Naskah Monolog Lingkungan “SUMPAH DARI PUNCAK MERATUS” Karya Heri Haliling

PENULIS: Heri Haliling

Durasi: 9-10 menit

SINOPSIS SINGKAT

Seorang aktivis lingkungan bernama Rizky melakukan ritual malam di kaki Gunung Meratus. Ia berniat memohon izin kepada penjaga gunung sebelum melakukan penelitian tentang kerusakan hutan akibat tambang dan pembalakan liar. Di tengah ritual, tubuhnya dirasuki oleh Kapala Pitu makhluk legendaris berkepala tujuh penjaga Pegunungan Meratus, anak Datu Makar dan Putri Bungsu yang konon menjelma menjadi gunung. Roh Kapala Pitu terbangun dari tidur panjangnya karena “sakit” dan merasakan setiap tebangan, setiap galian, setiap luka yang ditorehkan manusia pada tubuh gunung yang adalah jelmaan dirinya.

 Melalui tubuh Rizky, Kapala Pitu berbicara, meluapkan amarah, membandingkan kearifan manusia zaman dulu dengan kerakusan manusia modern, dan pada akhirnya… mengucapkan sumpah.

SETTING

Panggung gelap total. Suara angin malam berdesir pelan, diselingi suara jangkrik dan gemerisik daun kering. Lampu perlahan naik sangat lambat, cahaya biru tua remang-remang, hanya cukup untuk melihat sosok duduk bersila di tengah panggung.

PEMERAN

Rizky (aktivis) duduk bersila menghadap penonton, namun penonton adalah arah gunung. Di depannya ada sesaji sederhana: daun sirih, pinang, gambir, sedikit beras, dan lilin kecil yang menyala redup.

(Bisik, dengan suara dalam dan pelan.)

“Aku datang… aku datang dengan tangan kosong… dengan hati yang bertanya..? “

(Hening beberapa detik. Suara jangkrik lebih jelas.)

“Selamat malam, penjaga Meratus… selamat malam, roh-roh yang bersemayam di puncak-puncak batu.., selamat malam, Datu-datu yang menjaga rimba.”

(Membuka mata perlahan, menatap sesaji.)

“Aku Rizky, anak muda dari Banjarmasin yang ingin melihat, ingin menyaksikan apa yang terjadi di tubuhmu. Bukan untuk mengeksploitasi? Bukan untuk mengambil, tapi untuk MENYAKSIKAN. Dan… dan mungkin… menuliskan..,melaporkan agar yang lain tahu… agar yang lain peduli.”

(Mengambil sedikit beras kuning, menaburkannya ke depan.)

“Kata orang-orang tua… sebelum masuk hutan, harus minta izin. Sebelum menyentuh pohon, harus minta restu. Aku tidak membawa kesombongan. Aku…,hanya membawa pertanyaan. Izinkan aku masuk, izinkan aku melihat…,dan jika aku berani lancang… Sungguh maafkan sikapku.”

(Menunduk dalam, diam beberapa saat.)

EFEK SUARA

Suara angin menderu lebih kencang.

(Suara Rizky mulai berubah, ada gema ringan.)

“Aku… aku… rasakan… sesuatu…”

(Kepala mendongak ke langit, mata terpejam rapat.)

“Ada… ada yang menarikku… dari dalam tanah… dari puncak sana…”

(Tangan kiri perlahan terangkat ke depan, gemetar.)

“Jangan… jangan dulu… aku belum siap… aku…”

(Tiba-tiba kepala tersentak ke belakang, dada membusung, menarik napas sangat panjang)

(Diam lunglai beberapa saat)

(Kepala perlahan turun, mata terbuka—TAPI BUKAN MATA RIZKY LAGI. Sorot mata tajam, tua, penuh misteri.)

(Suara berat, dalam, bergaung—suara KAPALA PITU.)

“Wahahaaaahaa….Akhirnya!! Akhirnya ada juga yang datang dengan cara yang benar…”

(Berjalan terhuyung, lalu berhenti di tengah.)

“Badan… badan siapa ini…? Ringan… kecil.. hangat…”

(Menatap kedua telapak tangan, membalikkan, meraba jari-jari.)

“Lima… hanya lima jari… aku dulu punya… tujuh kepala… empat belas mata… empat belas telinga… tapi sekarang…”

(Tertawa kecil, getir.)

“Hihihihi….,Tubuh manusia… tubuh fana… tapi cukup… cukup untuk berbicara.”

(Berjalan ke depan panggung, menatap penonton dalam-dalam.)

“Kau ingin tahu siapa aku? Biar kukatakan… biar kusingkap tabir yang selama ini kau sebut ‘legenda’… kau sebut ‘mitos’… kau sebut ‘cerita orang tua zaman dulu’.”

(Mengangkat kedua tangan ke atas, penuh jumawa)

“Wahahahaa…AKU ADALAH KAPALA PITU! Anak Datu Makar dan Putri Bungsu! Aku hanyut di sungai Amandit… arus membawaku… batu-batu menghantam kepalaku, satu, dua, tiga… tujuh! Dan ketika aku sadar… aku bukan lagi manusia… aku bukan lagi anak kecil yang hilang… AKU ADALAH PENJAGA!”

(Menunjuk ke arah belakang panggung ke arah gunung.)

“Di sana… di puncak itu… di ketinggian 1.474 meter di atas laut… di sanalah tubuhku terbujur. Gunung Kapala Pitu! Itu aku! Setiap batunya adalah tulangku! Setiap pohon yang tumbuh di lerengnya adalah rambutku! Setiap mata air yang mengalir dari kakinya adalah air mataku!”

(Suara mulai bergetar, bukan lemah, tapi geram angkara).

“Dan selama ribuan tahun… aku tidur… aku beristirahat… aku membiarkan manusia hidup berdampingan dengan alam. Mereka datang… mereka pergi… mereka mengambil secukupnya… mereka menghormati… mereka TAHU DIRI.”

(Berjalan mundur, merentangkan tangan.)

“Tapi sekarang… sekarang aku terbangun… karena SAKIT! KAU DENGAR?! SAKIT! Tubuhku sakit! Kepalaku pusing! Dadaku perih! Dan ketika aku lihat… ketika aku lihat dengan mata-mata yang baru ini… apa yang kau perbuat… OOOOOHHH SYANG HYANGG!! “

(Duduk perlahan, mengambil segenggam tanah, menciumnya.)

“Dulu… dulu tanah ini wangi daun-daun busuk yang menjadi pupuk… wangi akar-akar kayu yang menjelma kehidupan.”

(Menaburkan tanah, menatap ke kejauhan.)

“Aku ingat… di zamanku… di zaman ketika aku masih berwujud… hutan ini begitu lebat hingga sinar matahari pun kesulitan menembus. Kau berjalan di bawah rimbunnya pepohonan… dan yang kau dengar hanya suara burung… suara monyet… suara angin yang bernyanyi di antara dedaunan.”

(Berdiri, berjalan pelan, tangannya meraba-raba udara seolah menyentuh pepohonan.)

“Pohon-pohon Ulin menjulang keras… kokoh… bisa hidup ribuan tahun. Ada pohon Meranti… ada pohon Damar… ada Rotan yang melilit di batang-batang. Dan di bawahnya… tumbuh jamur-jamur, pakis-pakis, bunga-bunga hutan yang mekar hanya setahun sekali.”

(Berhenti, membelai udara.)

“Di Sungai Amandit… di sungai-sungai kecil yang mengalir dari perut gunung… airnya begitu jernih… begitu dingin… hingga kau bisa melihat ikan-ikan berenang di dasar. Ikan Saluang… ikan Baung… ikan Tapah… mereka berlarian di antara batu-batu. Dan kura-kura… kura-kura sungai… berjemur di atas batu-batu besar.”

(Menghadap penonton, dengan senyum tipis.)

“Manusia-manusia di zamanku… mereka datang ke hutan dengan adat. Mereka membawa sirih… mereka membawa pinang… mereka duduk dengan penghormatan. ‘Datu… kami datang… kami mau ambil kayu untuk membuat rumah… kami mau ambil rotan untuk menganyam… kami mau berburu rusa untuk makan… ijinkan kami.'”

(Suara penuh kebanggaan.)

“Mereka TAHU… mereka tahu bahwa hutan ini bukan milik mereka. Mereka tahu bahwa mereka hanya numpang… bahwa mereka harus menjaga agar yang datang setelah mereka… anak cucu mereka… masih bisa menikmati keindahan yang sama. Mereka MENANAM sebelum memotong. Mereka MEMBERI sebelum mengambil. Itulah manusia… di zamanku…”

“TAPI SEKARANG…!”

(Menyepak sesaji hingga berantakan.)

“SEKARANG KAU LIHAT APA YANG TERJADI?!”

(Berjalan ke depan, menunjuk ke arah penonton.)

“KAU! KAU YANG DUDUK DI SANA! KAU YANG MENYEBUT DIRI MANUSIA MODERN! KAU YANG BANGGA DENGAN TEKNOLOGIMU! KAU YANG PINTAR DENGAN ILMUMU! KAU TELAH MENGHANCURKAN SEMUANYA!”

(Menunjuk ke satu arah.)

“Di sana… di lereng timur… pohon-pohon Ulin yang tumbuh sejak zaman kerajaan… yang sudah tua sebelum Indonesia lahir… KAU TEBANG! Kau tebang semua! Dan kau tinggalkan… kau tinggalkan tanah gundul… kau tinggalkan erosi… kau tinggalkan longsor!”

(Berlari ke sisi lain.)

“Di sana… di lereng barat… KAU BAKAR! Kau bakar hutan untuk membuka lahan! Kau kira api hanya menghanguskan kayu?! Api menghanguskan rumahku! Api menghanguskan rumah burung Enggang! Rumah kera ekor panjang! Rumah beruang madu! Mereka kabur… mereka mati… mereka kehilangan tempat berlindung… KARENA KAU!”

(Berlutut di tengah panggung, memukul-mukul tanah.)

“Dan di sini… di perut gunung… di dalam tubuhku… KAU GALI! Kau gali batu bara! Kau gali emas! Kau gali apapun yang bisa kau jual! Kau buat lubang menganga… lubang besar… lubang dalam… kau keruk isi perutku… kau ambil semuanya… kau tinggalkan lubang menganga itu… LUKA! LUKA MENGANGA DI TUBUHKU!”

(Berdiri, berjalan ke depan penonton dengan tatapan tajam.)

“Kau bilang… ini pembangunan. Kau bilang… ini kemajuan. Kau bilang… ini untuk kesejahteraan rakyat. BOHONG! SEMUA BOHONG! Yang kau kejar hanya uang! Yang kau kejar hanya keuntungan! Yang kau pikirkan hanya dirimu sendiri! SEKARANG! SEKARANG JUGA! Tanpa memikirkan nanti! Tanpa memikirkan besok! Tanpa memikirkan anak cucumu!”

(Tertawa keras, tawa getir, tawa gila.)

“Hahahahaha… manusia… manusia modern… katanya beradab… katanya maju… tapi lebih buas dari binatang buas sekalipun! Binatang buas hanya membunuh untuk makan… untuk bertahan hidup. Tapi kau… kau membunuh untuk gaya hidup! Kau membunuh untuk membeli mobil baru! Kau membunuh untuk liburan ke luar negeri! Kau membunuh untuk hal-hal yang TIDAK KAU BUTUHKAN!”

(Meremas-remas baju di dada.)

“Dan aku… aku merasakannya… aku merasakan setiap tebangan… setiap galian… setiap ledakan… setiap kali kau meledakkan gunung untuk mengambil batunya… TUBUHKU HANCUR! Setiap kali kau menebang pohon… TULANGKU PATAH! Setiap kali kau membakar hutan… KULITKU TERBAKAR! Setiap kali kau mengeruk tanah… DAGINGKU TERKOYAK!”

(Berteriak ke langit.)

“SAKIT! SAKIT! TIDAKKAH KAU TAHU BETAPA SAKITNYA?!”

(Diam beberapa saat, menarik napas panjang.)

“Dulu… dulu manusia datang ke hutan dengan permisi… Sekarang mereka datang dengan surat izin. Izin dari siapa? Izin dari meja-meja di kota? Izin dari orang-orang yang tidak pernah merasakan dinginnya air gunung? Izin dari mereka yang tidak pernah mendengar suara burung Enggang di pagi hari?”

(Menggeleng-geleng.)

“Dulu… manusia mengambil satu pohon… mereka menanam sepuluh. Sekarang… mereka menebang seribu pohon… dan menanam… NOL! NOL! Bahkan janji untuk menanam pun sering mereka ingkari!”

(Berdiri, berjalan ke belakang panggung, mengambil sesuatu, tanah.)

“Dulu… sungai-sungai ini jernih… airnya bisa langsung diminum. Sekarang… lihat! Keruh! Bau! Berwarna! Karena limbah! Karena tambang! Karena sampah plastik! Plastik! Benda baru yang tidak pernah ada di zamanku! Benda yang tidak pernah mati! Berapa ratus tahun baru hancur?! Dan kalian buang ke sungai?! KE SUNGAI YANG KUKUDUSKAN?!”

(Melemparkan tanah ke depan.)

“Dulu… manusia takut memasuki hutan tanpa izin… mereka takut pada datu… takut pada penjaga… takut pada makhluk halus. Sekarang… mereka TERTAWA! ‘Ah itu cuma mitos… itu cuma cerita orang tua… itu cuma takhayul…’ KALIAN TERTAWA… TAPI LIHAT! HUTAN INI HANCUR! KARENA KALIAN TIDAK PUNYA RASA TAKUT! Karena kalian tidak punya rasa hormat!”

“Cukup… cukup sudah aku melihat… cukup sudah aku merasakan… SEKARANG DENGAR SUMPAHKU!”

(Angkat tangan kanan ke atas.)

“AKU, KAPALA PITU, PENJAGA PEGUNUNGAN MERATUS, ANAK DATU MAKAR DAN PUTRI BUNGSŲ, YANG TUBUHNYA MENJELMA MENJADI GUNUNG, YANG DARAHNYA MENJADI SUNGAI, YANG NAPASNYA MENJADI ANGIN… BERSUMPAH!”

(Berjalan maju, menunjuk ke penonton.)

“Jika kalian terus merusak… jika kalian terus membakar… jika kalian terus menggali… jika kalian terus menebang tanpa menanam… AKAN KUHIDUPKAN KEMBALI KUTUKAN ITU!”

(Suara meninggi.)

“Bukan kutuk menjadi batu seperti dulu… karena batu pun sudah kalian gali dan kalian jual! Tapi kutuk yang lebih dahsyat… KUTUK MENJADI MANUSIA TANPA MASA DEPAN!”

(Berjalan mondar-mandir.)

“Anak cucumu… anak cucumu akan mewarisi tanah gersang yang tidak bisa ditanami. Mereka akan mewarisi udara panas yang membuat mereka sesak napas. Mereka akan mewarisi air keruh yang membuat mereka sakit-sakitan. Mereka akan bertanya… mereka akan bertanya pada kalian… ‘MENGAPA? Mengapa kalian dulu tidak menjaga? Mengapa kalian dulu serakah? Mengapa kalian dulu buta?’ DAN KALIAN TIDAK AKAN BISA MENJAWAB!”

(Berhenti, suara mulai melembut, tapi mengancam)

“Dan kalian… kalian yang sekarang hidup… kalian akan melihat dengan mata kepala sendiri… gunung-gunung gundul… sungai-sungai mati… banjir bandang datang setiap musim hujan… longsor menimbun kampung-kampung… DAN SEMUA ITU ADALAH AKIBAT TANGAN KALIAN SENDIRI!”

(Suara melembut, hampir berbisik.)

“Tapi… tapi aku lelah… aku lelah marah… aku lelah mengutuk… karena semakin aku marah… semakin aku sakiti diriku sendiri…”

(Mengusap muka dengan tangan.)

“Aku masih ingat… aku masih ingat betapa indahnya dunia ini dulu… betapa damainya… betapa harmonisnya… Manusia dan alam saling menjaga… saling menghormati… saling memberi…”

(Menatap penonton dengan mata berkaca-kaca.)

“Apakah… apakah tidak bisa kembali seperti dulu? Apakah kalian benar-benar sudah kehilangan hati nurani? Apakah kalian sudah lupa bahwa kalian juga bagian dari alam? Bahwa jika alam mati… KALIAN JUGA AKAN MATI?”

(Berdiri dengan susah payah, seperti orang tua renta.)

“Aku… aku masih mau percaya… aku masih mau memberi kesempatan… karena di dalam diriku… di dalam hatiku yang sudah ribuan tahun menjaga gunung ini… masih ada secercah harapan… bahwa kalian bisa berubah…”

(Berjalan ke depan, tangannya terulur seperti memohon.)

“Kembalikan hijaunya… tanam pohon… satu pohon untuk setiap yang kau tebang. Bersihkan sungai… hentikan buang sampah… hentikan limbah… HENTIKAN TAMBANG ILEGAL! Hentikan pembakaran hutan! Hentikan keserakahan!”

(Suara mulai bergetar pertanda ruh mulai pergi.)

“Sudah… sudah saatnya aku kembali tidur… tubuh ini… tubuh manusia ini mulai lelah menampungku…”

(Suara mulai pecah, kadang berat, kadang normal.)

“Aku… aku harus pergi… tubuh ini… tubuh ini sudah…”

(Tubuh oleng, berusaha berpegangan pada udara.)

“Tapi ingat… INGAT SUMPAHKU… jaga… jaga…”

(Tiba-tiba tubuh terhentak, diam sesaat.)

(Suara Rizky mulai muncul dengan bingung dan lemah.)

“Apa… apa yang terjadi…? Kenapa… kenapa aku di sini…?”

(Tubuh ambruk perlahan ke lantai, bersimpuh.)

(Diam beberapa detik.)

(Rizky tersentak bangun, napas tersengal-sengal. Melihat sekeliling dengan liar. Melihat sesaji yang berantakan. Melihat tangannya yang penuh tanah.)

“Astagaaaaa…apa? Apa yang baru saja terjadi…?”

(Meraba-raba tubuhnya sendiri.)

“Tiba-tiba aku merasakan sesuatu… aku merasakan kesakitan yang luar biasa. Seolah jelmaan kesakitan gunung, kesakitan hutan!!kesakitan bumi…”

(Menatap tangannya, lalu mengepal.)

“Aku… aku harus melakukan sesuatu… aku harus menyampaikan ini… AKU HARUS!”

(Berdiri dengan tegap, menghadap ke arah gunung di belakang panggung.)

“Terima kasih, Kapala Pitu… aku tidak akan sia-siakan kesempatan ini… aku akan jadi suaramu… aku akan jadi tanganmu… aku akan berjuang untuk Meratus… aku janji!”

SELESAI

Kintap, 13 Januari 2026

CATATAN:

Tidak diperkenankan ditampilkan tanpa izin dari penulis. Silakan hubungi penulis. Naskah ini bebas komersial hanya beberapa syarat yang mungkin diajukan jikalau ingin menggunakannya, seperti penyebutan penulis dan media terbit. Apabila didokumentasikan dalam video youtube, dll.,alangkah baiknya link dan kabar diberitahukan kepada penulis.

Sumber Cerita Rakyat:

http://catatansinalinali.blogspot.com/?m=1

BIONARASI

Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Dia seorang guru di SMAN 2 Jorong. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif menulis. Beberapa karyanya meliputi novel, novelet, dan kumpulan cerpen telah terbit baik di media/majalah cetak atau online. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling, email heri.surahman17@gmail.com atau nomor WA/E Wallet 083104239389.No ATM Bank BPD Kalsel: 2002714321.

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *