pada kepercayaannya.
Ada satu hal yang sejak awal sudah saya putuskan: saya tidak akan meminta bayaran. Bukan karena tidak membutuhkan. Tapi karena saya melihat kenyataan yang tidak bisa saya pura-pura tidak tahu. Banyak anak belum mengenal Al-Qur’an bukan karena tidak mau belajar, melainkan karena orang tua mereka tidak sanggup membayar guru ngaji. Ada ibu-ibu yang menatap anaknya dengan rasa bersalah yang diam, karena mereka sendiri tidak bisa mengaji. Mereka menitipkan harapan tanpa kata. Dan saya ingin menjadi tempat di mana harapan itu aman.
Mengajar anak-anak kecil itu tidak selalu mudah. Ada yang menangis di menit pertama. Ada yang berlari ke sudut ruangan. Ada yang menatap saya seolah bertanya, “Kenapa kita harus di sini?” Maka saya belajar: sebelum mengajarkan huruf, saya harus mengajarkan rasa aman. Saya datang bukan dengan target dan tuntutan, tapi dengan kisah para Nabi yang dikemas menjadi permainan, suara yang pelan, dan senyum yang tidak dibuat-buat. Perlahan, anak-anak itu mulai datang dengan wajah berbeda. Mereka mulai menunggu. Dan itu, bagi saya, jauh lebih berharga dari nilai ujian mana pun.
Inilah yang saya sebut spiritualitas dalam pendidikan. Bukan sekadar mengajarkan doa dan ritual. Spiritualitas dalam mendidik adalah ketika seorang guru hadir dengan seluruh dirinya, bukan hanya pengetahuannya. Ketika ia mengajar bukan karena terpaksa, melainkan karena ada panggilan yang berbisik dari dalam. Ketika setiap murid diperlakukan sebagai amanah, bukan beban. Inilah energi tak kasat mata yang membuat sebuah kelas terasa berbeda. Yang membuat seorang siswa pulang dan merasa, hari ini ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya.
Karakter tidak lahir dari hafalan dan ulangan. Ia tumbuh dari apa yang dirasakan seseorang hari demi hari. Anak yang belajar dalam suasana kasih sayang akan tumbuh dengan kemampuan menyayangi. Anak yang diajari oleh seseorang tanpa pamrih akan belajar, meski tanpa kata-kata, bahwa memberi tidak selalu butuh hitungan. Anak yang tidak pernah dimarahi meski berkali-kali salah akan paham bahwa kesalahan bukan aib, melainkan jalan menuju paham. Semua itu adalah pendidikan karakter yang jujur, karena ia bukan diajarkan, melainkan dihidupi.
Ada satu momen yang selalu saya ingat ketika lelah menyapa. Suatu siang, saya berpapasan dengan murid lama saya. Usia kami hanya berbeda dua tahun. Tapi dengan mata berbinar ia menoleh ke temannya dan berkata, “Dia guru ngajiku dulu.” Saya terdiam. Ada rasa malu yang naik ke dada karena saya merasa jauh dari layak disebut guru. Tapi ada sesuatu yang lebih hangat dari itu, yang sulit diberi nama, yang membuat mata saya memanas. Rupanya, saya meninggalkan sesuatu yang cukup berharga untuk diingat.
Dan saya ingat pula seorang ibu yang datang dengan mata sudah basah sebelum sempat berkata-kata. Ia bilang, berkat saya, anaknya kini mengenal ayat-ayat Al-Qur’an. Ia tidak sanggup membayar guru ngaji. Ia pun tidak bisa mengaji, sehingga tidak bisa mengajari anaknya sendiri. Selama ini ia hanya bisa berdoa. Momen itu mengajarkan saya bahwa kehadiran seorang pendidik kadang bukan hanya mengubah hidup seorang anak. Ia mengubah hidup seluruh keluarga.
Saya percaya bahwa pendidikan tanpa spiritualitas akan kehilangan rohnya. Ia mungkin masih bisa berjalan, menghasilkan angka, ijazah, dan gelar. Tapi ia tidak akan mampu menghasilkan manusia yang utuh. Manusia yang tahu mengapa ia belajar. Manusia yang memahami bahwa ilmu adalah amanah, bukan sekadar alat. Kita tidak kekurangan kurikulum, tidak kekurangan metode. Yang sering kali kita kekurangan adalah guru-guru yang mengajar dengan jiwa yang masih hidup.
Di bulan Ramadan yang mulia ini, saya ingin mengajak seluruh pendidik untuk sejenak bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita mengajar? Jika jawabannya goyah, mungkin inilah saatnya kembali ke akar. Kembali ke alasan pertama yang membuat kita memilih jalan ini. Karena ketika seorang guru mengajar dengan hati yang ikhlas, murid-muridnya tidak hanya menerima ilmu. Mereka menerima sesuatu yang akan terus hidup bahkan setelah kelas berakhir dan nama kita terlupakan.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad). Saya bukan guru terbaik. Saya mahasiswa yang masih terus belajar, yang masih sering merasa tidak cukup. Tapi saya percaya pada kekuatan niat yang lurus. Bahwa setiap huruf yang diajarkan dengan ikhlas, setiap nilai yang ditanamkan dengan sabar, akan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh melampaui apa yang bisa kita bayangkan. Di situlah, diam-diam, karakter sebuah generasi dibentuk. Bukan oleh sistem. Tapi oleh manusia yang mau hadir, dengan sepenuh hati, untuk manusia lainnya.






