Oleh: Luthfi Azizan
Di sebuah negeri yang selalu riuh dengan suara bel sekolah dan hiruk-pikuk buku pelajaran, kita dibesarkan dengan sebuah ritual yang baku: Belajar dulu, baru ujian. Kita dijejali rumus, hafalan, dan teori, seolah-olah hidup adalah soal pilihan ganda yang jawabannya sudah tersedia di halaman terakhir buku. Kemudian, tibalah sebuah kertas tebal bernama Ijazah, yang seolah menyatakan: Perjuangan selesai. Kau lulus.
Namun, di luar pagar sekolah, di rimba nasib yang sesungguhnya, ritmenya terbalik, bahkan terkesan kejam: Ujian dulu, baru belajar. Hidup melemparkan persoalan tanpa pemberitahuan, tanpa kisi-kisi, tanpa guru yang siap membimbing di setiap langkah. Kita dipecat sebelum sempat belajar manajemen krisis, kita ditinggal pergi sebelum sempat belajar ikhlas, kita disakiti sebelum sempat belajar memaafkan.
Maka, ijinkan saya menggugat ijazah-ijazah kertas yang bertumpuk rapi di lemari. Karena sesungguhnya, ada “Ijazah Sejati” yang dikeluarkan oleh “Sekolah Kehidupan”, dan kita adalah murid abadinya.
Baca Juga: Mengapa Absensi Bukanlah Nilai Akhir
Ijazah Kertas dan Kecemasan Sarjana Muda
Kita sering mengira bahwa setelah melibas deretan mata pelajaran dan mengumpulkan nilai A, tamatlah riwayat perjuangan kita. Illusioni ini, yang diciptakan oleh sistem pendidikan formal, adalah salah satu kesalahpahaman terbesar generasi ini.
Sekolah sering kali menyiapkan kita untuk dunia yang ideal di buku, untuk persoalan yang jawabannya sudah ada di lampiran soal. Namun, dunia nyata adalah rimba beton yang brutal, penuh dengan “ujian mendadak” yang datang tanpa peringatan. Para sarjana muda yang gagah perkasa dengan ijazah tebalnya, seringkali gagap menghadapi “ujian lapangan”: mencari kerja, menghadapi penolakan, atau bahkan sekadar mengelola keuangan pribadi.
Mereka ibarat pelaut yang mahir teori navigasi di kolam renang, namun limbung tak berdaya ketika dihadapkan pada badai samudra yang sesungguhnya. Ijazah kertas adalah penanda bahwa kita sudah memenuhi syarat, tapi bukan jaminan bahwa kita sudah “lulus” dari pahitnya hidup.
Guru Tanpa Gelar, Kelas Tanpa Dinding
Di sinilah kearifan seorang Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bergema, seolah mempertegas apa yang pernah diucapkan filsuf pendidikan Amerika, John Dewey, bahwa “Education is not preparation for life; education is life itself.” (Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri). Dewey menggarisbawahi bahwa belajar dan hidup adalah satu kesatuan, tak terpisahkan, sebuah proses abadi.
Cak Nun, dalam banyak kesempatan, terutama yang kerap ia sampaikan melalui forum Maiyah-nya, mengajak kita pada sebuah pemahaman yang sama: Hidup itu sendiri adalah sekolah kita yang terbesar. Setiap interaksi, setiap masalah, setiap tawa dan tangis adalah bagian dari kurikulum yang harus kita jalani. Konsep ini bisa kita selami lebih dalam dalam buku-bukunya, seperti “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai” atau kumpulan esai “Markesot Bertutur”, di mana ia selalu menekankan pentingnya belajar dari realitas, dari pengalaman, dari kebijaksanaan orang-orang di sekitar kita, tanpa perlu “sertifikasi” resmi. Hidup adalah proses sinau bareng, sebuah learning by doing yang tak pernah usai.
Pertegaslah kontras ini: di sekolah kehidupan, Ujian Dulu, Baru Pelajaran.
Seorang pedagang kecil, misalnya, belajar tentang ekonomi, manajemen risiko, dan psikologi konsumen bukan dari teori pasar modal di bangku kuliah, melainkan dari pasang surut dagangannya di terik matahari, dari senyum pelanggan yang puas, atau dari pahitnya kerugian. Seorang ibu, belajar kesabaran, empati, dan multi-tasking bukan dari seminar parenting berbayar, melainkan dari tangisan anaknya di tengah malam, dari ceceran makanan di lantai, atau dari tatapan penuh cinta yang memaafkan setelah sebuah kemarahan.
Ini adalah “ujian mendadak” yang datang tanpa bocoran soal, tanpa pengawas, namun pelajaran yang didapat jauh lebih berharga daripada semua teori di buku. Guru-guru terbaik kita adalah kegagalan, kehilangan, perjuangan, dan orang-orang di sekitar kita yang tak pernah punya gelar, namun kaya akan kebijaksanaan.
Jejak Kaki Para Murid Abadi: Kurikulum Karakter
Di “Sekolah Kehidupan” ini, mata pelajaran utama bukanlah Matematika atau Fisika. Kurikulum utamanya adalah Karakter: kejujuran yang tak tergoyahkan, ketangguhan yang tak kenal menyerah, empati yang tulus, dan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap tikungan takdir.
Seringkali, karakter inilah yang paling luput dari “nilai A” di sekolah formal. Padahal, justru inilah bekal utama kita menaklukkan rimba nasib.
Maka, “ijazah sejati” bukanlah secarik kertas yang kita pajang di dinding. Ijazah sejati adalah:
- Bekas luka, di hati yang telah sembuh, bukti bahwa kita pernah jatuh tapi mampu bangkit.
- Kearifan, di mata yang telah melihat banyak hal, bukti bahwa kita telah belajar dari kesalahan.
- Ketulusan, dalam setiap tindakan, bukti bahwa kita tetap manusia di tengah dunia yang kejam.
- Kebahagiaan, yang ditemukan dari proses, bukan hanya dari hasil akhir.
Ijazah sejati adalah bukti otentik ketangguhan jiwa kita.
Hingga jeda terakhir, kita tetaplah murid.
Maka, jangan pernah merasa cukup belajar. Jangan pernah merasa “lulus” dari kehidupan. Karena di Rimba Nasib ini, di bawah langit yang sama, saat kita mengira telah memegang Ijazah Sejati dari satu mata pelajaran, sesungguhnya Tuhan baru saja membuka halaman pertama dari mata pelajaran berikutnya.
Mari kita rangkul setiap ujian sebagai berkah, setiap kegagalan sebagai buku teks yang berharga, dan setiap hari sebagai bab baru dalam “Kitab Kehidupan” kita yang tak akan pernah tamat.
Karena sesungguhnya, kita semua adalah murid abadi, di kelas tanpa dinding, hingga hela napas terakhir. Dan di situlah kemuliaan pendidikan sejati ditemukan. Wallahu a’lam bishawab.







