Tante, Aku Mau Jadi Guru yang Baik

|

1 Views

Langit pagi masih berkabut ketika Vivin memarkir motornya di depan gerbang SD tempat Putra bersekolah. Bocah tujuh tahun itu menggenggam tas kecil bergambar dinosaurus, langkahnya lambat, matanya sembap.

“Ayo semangat, Putra! Hari ini ujian matematika, kan?” ujar Vivin, mencoba ceria.

Putra mengangguk pelan. Anak sulung dari kakak Vivin, Cahyono dan Nurul, itu memang sedang tak seperti biasanya. Ia lebih sering diam sejak beberapa minggu terakhir. Mungkin karena ujian, pikir Vivin. Atau mungkin ada yang lebih dari itu.

Cahyono adalah guru SMP yang berdedikasi, sedang Nurul adalah tutor di lembaga les ternama di kota mereka. Karena pekerjaan mereka yang menuntut waktu dan perhatian, Putra lebih banyak menghabiskan hari di rumah neneknya, Bu Siti. Dan demi kemudahan pengasuhan, Putra pun disekolahkan di SD negeri dekat rumah sang nenek.

Awalnya semua berjalan normal. Putra tampak bersemangat, menikmati dunia barunya. Tapi semua berubah ketika ujian sumatif akhir semester dua datang. Hari itu menjadi titik balik, pahit, dan membekas.

Putra duduk di bangku paling depan. Di hadapannya, kertas soal matematika terbentang. Angka-angka tampak menari-nari tak tentu arah. Ia menatapnya lama. Tangannya menggenggam pensil, tapi tak satu pun soal dijawab.

Beberapa menit berlalu. Wajahnya mulai memerah, bibirnya bergetar, dan perlahan, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menangis.

Wali kelasnya, Bu Medi, menghampiri. Alih-alih menguatkan, guru itu justru melontarkan kalimat yang membuat hati siapa pun tercekat.

β€œAnak bodoh, seperti anak ABK,” katanya sambil geleng-geleng kepala. β€œSoal segini saja nggak bisa jawab?”

Ucapan itu terdengar hingga ke beberapa siswa lain. Tak hanya menyakitkan, tapi juga menciptakan stigma. Label β€œbodoh seperti anak berkebutuhan khusus” terlanjur disematkan tanpa proses, tanpa pertimbangan, tanpa empati.

Dan label itu mengalir sampai ke telinga orang tuanya.

Nurul menangis semalaman, merasa seperti kehilangan pijakan. Cahyono, sang ayah, yang setiap hari berdiri di depan kelas dengan idealisme guru, tak bisa menyembunyikan amarah dan kecewa.

β€œAku guru, Nur. Tapi rasanya aku gagal membentengi anak kita dari luka yang justru dibuat oleh profesi yang aku cintai,” ujar Cahyono lirih.

Mereka sepakat untuk tidak tinggal diam. Putra dibawa ke psikolog anak, dr. Hani. Serangkaian observasi dan tes dilakukan. Setelah beberapa hari, hasilnya keluar, Putra anak yang normal. Tidak ada indikasi kebutuhan khusus. Ia hanya mengalami kesulitan dalam penguasaan matematika dasar, hal yang bisa diatasi dengan pendekatan yang tepat.

β€œAnak ini sensitif dan punya imajinasi tinggi. Ia hanya belum cocok dengan metode pengajaran yang digunakan gurunya,” jelas dr. Hani dengan lembut.

Vivin, sang tante, mendengar semua cerita itu dengan hati yang mencelos. Ia tahu betul, betapa pentingnya peran guru yang memahami murid, bukan sekadar mengajar, tapi membimbing dengan hati. Ia pun memutuskan untuk turun tangan.

β€œAku bantu ajari Putra, Mas. Kita mulai dari rumah dulu,” ujar Vivin mantap.

Setiap sore, Putra datang ke rumahnya. Tapi Vivin tidak memulai dengan buku atau soal latihan. Ia mulai dari hal-hal yang disukai Putra. Mereka berhitung lewat cerita dinosaurus yang sedang mencari makan. Mereka belajar menghitung lewat kue tart ulang tahun yang dipotong. Mereka mengenal pengurangan lewat mainan yang β€œhilang”.

Perlahan, ketakutan Putra terhadap matematika memudar. Ia mulai menjawab soal. Mulai tertawa saat belajar. Dan yang paling penting: mulai percaya bahwa ia bisa.

β€œKalau salah, nggak apa-apa, kan Tante?” tanya Putra suatu hari.

β€œYang penting, kamu mau mencoba lagi. Tante percaya kamu bisa.”

Dan ia memang bisa. Beberapa bulan kemudian, Putra tak hanya naik kelas dengan nilai baik, tapi juga terpilih mewakili sekolah dalam lomba berhitung cepat tingkat kecamatan.

Bu Medi melihatnya dengan tatapan tak percaya. Namun Vivin tidak menanti permintaan maaf. Ia tahu, kemenangan sejati bukan pada pengakuan orang lain, tapi ketika luka tak lagi menghambat langkah.

Pada suatu sore sepulang les, Putra duduk di pangkuan Vivin sambil memandangi langit senja.

β€œTante…” bisiknya, β€œaku mau jadi guru kayak Tante. Guru yang baik. Yang nggak bikin anak-anak takut.”

Vivin memeluk Putra erat. Air matanya menetes, bukan karena sedih, tapi karena haru.

Hari itu, Vivin tahu, seorang guru tak seharusnya memberikan label pada anak. Tapi harus bisa menjadi jembatan menuju harapan cita-cita siswa.

Avatar sofi koesminarsih

Artikel Menarik Lainnya

17 responses to “Tante, Aku Mau Jadi Guru yang Baik”

  1. Avatar Aris Eko
    Aris Eko

    Sangat menginspirasi, tataplah jadi guru yang luar biasa

  2. Avatar Aris Eko
    Aris Eko

    Sangat menginsipirasi, semoga jadi berkah & menjadi guru yang luar biasa

  3. Avatar Aris Eko
    Aris Eko

    Sangat menginspirasi, semoga berkah & jadi guru yang luar biasa

  4. Avatar shely
    shely

    bagus bgt tulisannya, semoga guru menjadi satu profesi yang bukan hanya dikejar untuk mencari gaji, tp mencari keberkahan di dunia. semoga murid2 skrg juga bisa lebih menghargai guru dan bisa menjadikan beliau2enjadi orangtua kedua di sekolah.

  5. Avatar Tia
    Tia

    Semangat untuk Putra. Aku yakin kamu kelak akan jadi orang yang hebat, sukses bisa membanggakan keluarga, bisa bangun sekolahan sendiri. Kalau kata Jerome ” Matematika Sangat Menyenangkan ” 😍😍😍😍😍. Semangatnyaa Terus Bertambah yahhh putraaa πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°.

  6. Avatar Ayu Eka
    Ayu Eka

    Tulisan ini sangat menyentuh dan inspiratif. Kisahnya menggambarkan pentingnya empati dalam dunia pendidikan dan menunjukkan bahwa dengan cinta serta pendekatan yang tepat, setiap anak punya potensi untuk bersinar.

  7. Avatar Sofi Koesminarsih
    Sofi Koesminarsih

    Terimakasih ruang bestari telah memberikan ruang untuk guru berkarya dan mengekspresikan pengalamannya melalui tulisan ✨

  8. Avatar Halim
    Halim

    Tidak ada orang hebat Tampa didikan seorang guru

  9. Avatar Lina Arifin
    Lina Arifin

    MasyaAllah keren sekali tulisan bu guru yang satu ini, semoga seterusnya berkarya lebih banyak lagi dan lebih bagus lagi ya β™₯️

  10. Avatar Lina Arifin
    Lina Arifin

    MasyaAllah keren sekali tulisan bu guru yang satu ini, semoga seterusnya berkarya lebih banyak lagi dan lebih bagus lagi ya β™₯️ semangat bu Sofi

  11. Avatar Aris
    Aris

    Menarik dan ada pesan yg disampaikan dalam cerita. Semoga ini jadi motivasi bagi pembaca dan rasa semangat dalam meraih impian.

  12. Avatar Nyun
    Nyun

    Jujur, ingatanku langsung tertuju pada seseorang. Persis seperti ini.
    Semoga anak-anak yang mengalami hal seperti Putra mendapat sosok Vivin juga di luar sana.

  13. Avatar zhopie marley
    zhopie marley

    saya suka bagaimana kamu menggambarkan karakter dalam cerita ini, sangat menginspirasi saya untuk menjadi seorang penulis juga

  14. Avatar Hudiya Salsabila
    Hudiya Salsabila

    Semangat selalu untuk berkarya bu sofi sayang. Sukses selalu yaaaa πŸ’™

  15. Avatar Shofya
    Shofya

    MasyaAllah, kerren karyanya, menginspirasi, tetap semangatt mbak cantikkπŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

  16. Avatar Hani
    Hani

    Cerita yang begitu memberikan kesan. Ini kali kedua saya membaca. Saya menyerap makna di balik tulisan ini. Menjadi guru yang baik dan hebat

  17. Avatar Risma
    Risma

    Kereeen masyaallah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *