Balada Piala Tut Wuri Handayani
Karya: Wendhy Rachmadhany, S.Pd.
Astaga!! sepertinya aku telah mengambil keputusan yang sangat konyol.
Semua gara-gara pertemuan rutinku dengan sejumlah guru sejarah SMA se-Kabupaten pada waktu itu. Mereka seolah datang hanya untuk pamer kelebihan dan prestasi yang sudah mereka lakukan untuk sekolah tempat mereka mengajar. Sedangkan aku hanyalah guru baru di sekolah kecil yang terletak di perbatasan dua kabupaten. Alhasil aku cuma menjadi penonton dalam ajang saling pamer yang mereka lakukan. Mereka terus berbicara serupa tukang jual obat di pasar. Sambung menyambung dengan penuh semangat hingga ludahnya berlompatan keluar. Lama-lama aku jadi malas untuk mendengar ocehan mereka.
“Oh ia Pak-Bu, sebentar lagi akan diadakan event tahunan olimpiade sejarah se-Kabupaten, tiga tahun berturut-turut sekolah saya yang menang, sepertinya tahun ini sekolah saya juga berpeluang.” Bu Emy yang mengajar di sekolah terfavorit se-Kabupaten ini sengaja ingin memberikan info yang disisipkan dengan prestasi sekolahnya. Sama sekali tidak sungkan malah ia tersenyum melihat beberapa guru yang memandangnya dengan sewot. Sedangkan aku menatapnya dengan penuh binar teringat kenanganku pada waktu itu.
Mendadak aku seperti terlempar ke masa indah itu. Ke masa ketika aku memenangkan olimpiade sejarah sekitar 5 tahun yang lalu. Mata pelajaran yang menjadi favoritku karena menggoreskan peradaban dan kisah-kisah begitu bernilai tentang masa silam. Selama mempelajari atau sekedar membaca buku-buku sejarah ada kekuatan lebih yang membuatku tidak lelah untuk terus menekuninya, karena sangat menyukainya maka aku putuskan untuk kuliah di jurusan sejarah hingga mata pelajaran sejarah kini menjadi bagian dalam hidupku.
Mendengar tentang olimpiade sejarah membuat jantungku rasanya kembali berdebar. Masih teringat jelas dalam benakku keriuhan suara teman-temanku dan piala Tut Wuri Handayani yang aku menangkan pada waktu itu, piala berbentuk cawan berwarna perak berukuran 57,5 cm x 25 cm dengan ukiran burung merpati itu pernah sekali aku miliki. Sebagai guru aku ingin murid-muridku merasakan kegembiraan serta adrenalin yang sama seperti yang aku rasakan pada waktu itu. Sekolah tempatku mengajar pasti bisa memenangkan olimpiade itu dan akan menjadi prestasi yang sangat membanggakan.
“Tidak mungkinlah!, semester lalu SMA saya jadi juara lomba mesum nasional, kalau sekedar kompetisi tingkat kabupaten pasti tahun ini SMA saya jauh lebih berpeluang,” seakan tak mau kalah Pak Husein berusaha menandingi ucapan Bu Emy tadi dengan berapi-api. Suasana yang awalnya penuh dengan keakraban berubah menjadi sedikit memanas. Mereka berdua saling menatap sinis yang kemudian mendatangkan suara gemuruh dari bapak-ibu yang hadir pada pertemuan rutin tersebut.
Aku merasa bahwa SMA tempatku bekerja juga berpeluang, meskipun sedikit berat namun aku yakin sekolah kecilku akan berhasil membawa pulang piala kemenangan yang diharapkan oleh semua guru tersebut. Sepertinya akan ada pertarungan yang sangat menarik disini, aku tidak bisa terus diam, menjadi penonton dan melewatkan semuanya begitu saja. Usiaku memang masih muda sehingga tidak punya pengalaman sebanyak bapak-ibu guru tersebut tetapi aku tidak ingin menjadi pecundang yang kalah sebelum bertanding.
“Mohon maaf sebelumnya, Bapak-Ibu tahun ini sekolah saya juga akan ikut dalam olimpiade sejarah tersebut, saya yakin semua sekolah berpeluang untuk memenangkan kompetisi dan begitupun sekolah saya.” Mulutku yang sedari tadi gatal ingin mengatakan sesuatu akhirnya begitu lancar mengungkapkan apa yang sedari aku pikirkan, rangkaian kata-kata tadi meluncur begitu saja memecah kegaduhan hingga membuat diriku sendiri merasa terkejut.
Selama beberapa detik semua orang yang hadir dalam ruang pertemuan berukuran 9 m x 8 m ini jadi terdiam, suasana mendadak sepi menyisakan suara kipas angin yang menempel pada dinding. Mereka semua menatapku seolah tidak percaya dengan apa yang telah mereka dengar. Terlihat pula bu Emy dan pak Husein yang tadinya berselisih menjadi kompak memelototiku penuh rasa heran yang memaki. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya bahwa semua guru akhirnya akan menertawakanku. Ruangan jadi riuh penuh dengan gelak tawa. Ada yang mencibirku, menganggapku guru baru yang tak tahu diri. Berani-beraninya bergabung dalam kompetisi yang sangat mustahil untuk sekolahku menangkan.
Aku berjalan gontai meninggalkan pertemuan rutin guru mata pelajaran sejarah yang beberapa menit lalu telah berakhir. Jujur saja ditertawakan dan diragukan seperti itu membuat nyaliku sempat ciut. Aku merasa konyol karena telah memasukkan diriku sendiri ke dalam sebuah masalah. Anehnya sama sekali aku tidak ingin mundur, pikirku “kalau tidak sekarang maka kapan lagi?!.” Keberanian akan menciptakan suatu perubahan, memang aku bekerja di sekolah perbatasan yang kualitas siswanya sering kali diragukan. Ada yang bilang sekolahku kampungan, sekolah pinggiran, sekolah terpencil dan berbagai macam julukan lainnya yang membuat dada ini sesak. Namun aku sangat percaya dengan adanya usaha maka akan ada keajaiban.
***
“Ngapunten ingkang kathah kulo mboten saget Pak, lintunipun menawi saget ,” dengan sedikit ragu ia menolak ajakanku lalu ia menunduk seolah telah melakukan kesalahan. Belum apa-apa aku sudah merasa diuji, selain Lailul entah siapa lagi muridku yang bisa dimintai tolong. Dalam pelajaran sejarah di kelas ia siswiku yang paling cerdas dan kritis sehingga menurutku tidak salah apabila aku memilihnya untuk mewakili sekolah dalam olimpiade sejarah tahun 2023 ini.
Sebenarnya di sekolah ini banyak sekali siswa dan siswi yang berbakat namun sayangnya banyak dari mereka yang tidak percaya diri. Pihak sekolah sudah berupaya mengembangkan potensi yang mereka miliki tapi sedihnya harapan dari sekolah tidak bisa selalu terwujud, banyak hal yang jadi penghalang anak-anak di sekolah ini untuk berprestasi. Mereka sering dihadapkan pada suatu pilihan seperti membantu orang tua mereka di sawah yang jelas ada hasilnya atau belajar seharian untuk lomba yang belum tentu menang. Aku merasa perlu mengubah cara pandang mereka termasuk meyakinkan siswi ku Lailul yang sebenarnya sangat berpotensi.
“Bukankah selama pelajaran Pak Wendhy kamu selalu aktif ?, kamu juga selalu menunjukkan ketertarikan mu terhadap mata pelajaran sejarah, saya yakin kamu pasti bisa berprestasi di olimpiade sejarah tahun ini nduk , sekolahmu ini minta tolong sama kamu,” aku tidak menyerah dengan terus berusaha membujuknya. Dia adalah anak yang sangat berpotensi dan sayang sekali apabila harus dilewatkan begitu saja.
Aku menunggu reaksinya dan gadis itu tetap saja tertunduk. Jam istirahat sudah mulai habis, kurang dari 5 menit lagi ia harus masuk kelas, tapi aku tidak akan membiarkannya pergi dari ruang guru dengan rasa ragu hingga percakapan kami dari tadi hanya berakhir dengan sia-sia. Terselip ada rasa was-was kalau ia akan tetap teguh dengan pendirinya. Namun ketika ia menatapku dan hendak mengatakan sesuatu jantungku ini terasa berdetak begitu kencang.
“Hehehe pak badhe tanglet umpami kulo mangke pikantuk juara,, hehehe nopo kemawon angsalipun hadiah, ngapunten pak meniko naming tangklet ?”, tanyanya dalam bahasa jawa sambil tersenyum malu-malu. Merasa akan ada pertanda baik aku pun tersenyum sumringah ketika ia mulai mengajukan pertanyaan, sepertinya aku akan berhasil mempengaruhinya.
“Kamu akan mendapatkan piala Tut Wuri Handayani piala perak yang sangat membanggakan, sertifikat juara dan Uang pembinaan. Jadi pripun nduk sampeyan saget ikut lomba??,” Aku menanyakannya dengan raut wajah yang amat serius. Mataku terus mengamati gerak geriknya seolah ingin menyematkan sebuah harapan di pundaknya.
“Injih Pak, sepertinya saya tertarik untuk ikut”, meskipun ia mengatakannya dengan lirih namun jawabannya sangat jelas membuatku senang. Baiklah, ini waktunya untuk kami berdua bekerja keras!.
***
Hampir setiap hari di jam pulang sekolah hingga sore, aku melatih Lailul dengan berbagai macam materi sejarah yang lumayan berat. Aku melatihnya cara cepat untuk membaca soal sejarah yang sangat panjang, membimbingnya mengerjakan sejumlah soal olimpiade sejarah tahun lalu dan yang tak jauh lebih penting adalah mengajarinya kiat-kiat khusus untuk mengendalikan diri agar tetap tenang selama mengerjakan latihan soal. Aku bersyukur anak itu bisa dengan cepat memahami semua materi yang telah aku berikan, dia begitu bersemangat menguasai setiap detailnya padahal aku tahu bahwa sebenarnya energinya sudah banyak terkuras selama kegiatan di sekolah tadi. Sampai disini aku jadi semakin yakin dengan pilihanku, Lailul memang anak yang bisa diandalkan.
Seperti meminjam istilah perang puputan Margarana di Bali yaitu berjuang sampai titik darah penghabisan, kami pun terus berjuang tak kenal lelah agar bisa memberikan yang terbaik dalam olimpiade sejarah tahun ini. Selama berhari-hari aku jadi tidak bisa tidur karena terus memikirkan perlombaan yang semakin hari semakin terasa dekat. Entah materi apalagi yang harus aku berikan agar hati ini bisa mantap, semua bekal ilmu rasanya sudah aku berikan. Misal materi sulit tentang zaman pra aksara di Indonesia. Anak itu sudah mampu menghafal dengan sangat baik angka tahun, jenis-jenis manusia purba hingga bentuk artefak dan juga fosil pada tiap-tiap periodisasi zaman pra aksara. Ia juga sangat paham tentang tiap alur peristiwa orde lama, orde baru hingga ke reformasi 1998. Tapi rasanya masih ada saja materi yang belum aku jejalkan kepadanya.
Mungkin aku hanya kurang berserah diri. Meskipun di hadapan muridku aku selalu berusaha menjadi guru sekaligus motivator yang baik. Namun disisi lain aku juga manusia biasa yang juga punya rasa cemas. Aku takut akan semakin menjadi bahan sindiran guru sejarah SMA se-kabupaten, seandainya pada waktu itu aku tidak mengambil keputusan yang konyol. Ahhh sudahlah!, tidak perlu ada yang disesali. Aku berjuang disini bukan hanya untuk diriku sendiri akan tetapi juga untuk anak – anak didiku dan sekolah tempatku bekerja, tidak akan aku biarkan rasa cemas ini mempengaruhiku hingga mengganggu fokus Lailul.
Ketika aku melihat kesungguhan dan kerja kerasnya, aku seperti yakin bahwa masa depan anak itu akan begitu bersinar. Aku yakin ia akan menjadi orang yang hebat dan bisa melampaui guru sejarahnya ini. Ia akan menjadi dosen atau tenaga profesional di bidang sejarah. Ia juga akan menjadi wanita sukses dengan mewujudkan semua mimpi-mimpinya. Tidak hanya menjadi ibu, menjadi istri dan kemudian memanggul takdirnya dalam ketidak berdayaan. Terbayang dalam benanku bahwa Lailul anak didiku akan menjadi inspirasi bagi wanita di sekitarnya untuk suatu perubahan yang lebih baik. Sehingga sangatlah penting untuk terus membekalinya dengan cara pandang yang lebih luas.
***
Aku seperti tersambar petir di siang bolong yang rasanya begitu sakit tapi tidak berdarah. Ayah Lailul datang meminta agar anaknya tidak diikutkan lagi olimpiade sejarah,“Kathah pandaleman griyo ingkang keteteran gara-gara repot belajar damel persiapa lomba niku, sak ngajengipun damel sakmantuk ipun sekolah yugo kulo kedah sak cepete mantuk lan mboten angsal wonten Latihan ! ,” laki-laki paruh baya berbatik agak sedikit pudar yang mengenakan peci itu menatapku dengan sebal seolah aku ini adalah biang masalah.
“Lailul siswa kami yang paling pandai di sekolah ini Pak, terutama di bidang sejarah anak bapak menunjukkan minat yang luar biasa, saya yakin dia bisa meraih prestasi di olimpiade sejarah tahun ini. Mohon bapak memberi kesempatan untuk anak bapak agar bisa mempersiapkan dan mengikuti lomba tersebut” aku berusaha menjelaskan panjang lebar sambil memohon untuk diberi kesempatan. Tak terbayangkan energi dan waktu yang telah kami maksimalkan selama ini agar bisa mempersembahkan yang terbaik.
“Yugo kulo mboten pamit nderek lomba! dados piambaipun manthuk sonten lan meninggalkan sedoyo kewajiban wonten griyo. Kulo naming tiang mboten gadah pak, yugo saget sekolah mawon sampun bejo, mboten susah tumot ingkang macem-macem!! .” Wali murid itu sudah mulai tak sabar. Ia seperti tidak ingin berdebat lebih lama lagi lalu memintaku agar paham dengan kondisinya sulit. Tanpa meminta izin dariku ia pergi begitu saja, sedangkan aku masih sangat terkejut dan tengah menjadi bahan tontonan di ruang guru.
Aku jadi bingung harus berbuat apa, sempat berkonsultasi dengan ibu kepala sekolah tapi tetap tidak membuahkan hasil apapun. Beliau hanya mengatakan tentang cara pandang masyarakat sekitar terhadap pendidikan yang perlu waktu untuk merubahnya. Sekolah memang sering mendapatkan penolakan ketika hendak mengikutkan murid-muridnya lomba, para wali murid juga menganggap bahwa mengikuti lomba hanya buang-buang waktu tak berguna. Seperti pepatah jawa kesandhung ing rata, kebentus ing tawang aku guru baru di sekolah ini yang belum apa-apa sudah kena masalah tak terduga. Teman-temanku sesama guru di sekolah ini memperingatkanku agar aku mundur, akan tetapi aku tidak peduli karena keyakinan seolah membawaku untuk terus berjuang.
Sulit bagiku untuk pasrah begitu saja, aku langsung coba ke kelas Lailul dan ternyata hari ini ia tidak masuk. Entah apa yang bisa aku lakukan agar SMA ku tetap bisa mengikuti Olimpiade sejarah tahun 2023 ini. Tidak semudah itu mencari anak lain untuk menggantikan Lailul karena aku harus melatih dari awal lagi, selain itu belum tentu anak baru yang aku latih akan cepat tanggap dan mudah menyerap setiap materi yang aku berikan. Sedangkan kompetisi akan digelar 3 hari lagi. “Ya Tuhan, harus bagaimana lagi ini?”.
Bermodalkan nekat dan setelah berdiskusi dengan guru BK, aku coba mengunjungi rumah Lailul. Kembali lagi melakukan negosiasi dengan wali murid menjadi jalan satu-satunya. Setelah melewati sejumlah jalan makadam yang berlumpur dan berbatu, sisa hujan kemarin malam, kemudian dilanjutkan dengan melewati sejumlah gang sempit yang sekelebat tercium aroma kendang sapi. Akhirnya aku sampai di rumah kecil yang sangat sederhana. Aku menarik nafas panjang karena sedikit takut akan terjadi pengusiran atau hal lain yang tidak inginkan, setiap langkah kaki menuju rumah itu terasa berat tapi aku harus berani menghadapinya.
Lailul bersama kedua orang tuanya ternyata masih berada di sawah, mereka menjadi buruh serabutan apabila ada tetangga yang panen. Ketika semua tugas mereka telah selesai mereka akan mendapatkan uang dan jatah satu kantong beras. Begitu menurut penuturan wanita renta yang sempat memperkenalkan diri sebagai nenek lailul, dengan berjalan terseot-seot ia menyuruhku duduk di amben bambu yang terletak di depan rumahnya.
Hingga senja meremang dan lampu petromaks hamper dinyalakan, mereka masih belum pulang juga. Setelah beberapa menit kemudian Lailul bersama kedua orang tuanya akhirnya datang. Gadis berkulit gelap yang selama ini aku lihat selalu rapi dengan seragam SMA kini terlihat sungguh berbeda, badannya kotor karena lumpur dan ia mengenakan baju biru kumal dengan celana training robek di bagian lutut. Ia menatapku dengan terkejut namun kemudian ia tersenyum ramah. Sungguh berbeda dengan ayahnya yang menatapku dengan sangat tidak ramah, seperti ingin menelanku.
“Pokoknya tidak pak!! Lihatlah kondisi kami yang seperti ini!! Kalau bukan anak saya siapa lagi yang bisa membantu pekerjaan kami, setelah lulus sekolah dia akan bekerja dengan bu leknya di warung makan yang ada di kota, jadi lomba yang bapak tawarkan sama sekali tidak ada gunanya!”, kata-kata dari ayah Lailul telah menghancurkan harapan yang selama ini aku bangun untuk anaknya. Perasaanku begitu tercabik-cabik ketika ada orang tua yang tidak berfikir panjang akan masa depan anaknya. Aku sudah benar-benar tidak habis pikir dan ingin segera pulang lalu melupakan semua yang telah terjadi. Biarlah ini menjadi pelajaran untukku kedepan.
“Bapakkkk!!!! Kulo kepingin tumut lomba, kulo kepingin dados wanita ingkang sukses kalih angsal masa depan ingkang sae, kulo nyuwun pangestunipun setunggal niki mawon, kulo berjanji badhe nyambut damel ingkang sae ngerencangi bapak wonten sabin, kulo mohon” , Tiba-tiba Lailul merengkuh kaki ayahnya, ia menangis sejadi-jadinya sambil terus mengiba kepada ayahnya.
“Sudah pak, mbok ya sudah, kasian anak ini, biarkan ia ikut lomba pak! Bukankah pekerjaan di rumah dan di sawah kalau tidak ada Lailul bisa aku kerjakan, beri dia kesempatan pak”, Ibunya Lailul yang awalnya hanya diam akhirnya berani untuk berbicara. Ia juga berusaha terus membujuk suaminya agar segera mengizinkan Lailul untuk mengikuti lomba.
***
Semua kegiatan di sekolah seperti biasanya berjalan dengan lancar, akupun juga menjalankan kegiatan mengajarku seperti biasanya. Di sekolahku sudah tidak ada lagi yang membahas atau sekedar menanyakan tentang olimpiade sejarah. Semua kehebohan tentang wali murid yang tak terima anaknya diikutkan lomba atau omongan tentang aku yang nekat mendatangi rumah anak didikku dan berbagai cerita tentang kegiatan lomba seolah hilang begitu saja. Sudah tidak ada yang tertarik untuk membicarakannya bahkan mungkin sudah ada yang peduli.
Sudah 1 minggu yang lalu olimpiade yang akhirnya kami ikuti berlangsung. Serangkaian kegiatan lomba pada waktu itu sudah kami lakukan seperti tes tulis dan wawancara. Lailul sudah melakukan yang terbaik dan apapun hasilnya aku tetap bangga dengan anak didikku yang satu itu. Dari peristiwa itu akhirnya aku mendapatkan definisi baru tentang profesiku sebagai seorang guru ini. Guru adalah pengabdian dan perjuangan, tidak mudah untuk menjadi seorang guru namun aku begitu bahagia karena ditakdirkan menjalani profesi ini. Sampai kapanpun aku akan terus berjuang untuk murid-muridku dan meyakinkan mereka bahwa mereka kedepannya akan memiliki hidup yang lebih baik, selama mereka memperjuangkannya.
Sepulang sekolah ibu kepala sekolah memanggilku ke ruangannya. Entah kesalahan apa yang aku perbuat yang jelas raut wajah beliau terlihat begitu serius. Ia menyodorkan sebuah surat yang katanya harus aku baca, apakah mungkin gara-gara masalah yang kemarin aku perbuat, aku begitu nekat mendatangi rumah keluarga Lailul tanpa meminta izin kepala sekolah terlebih dahulu. Aku takut dipecat karena kesalahanku waktu itu, kemudian dengan ragu-ragu aku membuka surat itu lalu membacanya dengan seksama.
Kepalaku tertunduk dan air mataku jatuh tak tertahankan lagi. Aku memeluk surat itu dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu kepala sekolah dan beliau pun menunjukkan sebaris garis putih berbingkai senyum sebagai tanda selamat. Lailul Juwarini mendapatkan peringkat tertinggi dalam olimpiade sejarah tahun 2023 ini. Ia akan medapatkan piala Tut Wuri Handayani, piala perak yang dulunya pernah aku menangkan

Tinggalkan Balasan