REVIEW NOVLET “RUMAH REMAH REMANG” KARYA HERI HALILING

SASTRA-Novlet “Rumah Remah Remang” karya Heri Haliling (Heri Surahman) menawarkan potret kehidupan muda yang blak-blakan, penuh dinamika emosional, dan konflik identitas dalam setting kos-kosan di Banjarmasin. Melalui narasi yang intim dan sering kali kasar, penulis membawa pembaca ke dalam dunia Rijani (Jan) dan teman-temannya yang penuh hasrat, kegagalan, dan pencarian makna dalam hubungan asmara, persahabatan, serta kepercayaan diri.

Kekuatan Narasi dan Karakter

Kekuatan utama novlet ini terletak pada karakterisasi yang kuat dan realistis. Setiap tokoh digambarkan dengan keunikan dan kecacatannya masing-masing: Rijani yang labil dan romantis namun mudah rapuh, Yoan yang manipulatif dan pragmatis, Nemos yang nyentrik dan impulsif, Koyat yang polos namun tanpa sadar merusak, serta Sidik yang religius namun terkesan dogmatis. Mereka bukanlah pahlawan, melainkan remaja yang mencoba bertahan dalam dunia yang penuh kompetisi sosial dan ekonomi. Dialog dan interaksi antartokoh terasa hidup, natural, dan sering kali menghibur sekaligus menyayat hati, terutama dalam adegan-adegan komikal seperti pembelian kaset biru atau pertengkaran fisik yang kacau.

Tema Sentral: Cinta, Persaingan, dan Identitas

Cerita ini secara cerdas mengangkat tema cinta yang tidak sederhana—bukan hanya romansa, tetapi juga permainan ego, manipulasi, dan persaingan. Hubungan Rijani dengan Milka digambarkan sebagai perjalanan penuh harap dan kekecewaan, sementara Yoan memandang cinta sebagai “bisnis” yang penuh strategi. Konflik antara keinginan untuk diterima dan tekanan untuk berubah (seperti saat Rijani berusaha membentuk badan) mencerminkan pergulatan identitas yang umum dialami anak muda.

Latar kos-kosan yang sempit, panas, dan jorok menjadi metafora untuk kehidupan yang sesak secara emosional. Di sana, privasi hampir tak ada, rahasia terbongkar, dan konflik mudah meledak. Penulis berhasil menangkap atmosfer perkotaan pinggiran yang keras namun penuh keakraban.

Kritik Sosial dan Ironi

Cerita juga menyiratkan kritik sosial halus terhadap sikap materialistis dalam hubungan, seperti yang terlihat pada karakter Yoan dan Mela, serta terhadap fanatisme agama yang dogmatis melalui tokoh Sidik. Ironi hadir di mana-mana: Rijani berusaha keras untuk Milka, justru dikhianati oleh teman sekosan yang polos. Adegan terakhir di pasar Kalindo menjadi puncak tragis yang menyakitkan sekaligus membuka mata tentang betapa rapuhnya ikatan persahabatan dan cinta.

Gaya Bahasa dan Struktur

Bahasa yang digunakan sehari-hari, kasar, dan penuh slang lokal, membuat cerita terasa autentik dan dekat dengan pembaca. Namun, beberapa bagian terasa terlalu panjang dan repetitif, khususnya adegan-adegan yang menggambarkan kecemasan Rijani. Meski begitu, alur cerita tetap terjaga dan klimaksnya terasa memuaskan meskipun pahit.

Nilai Sastra dan Relevansi

“Rumah Remah Remang” adalah cerita tentang kegagalan, kepercayaan yang hancur, dan pelajaran keras tentang kehidupan. Cerita ini tidak mencari happy ending, melainkan mengajak pembaca untuk merenungkan kompleksitas manusia dalam hubungan sosial. Nilai sastranya terletak pada kemampuannya menangkap suara generasi muda Indonesia yang sering terabaikan—yang berjuang di antara tekanan ekonomi, harapan sosial, dan hasrat pribadi.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, novlet ini adalah sebuah potret hidup yang jujur, pedih, namun tidak tanpa humor. Heri Haliling berhasil menciptakan dunia yang meskipun remang-remang, penuh dengan cahaya kebenaran manusiawi. Cerita ini layak diapresiasi bukan hanya karena realismenya, tetapi juga karena keberaniannya menampilkan sisi gelap dari persahabatan dan cinta, tanpa menghakimi. Sebuah karya yang mengingatkan kita bahwa dalam setiap “remah” kehidupan, ada cerita yang layak diceritakan (lW.S). 

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *