Pengkhiatan ini berawal dari dua insan yang berjanji untuk merayakan cinta bersama. Dikala cinta diuji, Gadis Kretek yang penuh potensi jatuh hati pada sosok laki – laki sederhana bernama Soeraja. Secara latar belakang tidak punya kejelasan yang tertata, namun dengan buaian karisma sederhana itu meluluhkan hati Jeng Yah.
Cinta pun diuji oleh hadirnya ambisi untuk membangun kretek dengan pengorbanan atas nama. Jeng Yah sosok perempuan kretek yang lihai membuat kretek enak dan manis ini pun menjulang namanya berkat kretek gadis yang ia bangun. Melihat standar strata yang berbeda, Soeraja yang terdidik dijalan meronta egonya ingin memiliki produk kretek sendiri tanpa asupan dari kretek gadis miliki Jeng Yah. Hal ini pun berkaitan dengan ego laki laki yang diuji oleh cibiran buruh pabrik yang mengatakan bahwa Soeraja adalah laki laki beruntung karena bergantung pada kretek gadis milik Jeng Yah.
Telinganya cukup panas mendengar cibiran tersebut, alhasil Jeng yah pun mendukung niat Soeraja untuk membangun pabrik kretek sendiri dengan namanya. Melihat tekad Soeraja yang tak menyerah, tak pernah nyerah untuk mencari donatur usaha yang akan ia bangun. Berawal daripersinggahan di pabrik percetakan, Soeraja tertarik pada komunitas merah yang selalu berlangganan dengan percetakan tersebut. Hingga suatu ketika, ia rela ikut mengantarkan pesanan sehingga hadirlah pertemuan antara soeraja dan calon investor yang ia targetkan mendanai usahanya. Pertemuan demi pertemuan, menghadirkan kesepakatan bahwa Soeraja berhasil memperoleh dana dengan syarat nama kretek tersebut harus dari mereka. maka terciptalah kretek “Arit Merah”. Jeng Yah pun cukup bangga dengan keberhasilan Soeraja, meski harus bersaing kretek dengannya.
Disaat melejitnya kretek arit merah, munculnya gerakan penangkapan pengikut PKI dan ditemukan bahwa Soeraja adalah bagian dari PKI karena dana kreteknya dan nama kretek arit merah mewakili lambang PKI. Soeraja pun menjadi buronan, dilain tempat Jeng yah beserta ayahnya ditangkap dengan tuduhan ikut terlibat dalam hubungan antara Soeraja dengan PKI. Selama ditahan, Jeng Yah dan ayahnya terintimidasi. Berkat laki laki yang dulu sempat ia tolak cintanya yang rupanya menjadi tentara di era itu, ia dan ayahnya pun dilepas dengan syarat tidak lagi mengoperasikan kretek merdeka yang dianggap warna merah sebagai lambang pro PKI, sedangkan kretek gadis tetap aktif karena rasa yang enak dan khas.
Lain halnya dengan Soeraja yang rupanya telah berpindah ke Kota Kudus. disana, ia bertemya drajad sebagai tuan kretek yang mengajaknya bekerja. dengan etos kerja yang baik, soeraja pun menjadi orang kepercayaannya Drajad. tak hanya Drajad, anak sulungnya pun tertarik akan karisma yang dibawa oleh Soeraja. Meski telah berpindah kota, setelah semuanya aman. Soeraja diam diam bersurat pada Jeng Yah, menemukan surat dari Soeraja, membuka harapan baru bagi Jeng Yah. Sosok laki – laki yang sempat berjanji menikahinya muncul kembali. Disisi lain, Soeraja ditemani oleh putri sulung Drajad yang terlanjur jatuh hati padanya. Tak selang beberapa waktu, Soeraja berhasil menciptakan kretek dengan nama gabungan antara drajad dan Soeraja. Kretek yang enak dan penuh khas Drajad Raja. Mendengar kabar itu, Jeng Yah pun sangat bangga akan kegigihannya, namun kabar bahagia itu tiba tiba sirna disaat Soeraja memutuskan sepihak untuk mengakhiri hubungan dan lebih memilih menikahi anak sulung pak drajad.
Jeng Yah sosok perempuan tangguh pun bisa sedih dan galau, berhari hari ia murung dalam diam. sampai dititik ia penasaran merasakan kretek buatan soeraja, entah apa yang ada dalam pikirannya. Ia pun bergegas menghadiri pernikahan soeraja lalu membalas dendam dengan memukul soeraja hingga kepala bocor. Ah sungguh luka itu masih membekas.
Berpuluh tahun kretek ini menjadi andalan ekonomi utama keluarga soeraja sampai sanak saudaranya pun merasakan semua hasil kekayaannya. sampai dititik, Soeraja terbaring kaku menjelang ajalnya tak henti menyebut nama Jeng Yah. Hingga anak – anaknya pun gelisah melihatnya, muncullah inisiatif anak – anaknya untuk mencari keberaradaan Jeng Yah dari beberapa petunjuk. Dari sekian petunjuk, maka kehadiran kretek gadis menjadi petunjuk utama dalam pencarian ini. setelah semua petunjuk, maka pertemuan itupun tiba. hanya saja, jeng yah yang selama ini dicari telah meninggal lama bahkan meninggalkan gadis manis bernama aroma cengkeh.
setelah semua terjawab, mereka pun seketika pulang dengan panggilan ayah mereka yang sekarat tak berdaya. dititik perpisahan pun Soeraja belum sempat lagi meminta maaf dan bertemu dengan Jeng Yah. Disaat semua meratapi kepergiannya, rahasia pengkhianatan masa lalu pun terkuak melalui kretek gadis yang dicicipi oleh salah satu anak Soeraja. satu kata yang ditemukan “sama”. Kretek gadis sama persis dengan kretek drajad raja. jika diamati secara tahun berdiri kretek gadis lebih dulu hadir, hal ini memperjelas bahwa kretek drajad raja meniru bahkan serupa dengan kretek gadis.
Entah rasa apa yang terpendam, tapi rasa bersalah itu telah terlanjur ikut bersamaan dengan dikuburnya Soeraja dalam kuburnya. Sungguh tragis pengkhianatan ini, tidak mudah mengakhiri bahkan mengakar hingga akhirat. keuntungan itu mungkin memberi kekayaan turun temurun, tapi tidak dengan keberkahannya. Rasa bersalah itu akan mengakar hingga turun temurun bahkan meminta keadilan kelak diakhir pertemuan akhirat.
Cinta membutakan segalanya, ketulusan terbalaskan dengan pengkhianatan. Tidak selamanya niat baik akan berujung baik, karena ada banyak pengaruh dan ego manusia yang merasuki didalamnya. entah ini mengajarkan apa itu ketulusan, tapi ketulusan sejati bukanlah pada manusia.







