Nyanyian Fauzan

Nyanyian Fauzan

 

Ini adalah sebuah cerita pengalaman seorang guru di Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo Waru Sidoarjo.  Pada awal tahun 2017 tanggal 02 Januari ia memutuskan untuk terjun dalam dunia pendidikan. Dunia yang sebelumnya belum pernah ia selami.  Selama berproses di dunia pendidikan, bisa dibilang menyelam sambil minum air. Mengikuti alur sambil belajar, berproses dan bagaimana berdakwah dalam dunia pendidikan. Kebetulan ia berada di lingkungan sekolah Al Falah Darussalam yang terletak di jl. Anggrek no.1  Wisma Tropodo Waru Sidoarjo. Sekolah yang terdiri dari jenjang KB, TK, SD, dan SMP. Sekolahnya sangat luas dan indah. Di mana sekolah tersebut mempunyai visi sekolah yang segala aspek kegiatannya berlandaskan pada nilai-nilai bersumber dari Al quran dan As sunnah yang tercermin pada akhlaqul karimah. Visi sekolah tersebut sangatlah luar biasa dan mempunyai kandungan makna yang begitu dalam. Dari visi tersebut maka tidak heran seluruh guru di lingkungan Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam memiliki keterampilan dan keahlian di bidang masing-masing yang sangat luar biasa. Sebagaimana untuk mencetak generasi pemimpin bangsa yang berakhlaqul karimah. Selain visi, Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam juga mempunyai misi yang tak kalah pentingnya. Misi tersebut adalah berdakwah melalui dunia pendidikan dan membantu orang tua dalam mendidik putra-putri mereka agar menjadi anak yang shalih shalihah dengan berakidah mantap, berakhlaqul karimah, berilmu pengetahuan yang luas, berketerampilan yang canggih, peduli terhadap agama, bangsa, dan lingkungan sekitar, dan siap hidup menatap zamannya dengan ridlo Allah SWT.

Dengan visi dan misi tersebut ia merasa tidak mungkin bisa meletekan visi dan misi dalam dirinya. Semua yang tertulis di dalam visi misi tersebut rasanya mustahil baginya untuk bisa lakukan dalam keseharian mengajar. Memahami dan membaca situasi yang ada di lingkungan sekitar. Bagaiamana cara mendidik dengan baik, bagaimana cara mengajar yang sesuai dengan visi sekolah. Sama seperti halnya di awal tadi yakni menyelam sambil minum air. Dalam proses belajar mengajar ia mencari bahan seperti buku-buku cara mendidik anak dengan baik dan melihat bagaiamana cara guru-guru yang lain mengajar. Selama berproses untuk menggali potensi diri, banyak hal yang ia rasakan dan temukan. Berbagai kendala yang ia temukan di lapangan sangat bervariatif. Di antaranya kata baku dan tidak baku. Seringkali kita menjumpai para penjual dan nama toko dengan menggunakan slogan-slogan yang menurut mereka sangat menarik untuk dijadikan bahan materi. Misalnya yakni sate dan apotik. Di tepian jalan banyak sekali dua suku kata tersebut berkeliaran di banner atau spanduk para penjual. Penulisan kata seperti itu sudah mendaradaging pada anak-anak sehingga menurutnya penulisan kata tersebut sudah benar dan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Di suatu pagi ia mengajar di kelas 6A, di awali dengan salam, bismillah, hamdalah, dan bersholawat. Ia menyampaikan materi dan memberikan tugas untuk mencari kosa kata baku dan tidak baku. Dalam sela waktu, beberapa menit kemudian ia berkeliling untuk melihat tugas yang dikerjakan oleh anak-anak. Saat berkeliling ia menjumpai salah satu anak yang terlihat bingung, gelisah, dan lengannya sambil memegang kepalanya, ia bernama Fauzan,

“Apakah ada kesulitan mas Fauzan?”

“Iya pak, saya mau tanya, apakah cabe itu termasuk penulisan yang benar ya?”

“Untuk penulisan kata cabe punyanya mas Fauzan masih belum benar, coba mas Fauzan cari kata yang lain yang mas Fauzan ketahui.”

“Saya sudah punya kosakata yang benar banyak pak, tapi lupa, hehehehe.”

Banyak sekali keluhan pada anak-anak saat mencari tahu mana penulisan kata yang benar dan mana penulisan yang tidak benar. Dari situlah ia harus menemukan jalan yang mudah bagi anak-anak.  Dari kendala tersebut ia melakukan pendekatan khusus untuk mas Fauzan. Berbicara dari hati ke hati supaya dapat membangun rasa percaya antar guru dan siswa. Dengan membangun rasa percaya siswa, kita bisa lebih mudah untuk saling berinteraksi terbuka dan bisa membangun motivasi anak dalam belajar. Dari materi tugas kata baku dan tidak baku tersebut, ia berikan tugas khusus buat anak tersebut. Tugasnya yakni bernyanyi, sebelum ia kasih tugas bernyanyi kepada anak tersebut, ia berikan lima kosa kata baku dan tidak baku untuk dijadikan sebuah lagu dengan nada yang disukainya. Kemudian, dipertemuan berikutnya anak tersebut datang dengan wajah yang sumringah sambil membawa bukunya dan bernyanyi.

“Gimana mas Fauzan, sudah menemukan lagunya?”

“Alhamdulillah sudah pak!” dengan tersenyum.

“Bolehkah saya mendengarkan mas Fauzan?”

“Boleh pak.”

Dengan lantang, gembiranya, dan penuh rasa percaya diri anak tersebut menyanyikan lagu dengan nada “Pohon Cemara” dengan lirik lima kosa kata baku dan lima kosa kata tidak baku yang sudah diberikan sebelumnya. Terlihat dengan cara ia menyampaikan tugasnya bahwa dengan metode bernyanyi ini bisa dinyatakan berhasil dan menjadi tolak ukur siswa biar menjadi lebih mudah untuk menghapal atau mengetahui kosa kata baku dan tidak baku dengan benar. Dari sini metode ini ia terapkan untuk semua siswa ketika belajar materi penulisan kosa kata baku dan tidak baku. ia sangat senang bisa menerapkan metode bernyanyi ini pada anak-anak. Karena anak-anak terlihat sangat senang dan menjadi antusias saat belajar.  Ternyata dari sini, ia mengerti tidak ada kata terlambat selama masih memiliki kemauan untuk belajar.

 

 

 

Tagar:

Bagikan postingan

9 Responses

  1. MasyAlloh keren banget metodenya Ustadz bikin anak² semangat belajar dengan happy gembira🤩
    Terima kasih Ustadz untuk kesabaran dan bimbingannya kepada anak² sholih dan sholihah🙏🙏✨️

  2. Masyaallah .. metode yang luar biasa. bisa memberikan solusi untuk siswa agar ttp semangat belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *