MENGAPA KITA MASIH BUTUH KELISANAN DI ERA SERBA TULIS

Di tengah kemajuan komunikasi digital, kita hidup dalam dunia yang penuh dengan teks: pesan singkat, caption , komentar, dan dokumen yang terus muncul di layar ponsel. Seolah-olah budaya menulis menjadi penguasa baru dalam kehidupan modern. Namun, jika kita memperhatikan lebih jauh, berbicara tetap ada. Kita masih berbicara , mendengar , berdiskusi, dan bercerita. Terlebih lagi, dalam banyak situasi, berbicara tetap penting untuk membangun hubungan, memahami informasi , dan menjaga kebudayaan masyarakat.Lalu mengapa berbicara masih dibutuhkan di era yang semuanya berbentuk tulisan? Jawabannya lebih dalam dari sekedar “karena kita butuh berbicara”. Berbicara adalah bagian yang tak terpisahkan dari sifat kemanusiaan kita—dan justru lebih penting ketika kehidupan semakin digital dan terasa jauh.Teknologi memungkinkan kita berkomunikasi dengan cepat , namun tidak selalu menciptakan kedekatan emosional . Teks sering kali terasa dingin, kurang bermakna, dan rawan salah paham. Meski emoji dan stiker bisa membantu, mereka tidak bisa menggantikan nada suara, intonasi , atau ekspresi wajah. Misalnya, ketika seseorang bertanya, “apa kabar ?” , nada suaranya bisa menunjukkan perhatian yang tulus, sesuatu yang tidak bisa disampaikan oleh teks “ apkbr ?” di layar ponsel . Percakapan langsung menghadirkan emosi, empati, dan nuansa yang tidak bisa diberikan oleh tulisan. Oleh karena itu, konflik sering kali lebih cepat selesai melalui percakapan langsung dibandingkan chat panjang yang mudah memicu salah tafsir. Dalam membangun hubungan , berbicara tetap menjadi jembatan yang paling kuat . Meskipun dunia digital identik dengan kecepatan, berbicara lebih cepat daripada menulis. Dengan berbicara, kita bisa menyampaikan ide panjang tanpa mengetik satu demi satu. Catatan suara ,telepon , dan panggilan video menunjukkan bahwa teknologi justru membangkitkan kembali kemampuan berbicara dalam bentuk yang lebih praktis. Banyak orang lebih suka menjelaskan hal penting lewat telepon daripada menulis banyak kalimat . Rapat virtual juga lebih efektif daripada mengirim email berlapis . Hal ini menunjukkan bahwa berbicara tetap menjadi pilihan ketika kita membutuhkan penjelasan yang cepat, singkat, dan jelas.Indonesia adalah bangsa yang memiliki tradisi berbicara yang kuat. Sebelum tulisan dikenal luas, cerita, nasehat , syair, dan pesan-pesan kehidupan disampaikan dari mulut ke mulut. Tradisi ini masih hidup hingga kini dalam berbagai bentuk seperti: pidato adat,ceramah ,pantun,dongeng,musyawarah desa ,dan pertemuan keluarga. Di berbagai daerah, keputusan penting tetap dibicarakan dalam forum lisan sebelum ditulis. Tradisi bercerita, berdiskusi, dan berkonsultasi adalah bagian dari identitas masyarakat kita. Berbicara bukan hanya alat komunikasi , tetapi juga warisan budaya yang mengikat komunitas.Masyarakat kita lebih percaya pada ucapan langsung, lebih banyak pembicaraan terbuka, dan merasa lebih dekat melalui percakapan pribadi . Tulisan bisa menyimpan pengetahuan, tetapi berbicara menjaga kehidupan budaya.Banyak orang yang lebih mudah memahami sesuatu ketika dijelaskan secara lisan daripada melalui teks panjang. Guru mengajar dengan berbicara, bukan hanya memberi teks. Ustadz, pendeta , dan tokoh masyarakat mengirimkan pesan moral melalui suara . Bahkan konten pendidikan di media sosial sering disampaikan dalam bentuk video , bukan artikel . Berbicara memberikan kesempatan untuk bertanya, menjelaskan ulang, atau memberikan contoh spontan. Fleksibilitas ini sulit ditemukan dalam tulisan. Itulah alasannya , meskipun informasihari ini banyak diterima melalui tulisan, pemahaman yang mendalam tetap bergantung pada komunikasi lisan.Di masa lalu menggunakan serbatulis, kemampuan berbicara hanya mendapat kesempatan baru. Media seperti TikTok , Instagram Reels, YouTube, dan podcast membuktikan bahwa kemampuan berbicara adalah hal utama bagi generasi muda . Banyak konten yang viral bukan karena teksnya panjang, melainkan karena cara bicaranya yang menarik, spontan, dan penuh ekspresi. Berbagai jenis konten seperti dakwah, edukasi, hiburan, dan ulasan produk banyak diinisiasi oleh kemampuan berbicara. Kreator konten menggunakan suara , ekspresi, dan gaya berbicara untuk menjangkau jutaan penonton. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara tidak hanya relevan, tetapi juga menjadi kekuatan yang mendorong perubahan di dunia digital. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak masalah yang lebih mudah diatasi melalui percakapan langsung. Mulai dari konflik di keluarga , ketegangan antar tetangga, hingga perbedaan pendapat di tempat kerja—semuanya bisa lebih cepat selesai bila dibicarakan secara lisan. Tulisan cenderung terkesan formal dan bisa menciptakan jarak, sedangkan percakapan membuka ruang untuk kompromi dan dialog. Masyarakat Indonesia sangat mengandalkan tradisi “bahasa hati”, sesuatu yang hanya bisa hadir melalui percakapan terbuka. Forum seperti rapat warga , konferensi adat, dan musyawarah keluarga menunjukkan bahwa kemampuan berbicara memiliki kekuatan sosial untuk menciptakan solusi bersama . Rasa kekeluargaan tumbuh dari percakapan langsung, bukan dari dokumen resmi. Kemampuan berbicara dan kemampuan menulis bukanlah musuh. Keduanya saling melengkapi . Tulisan menyimpan pengetahuan , sedangkan kemampuan menghidupkannya. Tulisan merapikan pikiran sedangkan kemampuan berbicara memperkuat hubungan. Tulisan menjadi bukti resmi , sedangkan kemampuan berbicara menjadi ruang untuk berdialog. Di era digital, kita bisa melihat keduanya bekerja sama. Seseorang menulis pesan untuk janji, lalu berbicara agar membahas detailnya. Kita membacaberita, lalu mendengarkan pendapat tokoh melalui podcast. Kita menulis komentar, tetapi membangun kepercayaan melalui percakapan langsung.Kekuatan komunikasi manusia terletak pada kemampuan menggunakannya secara seimbang. Sejak saussure, linguistik telah mengembangkan kajian yang sangat canggih dalam hal fonemik, cara bahasa bersarang dalam suara. Rekan sezaman saussure, Henry Sweet (1845-1912) yang berasal dari inggris, sudah sejak mula berkukuh bahwa kata-kata bukan terdiri dari huruf melainkan dari unit suara yang fungsional, atau fonem. Tuisan membuat “kata-kata” tampak menyerupai benda karena kita menyerupai benda karena kita menganggap kata sebagai tanda nyata yang menyelamatkan kata pada pemecah sandi; kita bisa melihat dan menyentuh “kata-kata” yang tertera dalam teks dan buku.

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *