Miro, Kalijaring 30 Agustus 2025
Duh Gusti, melalui surat ini maafkan kami. Ini bulan suci kelahiranmu harusnya penuh sukacita. Tapi dukacita melanda umatmu di samudera nan jauh, kami menyambut bulan ini dengan luka, amarah, dan menjarah. Melihat yang tertindas terlindas, melihat yang terjajah terenggut nyawa. Sedang mereka yang tertuduh, lari tanpa maaf, berjoget tanpa rasa.
Duh Gusti, sungguh ini tragedi. Dari rakyat kelaparan hingga ratusan pembakaran. Tangis dan amukan berkelindan di udara. Asap dan darah mewarnai berbagai ibu kota.
Duh Gusti syafaatikah kami, agar bangsa ini tetap berdiri. Menegakkan syariat yang engkau perjuangkan. Mewujudkan ajaran yang engkau sampaikan. Menjadi baldatun yang engkau dambakan .
Duh Gusti ini akhir suratku, sekali lagi maafkan kami sungguh. Menyambut bulan lahirmu dengan haru. Semoga bukan pertanda kami jauh dari syafaatmu. Semoga ridhamu menyertai langkah bangsaku. . . Shollu alannabi shollu alannabi.