Mayra Gadis Kecil Bersuara Indah
Mayra adalah seorang gadis kecil berusia delapan Tahun, Mayra memiliki kulit sawo matang khas Indonesia ,berambut ikal sebahu dengan mata sayu kecoklatan. Mayra memiliki postur tubuh yang cukup mungil jika di banding dengan beberapa teman sebayanya.
Mayra cukup pendiam ,kebiasaan dia di sekolah ketika istirahat adalah menghabiskan waktu di kelas sambil memakan bekal yang di bawakan oleh sang Ibu.
Mayra tidak memiliki banyak teman namun dia memiliki dua orang sahabat yang sangat menyayanginya,Cika dan Rara.Cika dan Rara selalu menemani Mayra ,mereka adalah “Penjaga “ Bagi Mayra. Mayra yang berbadan mungil terkadang mendapat perlakuan yang kurang baik dari beberapa anak yang mengoloknya. Namun Cika dan Rara selalu meyakinkan Mayra untuk tidak merasa bersedih.
Suara kokok ayam dan kicau burung mulai terdengar dari luar jendela kamar Mayra. Hari sudah pagi,pukul 05.00 Mayra sudah bangun ,dia bergegas pergi ke kemar mandi untuk Mandi dan berwudhu. Mayra anak yang tekun beribadah.
“ Na..Na..Na..Na…” Suara Mayra terdengar dari dalam kamar,Usai Shalat Subuh Mayra membantu ibu merapikan kembali tempat tidurnya sambal bersenandung merdu.
Suara Mayra terdengar hingga ke ruang makan. “ Mayra,,ayo sarapan” ! Seru sang ayah memanggil putri kecilnya.
“ Baik yah…”!! Mayra menyahur sembari berlari kecil menuju ruang makan sederhana yang tertata begitu asri. Ruang makan keluarga Mayra menghadap ke sebuah jendela besar ,terlihat kebun kecil milik Ibu yang begitu asri dan terawat.
“ wah… nasi goreng telur !” mata indah Mayra berbinar melihat menu sarapan pagi yang di hidangkan sang Ibu. “ Mayra suka ibu !” lanjut Mayra sambal menyodorkan piring kecilnya kepada ibu.
Di sebelah Mayra ayah hanya tersenyum kecil melihat tingkah putri kecilnya yang ceria itu.
Usai bersarapan Mayra dan ayah bersiap pergi ke sekolah ,Ayah Mayra bekerja di sebuah perusahaan swasta yang ada di kota. Sedang Sang ibu adalah seorang penjahit.
“ Assalamualiakum ibu…” ! Mayra mencium tangn sang ibu kemudian naik motor berboncengan dengan sang Ayah.
Sebenarnya jarak rumah Mayra dengan sekolah tidak terlalu jauh,hanya sekitar 10 Menit jika berjalan kaki, namun karena tempat sang Ayah bekerja searah dengan sekolah Mayra maka setiap hari Mayra berangkat bersama ayahnya.
Tiba di sekolah Mayrra berpamitan kepada sang Ayah. Cika dan Rara telah menunggu Mayra d gerbang,mereka menyapa Mayra lalu mengajak Mayra berlari kecil ke depan perpustakaan. Sampai di sana ada sebuah papan pengumuman bertuliskan
Lomba Benyanyi Tunggal Antar Sekolah
Sebuah pengumuman ditempel di Mading sekolah.
Cika dan Rara meminta Mayra mengikuti lomba tersebut.Namun Mayra tidak menjawab dan kemudian bergegas masuk kelas.
Di kelas Ibu Ratih Wali kelas mengumumkan lomba tersebut ,dan kelas sepakat agar Mayra mau mewakili sekolahnya untuk ikut lomba. Mayra memang belum pernah mengikuti lomba menyanyi ,namun nilai tugas bernyanyi Mayra selalu bagus.
“ KRING… “ Sekolahpun masuk. Hari itu berjalan seperti biasa.
Seperti biasa 3 sahabat ini pulang berjalan kaki bersama karena jarak rumah mereka berdekatan.
Lihat kebun ku penuh dengan buah…
Na..Na.. Na… Na…
Suara indah Mayra terdengar dari kebun kecil di samping rumahnya. Mayra sedang membantu ibu memanen beberapa sayuran yang di taman Sang ibu.
Mayra senang bernyanyi ,namun Mayra merasa rendah diri karena tubuhnya yang mungil dan sering mendapat olok-olok dari beberapa temannya yang tidak baik.
Sambil membantu sang Ibu Mayra bercerita bahwa akan ada lomba bernyanyi antar sekolah, dan Mayra di pilih untuk mewakili sekolahnya.
Selama ini Mayra tidak percaya diri karena dia memiliki tubuh mungil.
“ Selamat Pagi Anak-Anak ! “ Suara Ibu Ratih memasuki kelas , Anak – anak segera duduk di bangku mereka masing-masing.
“ Selamat pagi bu ! “ sahut anak-anak serempak.
Rara selaku ketua kelas memimpin doa sebelum belajar. Anak –Anak berdoa dengan tertib dan khusuk.
“ Anak-anak ,apakah kalian sudah membaca pengumuman yang ada di madding sekolah ?” Ibu Ratih membuka kelas dengan seamangat.
Sejenak suasana kelas sedikit berisik, Anak-anak salinh bertanya dengan teman yang ada di dekat tempat duduknya.
“Sudah Bu ! “ Caca menjawab pertanyaan Ibu Ratih .
“ Baik ,kalua yang lain bagaimana ? “ Lanjut ibu Ratih.
“ Rara juga sudah membaca bu ,dan Rara mengusulkan Mayra mewakili kelas kita untuk ikut lomba tersebut” Rara juga bersuara. Rara di kenal cukup tegas dan disegani teman –teman di kelasnya.
“ Mayra ? “ Bu Ratih melihat ke arah Mayra sambal tersenyum hangat.
“ Iya bu,,,” Mayra menjawab dengan suara ragu.
Ibu Ratih menghampiri Mayra yang duduk di bangku ke dua dari depan.
“ Apakah Mayra bersedia mewakili kelas kita ? “ Ibu Ratih melanjutkan pertanyaannya ,kali ini dengan nada yang lebih lembut.
Mayra mengangguk pelan. “ Tapi Mayra tidak yakin bu “ suara Mayra ragu.
Ibu ratih kembali ke depan kelas , lalu mengajak anak-anak untuk voting apakah setuju kalua Mayra mewakili kelasnya untuk ikut seleksi lomba menyanyi. “ Anak-anak, yang setuju Mayra untuk ikut lomba angkat tangan ! “ Bu ratih bertanya dengan penuh semangat. Seluruh kelas mengankat tangannya tanda mereka semua mendukung Mayra. Mayra memang di kenal memiliki suara yang bagus, meskipun ini adalah lomba pertamanya namun jika ada tugas menyanyi Mayra selalu mendapat nilai baik.
Hari yang dinanti tiba ,Mayra mengikuti seleksi lomba menyanyi di sekolahnya. Mayra ditemani dua sahabatnya Cika dan Rara.Mayra berhasil lolos seleksi mewakili sekolahnya untuk mengikuti kompetisi menyanyi tunggal. Mayra dan dua sahabatnya bersorak gembira. Bu Ratih memberi selamat kepada Mayra dan meinta Mayra untuk lebih giat berlatih menyanyi.
Hari-hari Mayra berlatih bernyanyi bersama sang Ayah. Ayah Mayra cukup piawai memainkan alat music gitar. Mayra semakin percaya diri. Ibu juga menguatkan Mayra agar lebih semangat lagi berlatih.
Suara mesin jahit ibu terdengar hingga larut malam. “ Ibu tidak tidur , ini sudah malam “ Suara ayah menghentikan deru mesin jahit ibu. “ Baju untuk Mayra lomba menyanyi kurang sedikit lagi selesai Yah “ Ibu berhenti menjahit dan menatap ayah sambal tersenyum.
Ibu sedang membuatkan gaun cantic berwarna Putih dengan aksen bunga-bunga kecil tersebar di seluruh gaun untuk Mayra. Gaun itu khusus di buat Ibu untuk Mayra tampil lomba esok hari. Gaun dengan panjang di bawah lutut memiliki model balon dan lengan sesiku dengan renda merah menghiasi ujung lengan membuat gaun putih buatan Ibu terlihat sangat indah. Ibu membuat gaun itu tanpa sepengetahuan Mayra. Gaun itu adalah hadiah dari ibu karena Mayra berhasil mengalahkan rasa tidak percaya dirinya.
Hari yang di nanti tiba . Mayra bangun lebih pagi hari ini . Pukul 04.30 subuh mayra sudah bangun. Ibu yang sedang di dapur sempat terkejut. “ Kamu sudah bangun nak ?” Tanya ibu.
“ Iya bu ,Mayra sudah bangun “ Mayra menjawab dengan nada penuh semangat. Mayra bergegas ke kamar mandi lalu shalat subuh.
Ketika Mayra sedang shalat Ibu pergi ke kamar Mayra membawa gaun putih cantik yang selesai di buat ibu semalam.
“ Ibu…! Wahhh… ini baju untuk Mayra kah ?” terdengar suara Mayra berteriak kegirangan ketika masuk kamar dan mendapati sebuah gaun indah tergantung di lemari bajunya.
“ Ibu… ! Mayra berlari kecil lalu memeluk erat sang ibu. “ Kenapa ? “ suara ibu menggoda Mayra. “ Ibu… ini gaun untuk mayra ?” Cantik sekali ! ibu yang menjahit sendiri ? “ Mayra terus berkata sambil berputar-putar mencoba gaun cantic yang begitu pas dipakai Mayra.
Ibu hanya tersenyum,” Iya itu gaun hadiah dari ayah dan ibu karena Mayra sudah berani “jawab ibu. “ terima kasih ibu !”Mayra kembali memeluk sang ibu.
Ayah hanya tersenyum sambal meminum kopi di meja makan. “ putri ayah cantik ! “ puji ayah membuat Mayra tersipu.
Mayra tiba d tempat lomba ,dia didampingi Bu Ratih ketika pergi berlomba. Ayah dan Ibu kebetulan masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
Mayra duduk bersebelahan dengan bu Ratih ,sesekali bu Ratih memegang tangan Mayra yang tampak cemas menunggu giliran dia di panggil ke atas pentas.
Tiba giliran Mayra di panggil untuk tampil. Mayra maju sambal memberi salam hormat kepada dewan juri dan beberapa undangan yang ada di deppan panggung. Gaun putih buatan Sang ibu terlihat sangat indah ,Rambut ikal Mayra cantic sekali hiasan dua jepit rambut berbentuk pita kecil membuat Mayra terlihat sangat lucu.
Mayra mulai menyanyi . Suara indah Mayra membuat suasana ruangan begitu hening ,seolah semua orang menikmati alunan lagu yang dibawakan Mayra. Hingga Mayra menyelesaikan lagunya dan terlihat d bangku kanan deretan paling depan ada ayah dan ibu yang ternyata sudah dating ,Bu Ratih memebri tepuk tangan sambal berdiri. Beberapa orang juga terlihat ikut berdiri , Mayra mendapat tepuk tangan paling meriah dari peserta lainnnya.
“ Hadirin yang terhormat ,tibalah saatnya saya akan mengumumkan pemenang lomba menyayi tunggal hari ini “ Suara MC memecah suasana yang tadinya sedikit riuh kembali tenang. Mayra terlihat gelisah. Ibu lalu menggengam tangan kecil Mayra sambal tersenyum.
“ May..!” suara kecil yang akrab di telinga Mayra tiba – tiba terdengar dari belakang. Mayra menoleh dan matanya berseri. “ Cika.. Rara “! Mayra senang sekali.Cika dan Rara dating ke tempat lomba di antar Mama Cika yang kebetulan tempatnya bekerja berdekatan dengan lokasi tempat Mayra lomba. Mayra terlihat kembali bersemangat dan lebih tenang.
“ Hadirin kita akan memanggil Juara 1 lomba bernyanyi tunggal antar sekolah dalam rangka HUT RI Ke-80 “ MC telah memanggil juara 2 dan 3.
“ Juara 1 di raih oleh… Ananda Mayra dari SDN Suka Damai “ ! MC membacakan juara 1, dan suara tepuk tangan dan sorak sorai terdengar di dalam ruangan. “ yeeee.. Mayra menang… !” Cika dan Rara berteriak kegirangan. Mayra masih terlihat terkejut. Dia menatap orang tuanya dan Bu Ratih seolah tidak percaya. “ Kamu Menang Mayra “ Ujar bu Ratih.
“ kepada juara 1,2 dan 3 dipersilahkan naik ke atas pentas “ Suara MC kembali terdengar.
“ Mayra.. ayo maju “ ! sang ibu memeluk hangat mayra tanda bahagia. Mayra pun maju. Langkahnya begitu terasa ringan, dia berjalan sambal sedikit melompat membuat gaun indahnya terlihat menari-nari. Mayra sangat bahagia.
Hari berlalu..
Pada saat upacara bendera di sekolah nama Mayra kembali di panggil untuk menerima apresiasi dari sekolah. Mayra membuat bangga sekolahanya. Sambal memberi apresiasi Pak Danang sang kepala sekolah memberikan sambutan kepada seluruh siswa. “ Anak-anak sekalian, di depan kita adalah contoh bagaimana jika kita mau berusaha maka kita akan memeproleh hasil yang maksimal. Mayra harus kalian jadikan motivasi bahwa apapun kondisi fisik seseorang adalah ciptaan Tuhan, Kita harus bersyukur dan tidak boleh saling mengolok. Karena setiap anak pasti memiliki kelebihan masing-masing, semangat semua ya anak-anakku ! “ Pak Danang menutup sambutannya dengan kalimat motivasi yang di sambut tepuk tangan dari para siswa.
Sejak hari itu Mayra menjadi anak yang sangat periang ,ramah , penuh percaya diri dan ceria.
Selesai