Pagi itu kelas 6 sedikit kacau. Beberapa anak melapor terjadi keributan karena dua murid. Bergegas aku menuju ruang di ujung kantin.
“Ibu, Handi curang, dia mencuri PR-ku untuk ditulis ulang,” Ujar Adis begitu melihat aku masuk kelas.
“Udah minta izin, kok, tapi Adisnya nggak dengar. Dia langsung lari ke kantin, Bu.” Dalih Handi. Keduanya masih berdebat tak mengalah. Kutenangkan kelas dan sebelum memulai belajar kuingatkan mereka pesan cerita minggu lalu.
“Bukankah Ibu sudah jelaskan, kalau kita ingin sukses harus jujur, kerja keras, belajar sungguh-sungguh, dan rajin berdoa? Ayo, tidak usah bertengkar. Sekarang saling memaafkan.” Dengan muka cemberut dan sedikit kesal Adis menerima jabat tangan Handi.
Murid-murid itu sudah seperti keluargaku. Bukan hanya sebagai guru, tapi juga ibu, teman, sahabat, bahkan kawan sekaligus lawan. Sejak aku ditugaskan pertama kali di Sekolah Kayu Kalek, Ranah Minang, dengan restu Ayah Ibu, aku menjadi abdi negara yang kuimpikan walau harus menyeberangi pulau Jawa ke Sumatra.
✩✩✩
Dua belas tahun lalu, dengan secarik kertas berupa SK penugasan, aku berangkat ke Sumatera Barat. Lokasinya lebih ke barat lagi, lebih tepatnya pelosok. Masih terbayang di ingatan, ibu menangis terisak mengantarkanku di terminal bus. Sementara ayah diam membisu, tapi bibirnya menyungging senyum.
✩✩✩
Kami tinggal di desa yang hampir semuanya berkecukupan. Hanya ayah dan beberapa tetangga yang menjadi buruh tani, ibu serabutan sebagai pembantu rumah tangga lepas bagi yang memerlukannya. Sangat bersyukur karena ayah dan ibu mengajarkan kami untuk selalu bekerja keras, dan ikhlas. Ayah dan ibu mendukungku lanjut sekolah ke Perguruan Tinggi. Ekonomi yang kami rasakan tak membuat surut untuk tidak putus asa.
“Ojo ngrungokno omonge tonggo, pokokke semangat sinau,” ayah menasihatiku. Aku disuruh untuk tidak mengindahkan perbincangan orang. Pokoknya semangat terus, katanya.
“Cuma buruh, kok, mau kuliah.”
“Di sini saja, Nduk, bantuin Bu Rahmi. Kan, ibu sudah tua, gantiin ibumu saja.”
Itulah celotehan yang dilontarkan secara menohok ketika bertemu ibu. Tebersit rasa marah, benci, malu. Tapi aku teringat kata ayah untuk tidak menghiraukan semua itu. Harus tetap bersyukur, ikhlas, kerja keras. Tiada balasan selain kebaikan, itulah prinsip yang dipegang ayah menguatkan kami.
Aku makin belajar keras setelah lulus dan diterima di PGSD sebuah PTN. Aku bertekad mengubah nasib membahagiakan keluarga. Pernah saat aku pulang ke rumah mengambil dokumen beasiswa, muncul tamu sambil berteriak menggedor pintu.
“Pak Kus, keluar!”
“Mana Bapakmu? Utang sudah jatuh tempo, tapi belum bayar…”
“Ba..pak berutang? Berapa? Dengan siapa?” Aku terkejut dengan penjelasan Pak Santo, dia ternyata rentenir, yang memberi bapak utang. Jadi, selama aku belum mendapat beasiswa biayaku selama dua bulan di kos, berasal dari pinjaman utang. Dadaku sesak. Ya, Allah, jadi ayah selama ini meminjam untuk biayaku dua bulan di kos?
Amarah berkecamuk di hatiku. Aku bertekad mengubah nasib. Tak kuhiraukan gunjingan orang. Belajar. Doa. Dan akhirnya aku lulus dengan nilai terbaik, Bapak ibu mendampingiku mendapat penghargaan dari rektor. Apalagi setelah penyerahan surat kedinasan, kami menyambut dengan rasa syukur tak terkira. Disertai rasa haru dan bangga, walau aku belum tahu di desa mana bertugas di Sumatera barat, tapi sebagai orang awam, tak punya harta berharga, tak ada sanak saudara berpangkat, aku merasa mendapat anugerah tak terkira dari Allah.
Dan di sinilah, di Kayu Kalek aku bertugas. Sebagai guru SD yang jauh dari kota dan penduduknya masih kurang mengenal sekolah. Hampir setiap hari berkeliling membujuk putra-putrinya bersekolah. Handi dan Adislah menjadi andalanku membujuk teman sebayanya. Mula-mula mereka hanya bermain, lama-lama dengan cerita yang aku sampaikan, bisa duduk manis dan mengikuti dengan formal. Tak jarang aku pun menjadi perawat, atau chef, mengajari memasak. Banyak sayur yang tumbuh tak dimanfaatkan oleh warga.
Ada peristiwa yang membekas di hatiku, saat musim hujan. Rumah yang terbuat dari kayu dan gerumbulan pohon rimbun menyebabkan nyamuk beranak pinak. Upik, salah satu siswaku terkena malaria. Sore itu Adis dan Handi tergopoh menemuiku,
“Ibunda guru, ayo, ke rumah Upik. Dia menyebut-nyebut terus nama ibu!” Teriaknya. Bergegas aku menemui Upik yang sudah seminggu sakit. Sudah berobat di puskesmas, tapi demam tingginya tidak turun bahkan beberapa jam menjadi dingin seperti es. Begitu seterusnya. Gigitan nyamuk malaria menyebabkan kondisinya menurun. Malahan ibunya bercerita kencingnya sudah hitam. Aku hampir menutup telinga mendengar igauan Upik.
“Ibunda guru, aku mau sekolah lagi. Kapan?” Tanyanya lemah. “Aku ingin main petak umpet, minum es kuwut juga bakso.” Upik menceracau keramaian pasar malam yang pernah aku ceritakan. Mataku panas, kutahan air mata sebisa mungkin.
“Jauhkah Kota Semarang? Aku tidak mau mati. Ingin sekolah terus kuliah. Jadi guru, dokter. Biar semua orang pintar dan sehat…” Dia tersenyum damai. Wajahnya jernih meski menahan sakit.
“Nak, kamu akan sembuh, sayang. Kuat, ya?” Kucoba menguatkan, walau tahu apa yang akan terjadi. Sementara ayah ibunya hanya menunduk menggumamkan doa. Dengan lirih aku talkin di telinganya kalimah illahi. Upik tersenyum. Ketika Upik menutup mata untuk selamanya barulah tangisku membuncah. Adis dan Handi memelukku. Untuk pertama kali aku menangis keras, kehilangan siswa yang pandai. Dan bagiku inilah kehilangan paling memilukan. Kami bersatu dalam kesedihan. Di usiaku yang masih belasan, menjadi sangat dewasa karena keadaan. Tapi aku bangga dan bahagia bisa bersama mereka para warga yang satu persatu sadar akan pentingnya pendidikan dan kesehatan.
✩✩✩
Siang ini aku pandangi sekolah ini lama sekali. Sekolah Dasar yang awalnya hanya tiga gedung sekarang sudah dua gedung dengan tujuh kelas. Sarana prasarananya pun lumayan lengkap. Tiada terasa dua belas tahun kulampaui di desa ini, di sekolah ini. Tiap hari berkutat dengan murid-murid yang dulunya sepi, gersang, sekarang sudah ramai, bahkan subur menghijau. Teman-teman guru pun sudah lengkap mulai dari kelas satu sampai enam.
Mataku berkabut. Kedua pelupuk mataku menggenang. Untuk kesekian kalinya aku menitikkan air mata bercampur kebahagiaan dan keharuan. Perpisahan belum dimulai tapi Adis sudah terisak-isak. Kutatap satu persatu murid yang berbaris menyalamiku. Adis memelukku erat.
“Ibunda guru, tunggu aku. Aku akan kuliah di Jawa, Aku ingin sukses seperti Ibu.”
“Jangan lupa kirim kabar, Ibu…” Handi memelukku juga, matanya semerah saga.
Pulang. Kembali ke Ayah Ibu yang sudah sepuh. Setahun ini aku memang mengurus kepindahan tugasku ke tanah kelahiranku.
Pulang ke Tanah Jawa. Calon suamiku, bakal ayah dari anak-anakku, telah menungguku untuk membangun mahligai rumah tangga di tempatku yang baru.
#Tamat#
150 Responses
Mantap….ikut terharu
Luar biasa👍👍👍..kisah yang menyentuh
Kyk real bngt
Seketika dadaku sesak membaca cerita sampai akhir… Tertarik masuk ke dimensi ruang dan waktu di kala itu
WAW KEREN POL
wahh kerenn
Mantap bgt buu
Kerenn bu..
Sangat bagus ceritanya
Bagus bgt bu
bagus pol
Keren sekali buu
Terharu sekalii
sedih… tpi ikut terharu
KEREN, jadi seperti ikut merasakan kesedihannya
merasa tersentuh dengan ceritanya
Bagus sekali ibuk…
mantap sekaliii
Cerita ini menggambarkan kisah seseorang yang pantang menyerah untuk mengejar pendidikannya, kerenn Bu, semangat untuk berkarya selanjutnya!
terharu banget bacanyaa
bagus sekali alur ceritanya, sangat recomend buat di baca
Sangat bagus sekali
keren, bagus banget
Ikut sedih bacanyaa
Ceritanya mengharukan
Selalu. Tidak pernah gagal dalam meramu cerita.
Bagus sekali ibu
Haru biru
Sangat related, melalui tulisan ini seperti kembali ke masa itu
Harus berani ikuti kata hati, karena kata kata yang tulus cuma dari diri sendiri dan keluarga,,,,
luar biasa sekali, sampai baper 🥹🥹
mantap bu, sangat terharu dengan ceritanya, dan sangat terinspirasi
#Tamat#
Bagus sekali
Sangat menyentuh hati, ikut larut dalam kesedihannya, keren banget
Kerenn bangett
Penuh inspirasi…di tengah masuknya TNI ke Kampus, dari cerita ini terlihat….jikalau perjuangan seorang guru tidaklah hanya sekadar pendidikan 6 bulan yang menggenjot otot-otot….melainkan tentang mental, nalar yang bersatu padu mengabdi dengan ikhlas….
Semoga Bu Varuni senantiasa diberi rezeki atas pengabdiannya…
Aminnn….
Sangat menginspirasi, memberi semangat untuk mengabdi pada negri
Keren banget ikut terharu
Sangat menginspirasi
kerenn, ikut terharuu
Kisah yang begitu menyentuh dan menginspirasi dalam menghadapi kesulitan ekonomi keluarga dan melanjutkan pendidikan hingga menjadi orang yang bermanfaat untuk sesama
Menyentuh, inspiratif dan penuh haru
Keren banget, ikut terharu
Sangat menginspirasi dan keren
Touched
Mantapp, cocok ceritanya untuk anak-anak
Jadi kangen rumah.
… Touched ..
mkasdari@gmail.com
Bagus sekali membuat terharu,👍🏻👍🏻👍🏻
Cerita ini sangat terasa nyata.
Mengingatkan akan mamah sy yg juga seorang guru SD dulunya.
Semangat terus berkarya Bu Varuni
selalu berkesan dan bermakna
Keren abis, sangat inspiratif, sebuah kisah yang menunjukan bahwa untuk bisa sekolah tinggi dan menjadi sukses tidak hanya untuk orang mampu/kaya sj ,tp kalangan orang kurang mampupun bisa, jika ada niat dan semangat
Mantap sekali bu
Sungguh sebuah kisah yang mengharukan.
Luar biasa sekali bu
Kebahagiaan berawal dari perjuangan.
Tangis bahagia 😍
Keren banget! Ditunggu karya-karya selanjutnya…
Mantap Bu, keren, semoga semakin sukses kedepannya🙏
Penuh dengan moral🥰
Tidak pernah ketinggalan baca ceritanya bu nunik
Peak writing ✋😳🤚
Bunda, Luar biasa.. 🩷🩵
🤩
Mantap Bu, kerenn sekali🥳
Setelah membacanya saya menjadi sangat termotivasi.
kreatif dan sangat menginspirasi
Jadi ikutan terharu
Kisah pengabdian yang diceritakan benar-benar menggambarkan perjuangan dan ketulusan dalam mendidik. Semoga lebih banyak orang yang terinspirasi untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan dengan sepenuh hati seperti tokoh dalam cerita ini.
Ikut terbawa alurnya.
sangat bagus cerita nya dengan alur yang sangat seru
Bacanya bikin haru 😭 Seorang guru rela pindah ke pelosok Sumatera, ngajarin anak-anak yang awalnya ogah sekolah. 12 tahun penuh perjuangan, kini murid-muridnya punya mimpi besar dan sekolahnya makin maju. Respect untuk semua guru yang terus jadi cahaya di tempat terpencil 🙌
#GuruHebat #PahlawanTanpaTandaJasa #CeritaInspiratif #Respect
Seperti kisah nyata
Sangat mengharukan, tetep semangat bun
mantap banget….. Ikut terharu
Sangat2 terharu, seperti kisah nyata
Keren ibuu.. ceritanya sangat menyentuh hati
Keren ibuu.. ceritanya menyentuh sekali
Luar biasa, sebuah kisah yang sesuai dengan kehidupan di sekitar kita..
Ceritanya ringan tapi sangat menyentuh hati🕊️
Luar biasa ceritanya, sangat menginspirasi
Luar biasa
Ternyata lebih pilu ceritanya…..
Salam untuk handi dan adish…
Surga untuk Upik….kelak akan dikumpulkan dg guru guru tercintanya……
Sangat menginspirasi
Ternyata lebih pilu ceritanya…..
Salam untuk handi dan adish…
Surga untuk Upik….kelak akan dikumpulkan dg guru guru tercintanya……
#pahlawan sejati yg selalu dirindukan
#kesuksesan dg jalan yang berlika liku , pilu bagi yang merasakan , tapi sekarang menjadi bahan indah untuk diceritakan….
cerita yang sangat menyentuh
Semangat buk🙏
Semangat buk
Bagus ceritanya, plotnya banyak yang relate dengan dunia nyata dan pesannya dapat diambil❣️
Cerita yang bagus untuk menginspirasi generasi muda
Jadi ikut terharu 😔
Mantap kali
Terus menjadi contoh agar murid2nya mau dan berani berkarya. Seorang guru harus berbuat spt itu … berkarya. Dan ikhlas memberikan bimbingan pada murid.
Sangat lah perlu didikan kegenerasi muda / penerus bangsa dengan pengalaman nyata sehingga tumbuhlah generasi ulet serta memiliki rasa kemandirian
Sangat menyentuh hati
Ceritanya sangat menyentuh hati. Jadi terharu dan ikut menangis…
Karya yang luar biasa.
Sesuai dengan realita kehidupan
Ikut hanyut dalam alur cerita, pengen nangis…..
Keren sekali Bun
Keren Bun
Singkat namun memikat
Maa syaa Allah.. Sampai terbawa alur cerita nya,, terus lah berkarya sahabat ku,, satu kata untuk bu guru.. Kereeeen
Sungguh menginspirasi sekali, kalimatnya sangat menyentuh dan terbawa suasananya.
Mantap
Sedih 🥺
The best..
Terharu tapi endingnya bahagia.. Mantap
Wahh keren banget
kerenn bgt🥹💗
Keren banget ,paling gak kuat kalau cerita berbau orang tua 😭😭
istimewa cerita ini
suka banget.
Nice
pengabdian yang luar biasa🥰
Semangat, terus rajin menulis ya
Ikut terbawa suasana
Tulisan yg menarik dan inspirasi. Luar biasa ibu varuni.
terharuu 🥹 sukses terus ibukuu 🥰❤️
Top markotop
Sepenggal kisah tentang perjalanan hidup yang menginspirasi untuk tetap semangat, sabar dan bangkit dari yang biasa menjadi luar biasa…
Menarik sekali ceritanya bu
Keren sekali, Ibu. Karyanya sangat menyentuh dan penuh makna, jadi teharuuu sama jalan ceritanya…
Terbaik 💗
keren bangetttt
bagus bgttt huhu
keren banget bu, menarik banget ceritanya
Ceritanya bagus banget sangat menginspirasi. Mantap 👍
Mantap, seperti kejadian nyata
MashaAllah, ceritanya sangat menyentuh hati dan menginspirasi sekali.
Luar biasa….sangat menyentuh hati….
Baguss, mantap sekali
Keren banget, terharu🤗
MashaAllah, ceritanya sangat menyentuh hati dan menginspirasi sekali.
Luar biasa…teruslah berkarya shobat…anda emang hebat dari sama2 duduk dibangku kuliah
Ihhh bagus keren bagt ibuu
Keren sekalii, semangat guys
KEREN BANGETTT, SEMANGATT BU🔥🔥
Keren puollll
Mantabb bu
Menginspirasi
Ceritanya simple bagus dan mengena
Jadi ikut terharu bu, bagus banget ceritanya, keren bu nunik
Ispiratif dan natural…jempol
Bagus poll bu, seperti ditarik masuk ke dalam ceritanya 🥺
Semangat berkarya bu Varuni 🥰
Ditunggu karya-karya selanjutnya 🤗
Kisah yang menyetuh hati, hingga tak terasa air mataku jatuh….
Ceritanya bikin haru
Ceritanya sangat menarik
Sangat bagus
mantap
Baik dan bagus sekali