Aku tidak pernah datang ke kota ini dengan niat mencari pasangan hidup. Seperti kebanyakan orang, aku datang membawa urusan yang lebih masuk akal: kuliah, pekerjaan, dan rencana-rencana kecil tentang masa depan. Kota ini terlalu ramai untuk urusan perasaan, terlalu cepat untuk romansa yang ingin tumbuh perlahan. Setidaknya, itu yang aku pikirkan sebelum akhirnya bertemu dengannya.
Pertemuan kami tidak istimewa, bahkan cenderung biasa saja. Tidak ada momen dramatis yang layak dikenang banyak orang. Hanya percakapan ringan yang mengalir tanpa rencana, lalu berlanjut ke obrolan-obrolan berikutnya. Di kota yang penuh dengan wajah baru setiap hari, ia awalnya hanyalah satu dari sekian banyak orang yang lewat. Tapi entah sejak kapan, kehadirannya mulai terasa berbeda. Kota yang biasanya bising mendadak terasa lebih tenang ketika bersamanya.
Kota ini sering membuat orang merasa sendirian. Dikelilingi banyak manusia, tapi tidak selalu merasa dipahami. Aku pun begitu. Rutinitas yang padat membuat hari-hari berjalan cepat tanpa banyak ruang untuk benar-benar berhenti. Namun bersamanya, waktu seolah sedikit melambat. Kami bisa berbincang lama tanpa merasa dikejar apa pun. Dari hal-hal ringan hingga obrolan yang lebih dalam, semua terasa wajar, tidak dipaksakan. Di tengah kota yang serba cepat, ia hadir dengan ritme yang menenangkan.
Aku mulai menyadari bahwa perasaan ini berbeda ketika kota ini tak lagi hanya soal tujuan, tetapi juga tentang pulang. Bukan pulang ke tempat, melainkan pulang ke seseorang. Di antara gedung-gedung tinggi dan jadwal yang padat, ada satu orang yang membuatku ingin bercerita tentang hari yang melelahkan, tentang kegagalan kecil, dan tentang mimpi-mimpi yang masih ragu untuk diucapkan. Kota ini memberi banyak hal, tapi ia memberi makna.
Hubungan kami tumbuh tanpa tergesa-gesa. Tidak ada tuntutan untuk selalu bersama, tidak ada drama yang berlebihan. Kami sama-sama sibuk, sama-sama punya dunia sendiri. Justru dari situlah rasa saling menghargai tumbuh. Kota ini mengajarkan kami bahwa waktu adalah hal berharga. Maka setiap pertemuan, sekecil apa pun, selalu kami jaga. Tidak harus lama, yang penting hadir sepenuhnya.
Aku mengenalnya sebagai perempuan yang sederhana, tapi teguh. Ia tahu apa yang ia inginkan, tapi tidak memaksakan. Ia bisa berdiri sendiri di kota ini, dengan mimpi dan usahanya sendiri. Mungkin itulah yang membuatku yakin. Di kota yang sering membuat orang kehilangan arah, ia justru tahu ke mana ia melangkah. Bersamanya, aku tidak merasa harus menjadi orang lain. Aku cukup menjadi diriku sendiri.
Ada masa ketika kami diuji jarak, kesibukan, dan rencana hidup yang belum sepenuhnya sejalan membuat kami harus banyak berbicara. Kota ini tidak selalu ramah pada hubungan. Ia menuntut fokus, waktu, dan energi. Tapi dari situlah aku belajar bahwa pasangan hidup bukan tentang selalu bersama, melainkan tentang bertahan dan bertumbuh di tengah kesibukan. Tentang memilih untuk tetap pulang, meski lelah. Perlahan, kota ini berubah makna. Jalan-jalan yang dulu hanya kulalui kini menyimpan cerita. Tempat-tempat sederhana menjadi saksi obrolan panjang dan keputusan-keputusan kecil. Kota yang awalnya terasa asing kini terasa akrab. Bukan karena aku hafal sudut-sudutnya, tapi karena aku menjalaninya bersamanya. Kota ini tidak lagi hanya ruang transit, melainkan ruang hidup. Aku tahu, cinta di kota tidak selalu diberi kepastian yang mudah. Banyak orang datang dan pergi. Banyak cerita berhenti di tengah jalan. Tapi bersamanya, aku belajar bahwa keyakinan tumbuh dari hal-hal kecil yang konsisten. Dari cara ia mendengarkan, dari cara ia hadir, dan dari caranya memandang masa depan tanpa berlebihan, tapi juga tanpa takut. Menemukan pasangan hidup di kota ini bukan soal menemukan seseorang yang sempurna. Kota ini terlalu nyata untuk kesempurnaan. Ini soal menemukan seseorang yang mau berjalan bersama, menyesuaikan langkah, dan saling menguatkan. Seseorang yang membuat segala hiruk-pikuk terasa lebih bisa dihadapi. Kini, ketika aku berjalan di kota ini, aku tidak lagi merasa sendirian. Kota ini masih ramai, masih cepat, dan masih melelahkan. Tapi ada rasa tenang yang tidak dulu aku punya. Aku tahu, di tengah segala kemungkinan dan ketidakpastian, aku telah menemukan seseorang yang ingin kutuju setiap hari. Dan mungkin, itulah arti menemukan pasangan hidup di kota ini. Bukan tentang kisah cinta yang besar dan sempurna, melainkan tentang menemukan satu orang yang membuat kota ini terasa seperti tempat untuk menetap.







