Lapar yang Tertidur

Setelah salat magrib, aku mengambil buku antologi cerpen lalu duduk di sofa hitam dengan membaca buku itu. Perut rasanya keroncongan seperti orator yang menyuarakan keadilan di depan gedung DPR. Aku tetap fokus membaca buku. Di sampingku, istriku duduk sambil menonton sinetron favoritnya. Sengaja mulutku terbungkam walau kenyataan perutku mendemo. Terdengar suara istri memanggilku, “Mas, bangun dari magrib sampai isya masih tidur”.

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *