Pertemuan antara budaya lisan dan tulisan telah selalu menjadi arena diskusi yang dinamis dalam sejarah manusia. Kedua metode menyampaikan pengetahuan ini bukan sekadar dua media yang berbeda, tetapi juga dua cara yang berlawanan untuk memahami dan melihat dunia. Tradisi lisan adalah warisan tertua, sebuah cara yang memberikan kesempatan bagi manusia untuk menyampaikan nilai-nilai, cerita, dan identitas secara turun-temurun melalui ucapan, pertunjukan, dan keadaan sosial. Di sisi lain, budaya tulis memperkenalkan kejelasan, dokumentasi, serta kemampuan untuk melintasi waktu dan ruang yang lebih luas. Ketika kedua tradisi ini saling bertemu, terjadi perubahan dan transformasi dalam cara manusia mengingat, belajar, dan membangun peradaban.
Menurut Walter J. Ong, tradisi lisan menciptakan pola pikir yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat yang berbudaya tulis. Dalam masyarakat yang bergantung pada lisan, ingatan memiliki sifat yang formulaik dan berulang, karena pengetahuan harus dihafal dan ditampilkan. Cerita rakyat, mantra, pepatah, dan lagu tradisional dirancang agar mudah diingat. Ini sejalan dengan pandangan Ruth Finnegan yang menegaskan bahwa tradisi lisan tidak dapat dipisahkan dari cara pertunjukan; ia hidup dalam konteks sosial dan memiliki makna hanya saat diucapkan. Dalam tradisi ini, kata-kata tidak hanya sebagai representasi, tetapi juga sebagai peristiwa itu sendiri.
Sementara itu, budaya tulis memperkenalkan cara baru untuk memahami bahasa dan pengetahuan. Jack Goody menekankan bahwa tulisan mengubah pola pikir manusia dengan memberikan kemampuan untuk melakukan analisis, abstraksi, dan memisahkan penulis dari pembaca. Tulisan menawarkan stabilitas, karena apa yang ditulis dapat diakses kembali oleh generasi berikutnya tanpa banyak perubahan. Namun, stabilitas ini juga menciptakan jarak emosional yang berbeda dibandingkan dengan fleksibilitas dalam tradisi lisan. Di sinilah terletak pertemuan yang menarik: saat masyarakat yang kaya dengan tradisi lisan memasuki dunia tulisan, terjadi negosiasi antara kelenturan dan ketetapan, antara suara dengan tulisan.
Pertemuan antara keduanya tidak selalu bersifat linier. Di sejumlah masyarakat, seperti di Indonesia, tradisi lisan tidak lenyap dengan kehadiran tulisan; sebaliknya, keduanya berfungsi berdampingan. Jan Vansina, seperti yang dikutip oleh Danandjaja, mengungkapkan bahwa tradisi lisan sering kali menjadi sumber sejarah yang penting di wilayah yang memiliki sedikit dokumentasi tulisan. Ini menunjukkan bahwa tulisan tidak menggantikan lisan, tetapi justru melengkapinya. Dalam konteks tertentu, tulisan bahkan berfungsi sebagai alat untuk menjaga tradisi lisan.
Contohnya, banyak cerita rakyat Nusantara baru ditulis secara resmi pada abad ke-20, seperti dalam kumpulan dongeng yang disusun oleh Danandjaja. Sebelum tulisan, cerita ini beredar secara lisan dan bervariasi sesuai konteks para penuturnya. Variasi tersebut tidak dilihat sebagai penyimpangan, melainkan bagian dari sifat tradisi lisan yang adaptif. Ketika akhirnya ditulis, cerita-cerita ini menjadi lebih mudah untuk dipelajari dan dianalisis, namun pada saat yang sama mengalami pembekuan bentuk. Ini adalah paradoks dari pertemuan antara tradisi lisan dan tulisan: yang hidup menjadi statis, dan yang berubah menjadi tetap.
Marshall McLuhan menyatakan bahwa setiap bentuk media membentuk cara berpikir manusia. Dengan kemunculan budaya tulis, manusia mulai memasuki era visual yang lebih dominan, menggantikan kekuasaan oral. Namun, di era digital saat ini, kita menyaksikan apa yang disebut Ong sebagai “oralitas sekunder” – kembalinya gaya komunikasi lisan lewat medium digital. Notifikasi suara, video pendek, podcast, dan percakapan daring menghidupkan kembali ritme lisan. Dengan demikian, pertemuan antara tradisi lisan dengan budaya tulis terjadi, baik dalam konteks sejarah maupun dalam konteks teknologi modern.
Fenomena ini tampak jelas di dunia media sosial. Gaya bahasa yang digunakan biasanya singkat, penuh emosi, dan menyerupai cara berbicara. Di sisi lain, meski platform digital tetap mengandalkan teks sebagai bentuk komunikasi utama, suara dan gambar tetap menyertainya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya tulisan tidak menghapus elemen lisan dari manusia; sebaliknya, ia mendukung munculnya bentuk oralitas baru. Penggunaan bahasa yang tidak formal, singkatan, pengurangan kata, serta ungkapan vokal yang diperpanjang seperti “keren bangeeet” atau “ayo cepet plisss~” menjadi bukti hidupnya kembali unsur lisan dalam medium yang berbasis tulisan.
Selain itu, tradisi lisan dan tulisan juga saling bertemu dalam konteks pendidikan dan budaya. Menurut Pudentia (2008), tradisi lisan tidak bisa dianalisis tanpa memperhatikan konteks sosial, bahasa, dan cara penyampaiannya. Saat tradisi lisan ditulis untuk tujuan penelitian, unsur pertunjukan seringkali hilang. Contohnya, ketika pantun atau mantra dicatat dalam buku, nada suara, gerakan tubuh, dan suasana ritual tidak terangkut. Tulisan hanya menyimpan rangkaian kata, tanpa menangkap pengalaman sosialnya. Namun, tanpa adanya tulisan, tradisi lisan berisiko punah. Inilah misteri yang terus menjadi topik perdebatan dalam kajian budaya.
Pertemuan antara tradisi lisan dan budaya tulisan sebenarnya memberikan kesempatan bagi keduanya untuk saling memperkaya. Teks bisa menjadi tempat untuk melestarikan tradisi lisan, sedangkan tradisi lisan memungkinkan tulisan untuk dihidupkan kembali melalui beberapa cara yang lebih kreatif dan ekspresif. Gabungan keduanya dapat terlihat dalam bentuk-bentuk baru seperti novel lisan, cerpen berdasarkan dongeng, atau dokumentasi digital dari tradisi pertunjukan.
Di zaman sekarang, masyarakat semakin menginginkan pengalaman komunikasi yang lebih pribadi, sehingga elemen lisan menjadi semakin penting. Podcast, video naratif, dongeng digital, dan storytelling adalah bentuk baru di mana lisan muncul kembali dalam tulisan dan teknologi. Finnegan (1992) juga menekankan bahwa tradisi lisan tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya berubah mengikuti zaman.
Dengan begitu, pertemuan antara tradisi lisan dan budaya tulisan bukanlah tentang siapa yang lebih unggul, melainkan tentang bagaimana manusia dapat mempertahankan dua cara untuk memahami dunia secara bersamaan. Lisan memberikan kehangatan, spontanitas, dan kedekatan emosional; tulisan menawarkan kepastian, dokumentasi, dan analisis mendalam. Keduanya diperlukan untuk membangun peradaban yang berkelanjutan.
Dalam era digital ini, hubungan keduanya memasuki dimensi baru: tidak lagi dualisme, melainkan simbiosis. Lisan dan tulisan kini tidak berdiri terpisah, tetapi saling menghidupkan satu sama lain. Tradisi lisan menemukan platform baru untuk tumbuh, sementara budaya tulisan memperoleh kembali energinya melalui pengaruh gaya berbicara digital. Dalam interaksi ini, identitas budaya tidak hanya bertahan, tetapi juga berevolusi.







