JARING TERAKHIR DI TABANIO
(Sebuh Drama Monolog tentang Lingkungan)
Karya Heri Haliling
Karakter: Seorang nelayan muda (bisa berusia 20-30an) dari desa Tabanio, Tanah Laut.
(Panggil gelap. Sorot lampu perlahan terang. Seorang pemuda duduk di pinggir panggung, kaki menjuntai. Ia memegang jaring ikan yang robek besar di pangkuannya. Kepala menunduk, jari-jarinya mengusap-usap robekan dengan lembut.)
(Suara lirih, seperti berbicara pada jaring)
Jaring ini… umurnya hampir separuh usiaku. Abah yang menyerahkan, “Nih, kau bantu Uma cari ikan. Laut Tabanio masih murah hati.” Dulu… air laut di sini bening. Saking beningnya, waktu kecil, aku bisa lihat ikan di sela karang.
(Mengangkat kepala, menatap kosong ke depan, senyum kecil muncul – mimik: nostalgia, hangat)
Aku ingat…Abah pulang dengan senyum lebar. Perahu penuh ikan. Uma langsung sibuk di dapur. Wanginya bakar ikan… wangi rumah. Ikan yang kami tangkap bukan cuma buat dimakan, tapi juga buat ditukar beras, buat beli keperluan sekolah.
(Menggenggam jaring erat, suara mulai berubah – mimik: mulai muram)
Sekarang… jaring ini balik ke pangkuanku. Tapi bukan buat cari ikan. Buat apa? Buat ingatkan aku: laut kita lagi sekarat.
*
(Berdiri perlahan, berjalan dua langkah, lalu berhenti. Badan tegang. Memandang ke kejauhan dengan sorot mata tajam. Mimik: geram, dendam yang tertahan)
Puluhan tahun mereka datang. Kapal-kapal besi raksasa. Kapal Tugboat dan Tongkang, kata orang. Pemiliknya Orang Asing. Dan yang bikin aku geram: mereka punya segalanya.
(Tangannya menunjuk ke arah imajiner laut, suara mulai tinggi – gesture: menunjuk dengan jari telunjuk penuh penekanan)
Lihat itu! Setiap hari, kapal-kapal tongkang batu bara lalu-lalang. Puluhan. Hitam legam. Mereka angkut batu bara dari mulut tambang, entah dibawa ke mana. Tapi yang mereka tinggalkan di sini… bukan rezeki. Bukan.
(Diam lama. Kepala menunduk. Berjalan pelan ke tengah panggung, lalu berlutut. Suara berubah jadi sangat pelan, hampir bisik – mimik: kosong, traumatis)
Ada kapal kecil tenggelam. Bukan kapal mereka. Kapal Abah! Perahunya diserempet kapal tongkang besar. Abah… tenggelam. Mereka selamatkan? Mereka cuma lihat. Terlambat.
(Menutup wajah dengan tangan, bahu bergetar – mimik: sedih luar biasa)
Abahku… nelayan Tabanio dari lahir. Meninggal di laut Tabanio. Laut yang dia jaga, laut yang dia cintai… jadi kuburannya. Tapi dia enggak sendiri. Laut kita… juga sekarat. Pelan-pelan. Mati karena ulah tangan-tangan asing yang datang cari untung.
(Berjalan mondar-mandir, napas memburu – mimik: frustrasi, marah)
Tanya sama warga sini: “Kalian dapat kerja?” Ha! Dapat. Dua tiga orang. Jadi kuli angkut. Jadi satpam. Selebihnya? Cuma dapat lihat kapal mereka lewat. Sementara ikan-ikan… lari ketakutan.
*
(Berhenti mondar-mandir. Jongkok. Tangannya menyentuh permukaan panggung seolah menyentuh air. Lalu menarik tangannya cepat-cepat. Mimik: jijik, ngeri)
Coba lihat air ini. Apa yang kau lihat? Bukan air jernih yang dulu aku ceritakan. Ini… lihat! Ada pelangi-pelangi kecil di permukaan.
(Menunjuk-nunjuk ke permukaan imajiner dengan jari – mimik: muak)
Minyak. Minyak dari perut kapal mereka. Kapal tongkang itu… katanya mereka cuci tangki di tengah laut. Sisa minyak, sisa solar, sisa pelumas dibuang. Ke laut kami. Ke rumah ikan kami.
(Berdiri, memegang dadanya – mimik: sesak)
Di tengah laut aku pernah tanya sama ABK-nya, “Bang, kenapa dibuang ke sini?” Dia cuma diam. Lalu ketus bilang, “Bukan urusan saya, Nak.” Bukan urusan?? Laut ini bukan urusan dia. Tapi laut ini adalah urusanku! Urusan adikku yang masih sekolah! Urusan Umaku yang janda!!
(Berteriak, tapi suara serak – mimik: marah bercampur sedih)
Siapa yang tanggung jawab kalau air minum kami mulai bau? Kalau kulit kami gatal-gatal habis mandi laut? Kalau karang-karang mati perlahan?
(Diam beberapa detik. Menarik napas panjang. Tangannya mengusap wajah. Mimik: lelah)
Bukan cuma minyak. Debu… debu batu bara beterbangan. Setiap kali kapal lewat, setiap kali mereka bongkar muat, debu hitam itu terbang.
(Menepuk-nepuk baju sendiri, lengan – mimik: jengkel)
Jemuran Uma? Hitam kena debu. Daun singkong di kebun belakang? Layu, hitam. Kita hirup udara ini… setiap detik… dan kita enggak tahu, kapan paru-paru kita juga ikut hitam.
(Duduk lagi di pinggir panggung, kali ini lebih lunglai – mimik: putus asa)
Minggu lalu… aku melaut. Jaring ini, jaring warisan Abah, aku tebar. Tiga jam aku tunggu. Kuangkat… kosong. Bukan kosong total. Ada. Ikan kecil. Sekepal tangan. Masih muda, belum bertelur. Tapi di insangnya… hitam. Lengket.
(Memegang jaring dengan kedua tangan, menekan ke paha – mimik: gemetar menahan tangis)
Ikan itu kulempar balik. Bukan karena aku kasihan. Tapi karena… aku takut. Takut makan ikan yang insangnya penuh minyak dan debu. Aku takut racun itu pindah ke tubuhku, ke tubuh Uma, ke tubuh adik-adikku. Tapi kalau enggak kami tangkap, kami makan apa?
(Suara pecah – mimik: menangis tertahan)
Kami nelayan… tapi kami takut makan ikan.
(Berdiri tiba-tiba, energi berubah jadi sinis, getir. Mimik: dendam dingin)
Orang luar… Mereka datang bawa kapal besar. Mereka datang bawa modal besar. Mereka datang… lalu pergi. Tinggal kita di sini, dengan laut yang sekarat.
(Berjalan ke depan, menghadap penonton, bicara dengan nada mengejek diri sendiri)
Kami coba protes. Tanda tangan. Dengar? Tanda tangan! Kertas itu… entah ada di mana. Mungkin di laci kantor mereka, mungkin di tempat sampah. Atau mungkin… mereka pakai buat ngepel lantai.
(Membuang muka, meludah ke samping – gesture: sinis)
Ada pejabat datang sekali. Foto-foto. Janji ini-itu. Katanya, “Akan kami tindak lanjuti.” Tindak lanjuti apa? Kapal mereka makin banyak! Air makin hitam! Ikan makin habis!
(Tangan mengepal – mimik: marah tertahan)
Satu hal yang bikin aku paling sakit… Mereka punya uang. Mereka punya pengacara. Mereka punya izin. Sementara Abah cuma punya jaring ini. Aku cuma punya jaring ini. Dan laut yang dulu jadi sawah kami, jadi ladang kami, sekarang… jadi tempat mereka buang sampah.
(Berteriak, tapi suara parau – mimik: frustrasi total)
Hukum itu milik siapa?!
(Mengusap air mata, lalu melihat ke perutnya sendiri – mimik: transisi ke harap-harap cemas)
Ada satu hal… yang mungkin konyol buat kalian dengar. Istriku… hamil. Tujuh bulan. Anak pertama. Setiap malam, aku tempelkan telinga ke perutnya. Dengar detak jantungnya. Kencang. Seperti debur ombak kecil.
(Tersenyum tipis, getir – mimik: cinta bercampur takut)
Aku ingin anakku lahir… dan bisa lihat laut Tabanio yang bersih. Bisa mandi di sini tanpa takut gatal-gatal. Bisa ikut abahnya melaut, menarik jaring, dan dapat ikan banyak.
(Air mata jatuh, tapi suara tegas – mimik: haru bercampur tekad)
Tapi kalau laut kita mati… anakku akan lahir di padang pasir. Padang pasir hitam, penuh minyak dan debu batu bara. Dia akan tanya: “Bah, laut dulu seperti apa?” Dan aku cuma bisa jawab… dengan jaring robek ini.
(Berdiri perlahan. Merentangkan jaring di depannya, memandanginya lama – mimik: campur aduk, sedih-marah-cinta-harap)
Ini… Jaring Terakhirku. Bukan karena aku akan ganti yang baru. Tapi karena… mungkin sebentar lagi, enggak ada gunanya lagi menjaring.
(Melipat jaring perlahan, dengan sangat hati-hati – gesture: penuh penghormatan)
Abah dulu bilang, “Jaring ini, Nak… bukan cuma alat cari ikan. Ini alat cari kehidupan.” Sekarang, jaring ini kupegang… dan hidup terasa begitu jauh. Sejauh kapal-kapal mereka yang lewat di cakrawala.
(Berhenti melipat. Menatap penonton. Pandangan tajam. Mimik: penuh tanya, penuh tuduhan lembut)
Kalian yang nonton… yang mungkin tinggal jauh dari laut… Kalau suatu hari nanti kalian makan ikan asin di piring kalian… tolong ingat. Ingat Tabanio. Ingat kami yang di sini. Ikan itu mungkin… ikan terakhir dari laut yang masih berjuang napas.
(Menyampirkan jaring di pundak, berbalik, berjalan menjauh perlahan. Lampu mulai redup. Di tengah jalan, ia berhenti, tanpa menoleh – mimik: lirih, lelah, tapi menyala)
Atau… kalau kalian lupa… enggak apa-apa. Tapi jangan heran, suatu hari nanti… anak cucu kalian juga akan tanya, “Laut… seperti apa rasanya?”
(Lampu mati total. Blackout)
Tamat
Kintap, 15 Desember 2025
CATATAN
* Naskah monolog ini tidak untuk dipentaskan tanpa seizin penulisnya.
Bionarasi
Heri Surahman memiliki nama pena Heri Haliling. Pria kelahiran Kapuas, 17 Agustus 1990 itu adalah seorang guru di SMAN 2 Jorong di Kalimantan Selatan. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif sebagai penulis. Beberapa karyanya antara lain Novel Perempuan Penjemput Subuh (PT Aksara Pustaka Media, 2024), Novelet Rumah Remah Remang (J-Maestro, 2024), buku kumpulan cerpen Perempuan Penggenggam Pasir (Guepedia, 2025). Heri Haliling juga gemar mengikuti penulisan antologi di antaranya:
1. Buku antologi puisi “Abad Burung Gagak di Palestina (Lintas Aksara, 2015),
2. Buku antologi cerpen “Senandung Cinta” (Redirzen, 2024),
3. Buku antologi cerpen “Tuhan, Aku sedang Berusaha. Bantulah Aku” (Teori Kata, 2024),
4. Buku antologi cerpen “Liliy dalam Dekapan Laut” ( PT Binar Cipta Pratama, 2024),
5. Buku antologi cerpen “Goresan Perasaan Kita” (Ka’ros’ Publisher, 2024), dan
6. Buku antologi cerpen nasional guru dan dosen (Sediksi Publisher, 2024).
Keikutsertaan Heri Haliling dalam lomba tulis menulis akhirnya membuahkan hasil, di antaranya:
1. Novel “Perempuan Penjemput Subuh” menjadi juara ke-2 Lomba Cipta Novel Guru dan
Dosen yang diselenggarakan PT Aksara Pustaka Media.
2. Cerpen “Sekuntum Mawar dengan Tangkai yang Patah” mendapat juara ke-3 Lomba
Cipta Cerpen Nasional Guru dan Dosen dari Sediksi Publisher.
3. Cerpen “Kasih dalam Sebuah Boneka” memperoleh harapan terbaik pada lomba cerpen Poetry Publisher.
- Selain gemar mengikuti antologi, Heri Haliling juga kerap mengirim sejumlah tulisannya ke media cetak atau digital. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling, email heri.surahman17@gmail.com atau nomor WA/ E Wallet: 083104239389. No ATM Bank BPD Kalsel: 2002714321.





