Sudahkah Kita Merasakan Merdeka

Kita berdiri di tanah yang retak,
Merdeka katanya, tapi jiwa masih terikat.
Rantai usang diganti belenggu baru,
Di dada, sunyi menjerit, kelabu.

Langit merah, darah leluhur mengalir,
Tapi di pasar, kita saling menelikung tajir.
Kebebasan hanya topeng di muka,
Merdeka, atau cuma nama di luka?

Jalan berdebu, langkah kita tersesat,
Cita-cita dulu kini tinggal ampas.
Kita nyanyi lagu kebangsaan, kuat,
Tapi hati bertanya: merdeka itu apa?

Kata-kata Chairil menggema di tulang,
“Kalau aku bukan milikku, milik siapa?”
Merdeka bukan hadiah, bukan piala,
Tapi perang di jiwa, tak pernah usai.

Di sawah hijau, petani masih menunduk,
Merdeka di mulut, tapi perut meluduk.
Pabrik-pabrik menderu, siapa yang kaya?
Kebebasan ternyata cuma milik yang jaya.

Anak-anak berlari, tawa mereka liar,
Tapi buku di tangan penuh debu menutup.
Merdeka belajar, katanya, dia ucap
Merdeka, atau cuma mimpi di siang?

Kita menari di atas tanah para pahlawan,
Tapi lupa, merdeka bukan cuma ucapan.
Hak kita atas tanah, atas udara,
Masihkah kita budak di jiwa yang para?

Di kota, lampu gemerlap menipu mata,
Di desa, gelap malam menelan nyata.
Merdeka sejati lahir dari hati,
Bukan dari bendera, bukan dari arti.

Sudahkah kita merdeka, tanya angin malam,
Atau masih terkurung dalam jeruji?
Bangun, hai jiwa, lawan belenggu waktu,
Merdeka adalah api, menyala di kalbu.

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *