TIGA RATUS PERSEN MENUJU BAHASA PRANCIS

Ia memutuskan untuk berhenti menjadi guru, lalu membatalkannya. Keputusan itu muncul begitu saja ketika Ratih menatap layar ponselnya di ruang guru. Pesan dari pemilik kontrakan baru saja masuk. “Bu Ratih, mohon pembayaran bulan ini segera diselesaikan.

Ia membaca pesan itu berulang kali. Seolah dengan membacanya berkali-kali jumlah uang dalam rekeningnya akan bertambah. Namun, saldo tetap sama.

Ratih mematikan layar ponselnya. Di luar jendela, halaman sekolah mulai ramai oleh murid-murid yang baru datang. Langit pagi cerah. Harum melati dari taman kecil dekat gerbang sesekali terbawa angin hingga ke ruang guru.

Bel masuk berbunyi. Ratih berjalan menuju kelas VIII B. Hari itu ia mengajar Bahasa Indonesia. Materinya tentang pidato persuasif. Sesampainya di kelas, ia menulis sebuah kalimat di papan tulis. “Kata-kata dapat mengubah dunia.

“Siapa yang setuju?” tanyanya.

Beberapa tangan terangkat. Salah satunya milik Arga, murid yang terkenal paling banyak bicara.

“Saya setuju, Bu.”

“Kenapa?”

“Karena orang bisa perang gara-gara pidato. Bisa damai juga gara-gara pidato.”

Teman-temannya tertawa. Ratih mengangguk. Sementara, dari bangku depan, Naila mengangkat tangan.

“Saya juga setuju, Bu.”

“Kenapa?”

“Karena kata-kata bisa membuat orang percaya kepada dirinya sendiri.”

Ratih terdiam sesaat. Jawaban itu mengingatkannya pada dirinya sendiri beberapa tahun lalu.

Saat itu, Ratih baru lulus kuliah. Ia datang ke sekolah dengan semangat yang nyaris meluap. Ia membayangkan menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia. Ia membayangkan bisa hidup sederhana dan berkecukupan. Ia membayangkan ilmu dan pengabdian berjalan beriringan. Sampai kemudian, ia menerima gaji pertamanya sebagai guru honorer. Sementara, kesadaran baru menghinggapinya bahwa kenyataan memiliki kamus yang berbeda dengan idealisme.

Sejak saat itu, tahun demi tahun berlalu. Status berubah. Aturan berubah. Istilah berubah. Namun, kegelisahan tidak pernah berubah.

“Bu?” suara Naila membuyarkan lamunannya.

“Iya?”

“Bu Ratih kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Arga menyahut cepat, “Kalau guru bilang tidak apa-apa, biasanya justru ada apa-apa.”

Seketika kelas tertawa. Ratih ikut tersenyum.

Jam istirahat tiba. Ratih kembali ke ruang guru. Di sana sudah ada Bu Rina, guru Matematika. Perempuan itu sedang membaca berita dari gawainya.

“Bu Ratih, sudah baca berita ini?”

“Berita apa?”

“Katanya penghapusan honorer makin dekat.”

“Lalu?” tanya Ratih sambil menarik kursi untuk ingin tahu lebih lanjut.

“Diganti non-ASN.”

Pak Damar, guru IPS, yang mendengar percakapan itu langsung menyela, “Nama baru.”

“Nasib baru belum tentu,” timpal Bu Rina.

Mereka tertawa hambar. Ratih tidak. Ia sudah terlalu lelah untuk menertawakan keadaan.

Menjelang siang, Ratih bertugas mendampingi kegiatan literasi. Di perpustakaan sekolah, beberapa murid sedang membaca dan menulis. Naila menghampirinya.

“Bu, saya mau menunjukkan sesuatu,” ucap Naila sambil menyerahkan sebuah buku tulis.

“Apa ini?” tanya Ratih penasaran.

“Cerpen saya, Bu.”

Ratih menerima dan mulai membacanya. Cerita itu sederhana. Tentang seorang anak yang takut berbicara di depan kelas. Lalu, bertemu seorang guru yang selalu mengatakan bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak didengar. Ratih membaca hingga halaman terakhir. Di sana tertulis: “Kalau suatu hari saya menjadi penulis, saya ingin menulis tentang guru yang membuat saya berani menggunakan suara saya sendiri.” Ratih terdiam.

“Bagaimana, Bu?” tanya Naila cemas.

“Bagus sekali.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Kalau begitu saya akan terus menulis.”

Ratih tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Sore hari hujan turun. Murid-murid satu per satu pulang. Ratih masih berada di sekolah. Ia duduk sendirian di kelas yang kosong. Pikirannya kembali dipenuhi kecemasan. Kontrakan. Tagihan. Masa depan. Status pekerjaan. Ia membuka aplikasi perbankan. Jumlah uangnya tidak berubah. Lalu, sebuah pikiran muncul lagi. Mungkin sudah saatnya berhenti. Mungkin ada pekerjaan lain yang lebih pasti.

Ratih akhirnya pulang ke rumah kontrakannya yang sederhana. Ia duduk di depan meja sambil menyiapkan materi esok hari. Topiknya masih tentang pidato. Ia membutuhkan contoh video untuk bahan pembelajaran. Karena itu, ia membuka gawainya untuk mencari referensi.

Tanpa sengaja, ia menemukan siaran langsung pidato presiden. Ratih hampir melewatinya. Namun, ia berhenti ketika mendengar satu kalimat. Tentang pendidikan. Tentang guru. Tentang kenaikan kesejahteraan. Tentang angka tiga ratus persen. Ratih menegakkan tubuh. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mendengarkan dengan saksama. Angka itu melintas seperti cahaya di tengah gelap. Untuk beberapa saat, ia membayangkan hidup yang berbeda. Hidup yang lebih layak.

Namun, pidato belum selesai. Justru di bagian akhir itulah sesuatu yang tak pernah ia duga terjadi. Presiden salah berbicara karena yang akan dinaikkan tiga ratus persen bukan gaji guru, melainkan gaji hakim.

Ratih membeku sambil menatap layar. Ia mengernyit, lalu tertawa pelan. Mencoba menertawakan keadaan yang belum selesai menuliskan ceritanya. Ia kembali memikirkan Arga dan Naila. Memikirkan seluruh murid yang telah mengisi harinya. Tiba-tiba ia memahami sesuatu. Ia tidak bertahan karena profesi ini menjanjikan kemudahan. Ia tidak bertahan karena masa depannya pasti. Ia tidak bertahan karena angka tiga ratus persen. Ia bertahan karena setiap hari ada anak-anak yang sedang belajar menemukan dirinya melalui kata-kata.

Perlahan Ratih tersenyum. Keputusan yang telah ia batalkan sebelumnya adalah tepat. Ia akan tetap datang ke sekolah. Tetap mengajar Bahasa Indonesia. Karena pada akhirnya, yang membuatnya bertahan bukanlah janji kesejahteraan, melainkan suara murid-murid yang memanggilnya dengan satu kata sederhana, “Guru”.

Panggilan itulah yang selalu mengalahkan segala keraguan. Ratih telah menemukan alasan dan perlahan mencintai profesinya sebagai guru. Ia kembali membuka gawainya untuk mecari referensi materi karena sempat teralihkan dengan pidato tiga ratus persen.

Belum sempat menemukan materi, pidato lain muncul. Presiden mengimbau sekolah-sekolah untuk mengajarkan Bahasa Prancis. Ratih tertegun. Jemarinya berhenti bergerak di atas layar. Ada sesuatu yang terasa janggal sekaligus menggelitik hatinya. Ia bahkan masih berjuang agar murid-muridnya mencintai dan menguasai Bahasa Indonesia dengan baik. Masih banyak yang kesulitan membedakan gagasan utama dan penjelas, masih banyak yang enggan membaca buku hingga tuntas, bahkan masih ada yang menulis pesan singkat tanpa memperhatikan makna kata-katanya. Ratih membayangkan wajah-wajah muridnya di kelas. Sebagian masih tersandung pada bahasa sendiri, tetapi kini diwacanakan untuk melangkah ke bahasa asing yang jauh lebih rumit. Di satu sisi, ia memahami pentingnya membuka jendela dunia melalui bahasa lain. Namun di sisi lain, ia merasakan ironi yang menyesakkan. Bagaimana mungkin mereka diajak berlayar ke negeri yang jauh, sementara perahu yang bernama Bahasa Indonesia belum sepenuhnya selesai dibangun? Di antara rasa kagum pada gagasan besar itu dan kegelisahan akan kenyataan di kelasnya, Ratih hanya bisa terdiam memandangi layar gawainya yang terus menyala.

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *