Ibu pergi saat aku masih belajar menjadi dewasa,
seragam SMA masih menyimpan tangis yang belum selesai,
sejak hari itu rumah terasa terlalu luas,
seolah hangatmu ikut pergi bersama waktu.
Di sudut-sudut sepi masih hidup nasihatmu,
tentang sabar yang harus kupakai setiap hari,
tentang senyum yang tak boleh kalah oleh luka,
dan batas diri yang kau jaga untukku sebagai muslimah.
Aku tumbuh dari doa-doa yang dulu tak kupahami,
dari suaramu yang lembut menenangkan gelisah,
kini setiap langkah terasa mencari arah pulang,
seperti anak kecil yang kehilangan genggaman tangan.
Ada cinta yang dulu terlalu malu kuucapkan,
kata sayang yang selalu kembali menjadi diam,
aku ingin menuntunmu menuju tanah suci,
namun takdir lebih dahulu memanggil namamu.
Sejak kepergianmu, rumah belajar mengenal sunyi,
kursi makan tak lagi menunggu kepulangan,
aku sering pulang hanya untuk merindukanmu pelan,
dan menyebut namamu dalam doa yang bergetar.
Ibu, aku masih mengingat tahajud panjangmu,
air mata yang jatuh tanpa ingin diketahui siapa pun,
Baitullah adalah mimpi yang kau jaga sepanjang hidup
dan aku akan membadal hajimu, melanjutkan doa yang belum selesai.






