Takbir Terakhir Ibu, Jumat Terakhir Kakak – Rahmania Arunita

Aku tiga bersaudara.

Kakak pertamaku perempuan. Ia meninggal bahkan sebelum aku lahir. Namanya hanya tinggal dalam doa-doa ibu. Kakak keduaku tumbuh bersamaku. Dialah yang benar-benar membersamai hari-hariku, teman bertengkar, teman berbagi, teman diam ketika rumah terasa terlalu sunyi.

Sejak kelas dua SD, aku menerima beasiswa. Kepala sekolah pernah menyebutku “otak komputer”. Aku tidak pernah merasa istimewa. Aku hanya tahu satu hal: hidup kami tidak selalu ringan. Dan jika aku tidak berusaha lebih, beban itu akan semakin berat bagi orang tuaku.

Uang sakuku sering kali lebih sedikit dibanding teman-temanku. Aku belajar tersenyum saja ketika mereka membeli jajanan lebih banyak. Kelas empat SD, aku mulai mengajar les privat. Awalnya hanya membantu teman mengerjakan PR karena orang tuanya memintaku. Ketika mereka memberiku sedikit uang, aku menerimanya dengan perasaan campur aduk, malu, tapi juga bangga.

Lalu aku mulai mengajar adik sepupu. Sejak kecil aku belajar bahwa meminta bukan satu-satunya cara untuk bertahan. Ada harga diri yang tumbuh setiap kali aku bisa menghasilkan sesuatu dari kemampuanku sendiri.

Saat SMP, aku membantu mengajar ngaji di rumah Al-Qur’an milik kakakku. Suaraku masih sering ragu. Ilmuku belum banyak. Tapi hidup seolah tidak memberiku pilihan untuk menunggu sampai benar-benar siap.

SMA, segalanya berubah.

Ibuku sakit. Tubuhnya perlahan kaku, tak lagi bebas bergerak. Rumah yang dulu hangat berubah menjadi ruang yang lebih banyak diamnya. Aku belajar membaca raut wajah ibu ketika ia menahan sakit. Aku belajar menahan tangis agar tidak membuatnya merasa bersalah.

Di saat teman-temanku sibuk mempersiapkan universitas impian, aku sibuk menjaga ibu. Aku juga ingin kuliah jauh. Sangat ingin. Tapi setiap kali melihat ibu terbaring, keinginan itu terasa seperti sesuatu yang egois.

Aku memilih bekerja sambil menunggu ijazah keluar. Kupikir waktu masih panjang.

Ternyata tidak.

Di awal takbir Idul Adha berkumandang, ibu mengembuskan napas terakhirnya. Suara takbir bersahut-sahutan di luar, orang-orang memuji kebesaran Tuhan. Di dalam rumah, duniaku runtuh pelan-pelan.

Di detik terakhirnya, ibu tak berhenti memandangiku. Tatapannya panjang, dalam, seolah ada pesan yang tertahan. Wasiatnya sederhana: aku diminta tinggal bersama tanteku, adik ayah, di luar daerah. Katanya aku akan lebih terjaga di sana.

Tapi aku tidak sanggup meninggalkan ayah dan kakakku.

Belum genap tiga hari ibu pergi, seluruh barang jualannya habis diambil oleh saudara kandungnya sendiri. Butik ibu yang dibangun dengan susah payah mendadak kosong. Ayah lebih banyak diam. Diam yang tidak pernah bisa kuterjemahkan.

Aku menyerahkan gajiku untuk membantu menutup kerugian. Tidak besar, tapi itu caraku berdiri di samping ayah. Caraku mengatakan bahwa ia tidak sendiri.

Aku memilih kuliah online agar tetap bisa menjaga ayah dan rumah ini. Mungkin bukan pilihan yang paling dibanggakan orang lain, tapi bagiku, ini adalah bentuk tanggung jawab.

Semester tiga, aku harus operasi. Rawat inap. Lampu ruang operasi terlalu terang, dan untuk pertama kalinya aku merasa sangat kecil. Tapi yang lebih membuatku gelisah adalah membayangkan kakakku sendirian di rumah. Ayah menungguku sendirian di depan ruang operasi, dengan wajah yang berusaha tenang meski aku tahu hatinya tidak benar-benar demikian.

Aku hanya bertahan sehari setelah operasi. Jahitanku masih baru. Langkahku masih pelan. Tapi aku pulang. Aku tidak sanggup meninggalkan kakakku sendirian terlalu lama.

Tiga hari setelah operasi, aku harus kontrol jahitan ke rumah sakit. Hari itu aku pergi bersama temanku. Aku bahkan belum sampai di rumah sakit ketika telepon itu masuk.

Kakakku kecelakaan parah.

Ia sedang di puskesmas.

Dunia terasa menyempit. Rasa perih di perutku seperti terbelah lagi. Aku belum benar-benar sembuh, tapi aku sudah harus berlari kembali.

Di tengah kepanikan itu, seorang tante dari pihak ibu berteriak kepadaku. Ia menyalahkanku. Katanya aku tidak becus menjaga kakakku. Kata-katanya jatuh lebih tajam daripada rasa sakit di tubuhku. Aku ingin menjelaskan bahwa aku bahkan sedang menuju rumah sakit untuk memastikan jahitanku tidak bermasalah. Tapi tidak ada ruang untuk pembelaan.

Beberapa hari kemudian, di hari Jumat bulan Ramadhan, kakakku meninggal.

Ramadhan yang seharusnya penuh doa berubah menjadi bulan perpisahan. Seolah hidup ingin memastikan bahwa aku benar-benar belajar tentang kehilangan.

Kini tinggal aku dan ayah.

Rumah terasa terlalu luas untuk dua orang. Setiap sudut menyimpan kenangan. Setiap malam terasa lebih panjang dari biasanya.

Ramadan pertama tanpa ibu dan kakak, aku bangun sendiri untuk menyiapkan sahur. Aku berdiri di dapur yang dulu selalu ditempati ibu. Tanganku masih kaku memotong bahan makanan. Rasanya tidak pernah sama. Tapi ayah selalu berkata, “Sudah lebih dari cukup.” Dan aku tahu itu bukan tentang rasa.

Itu tentang bertahan.

Aku memilih tetap di sini. Memilih kuliah online. Memilih menjaga ayah. Bukan karena aku tidak punya mimpi, tapi karena bagiku, keluarga bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan demi ambisi.

Ayah,

Semoga Allah memanjangkan umurmu dalam kesehatan. Melembutkan hatimu yang terlalu sering menahan duka. Dan mengganti setiap kehilangan dengan ketenangan yang tidak terlihat tapi terasa.

Untuk ibu,

Semoga Allah melapangkan kuburnya. Menjadikan takbir terakhir yang ia dengar sebagai cahaya yang tak pernah padam.

Untuk kakakku,

Yang pergi di hari Jumat bulan Ramadhan. Semoga Allah menerima segala amalnya. Mengampuni khilafnya. Dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan untukku,

Semoga aku diberi cukup kuat untuk menjaga ayah sampai akhir. Cukup sabar untuk tidak membenci takdir. Dan cukup teguh untuk membuktikan bahwa semua air mata ini tidak pernah sia-sia.

 

Aku tidak tahu ke mana hidup akan membawaku.

Tapi aku tahu, aku tidak akan berhenti berjalan.

Sampai suatu hari, ketika namaku disebut,

Yang terdengar bukan hanya pencapaian

Melainkan senyum ayah,

Dan doa ibu serta kakak

Yang tidak pernah benar-benar pergi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *