Oleh: Najiatul Khusna
Pernahkah kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kita kejar dalam riuh rendah dunia ini? Di saat banyak orang menghabiskan napas untuk menumpuk angka di buku tabungan, atau berebut panggung demi sebuah pengakuan, sejarah pernah mencatat sebuah nama yang langkah kakinya begitu sunyi, namun getarannya terasa hingga hari ini. Ia adalah Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani. Seorang putra Nusantara yang membuktikan bahwa kemuliaan tidak lahir dari mahkota, melainkan dari tinta dan ketulusan.
Lahir di Banten pada abad ke-19, Syekh Nawawi kecil bukanlah anak biasa. Di balik matanya yang bening, tersimpan dahaga akan ilmu yang melampaui batas cakrawala. Saat pemuda seusianya mungkin sibuk memikirkan peruntungan dagang, ia justru memilih jalan yang terjal: merantau ke Makkah. Bukan untuk mencari kepingan emas, bukan pula untuk mengejar status sosial. Ia pergi untuk menghamba pada ilmu.
Bayangkan suasana Masjidil Haram kala itu. Di bawah naungan kubah-kubah suci, di antara rupa-rupa bangsa yang beradu dalam doa, Syekh Nawawi muda bersimpuh. Tahun demi tahun ia habiskan untuk berguru pada ulama-ulama besar. Kesungguhannya adalah api yang tak kunjung padam. Dan Allah, Sang Pemilik Ilmu, mengangkat derajatnya. Putra Banten itu tidak hanya menjadi murid yang cerdas, ia menjelma menjadi guru bagi dunia. Namanya harum sebagai Sayyidul Hijaz. Sebuah kehormatan yang luar biasa; seorang anak bangsa mengajar di jantung peradaban Islam, di hadapan murid-murid dari berbagai penjuru bumi.

Namun, yang membuat hati kita bergetar bukanlah sekadar posisinya yang tinggi. Melainkan jemari yang tak lelah menari di atas kertas. Beliau menulis puluhan kitab, mulai dari tafsir yang mendalam seperti Tafsir Al-Munir, hingga panduan akhlak dalam Maroqil Ubudiyah. Ada pula Qutul Habibil Gharib, Nashaihul Ibad, hingga Uqudul Lujain, dsb yang begitu akrab di telinga santri-santri kita. Karya-karyanya adalah mata air yang menghidupi generasi.
Secara duniawi, dengan kedudukan setinggi itu, beliau bisa saja hidup berlimpah kemewahan. Namun, Syekh Nawawi memilih jalan yang sunyi dari gegap gempita harta. Beliau memilih kesederhanaan sebagai pakaian jiwanya. Baginya, kekayaan sejati bukanlah apa yang tersimpan rapat di dalam lemari rumah, melainkan apa yang tertanam kuat di dalam hati manusia. Beliau adalah teladan nyata bahwa aset terbaik bukanlah tanah atau kendaraan, melainkan ilmu yang bermanfaat.
Saat beliau wafat di Makkah, tidak ada warisan materi yang menggunung. Namun, lihatlah! Cahaya ilmunya tak pernah padam. Hingga hari ini, di pesantren-pesantren pelosok nusantara, nama beliau terus disebut. Doa-doa untuknya terus mengalir dari bibir-bibir pencari ilmu yang bahkan tidak pernah menjabat tangannya. Itulah kemuliaan yang sesungguhnya. Harta bisa dibagi dan habis, jabatan bisa hilang dimakan waktu, tapi ilmu yang ikhlas akan terus hidup, melintasi zaman, menembus dimensi kematian.
Hari ini, mari kita berkaca. Apa yang sedang kita siapkan untuk masa depan yang abadi? Jika Syekh Nawawi meninggalkan warisan ilmu yang menerangi dunia, apa yang akan kita tinggalkan? Semoga kita tidak hanya menjadi pengagum sejarah, tapi juga pengambil ibrah. Semoga barokah beliau senantiasa menyertai langkah kita dalam mencari ridha-Nya. Lahu Al-Fatihah.
Pembelian Kitab Terjemah Tafsir Al-Munir Karya Syekh Nawawi Al-Bantani, KLIK DISINI!






