BALI– selalu punya cara untuk memesona dunia. Bukan hanya karena keindahan pantainya atau megahnya upacara keagamaan, tetapi juga karena ada harmoni tak terlihat yang menyatukan warganya yang majemuk. Di balik predikatnya sebagai destinasi wisata global, Pulau Dewata ini menyimpan resep rahasia tentang bagaimana perbedaan bisa dirangkai menjadi sebuah simfoni kehidupan yang indah.
Sebagai salah satu melting pot terbesar di Indonesia, Bali tidak hanya dihuni oleh masyarakat asli yang beragama Hindu. Berbagai suku dan pemeluk agama dari seluruh penjuru Nusantara telah lama memilih untuk menetap, berusaha, dan berkeluarga di pulau ini . Lantas, apa yang membuat masyarakat dengan latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda ini bisa hidup berdampingan dengan begitu rukun? Jawabannya terletak pada kekuatan kearifan lokal yang dipegang teguh oleh masyarakat Bali.
Menyama Braya: Filsafat “Kita Semua Bersaudara”
Kunci utama harmoni di Bali terletak pada sebuah konsep sederhana namun dalam, yaitu Menyama Braya. Istilah ini berasal dari kata sama (sama) dan braya (saudara), yang secara harfiah berarti “bersaudara” atau “memperlakukan orang lain layaknya saudara sendiri” .
Konsep ini bukan sekadar slogan, tetapi sudah mendarah daging dalam praktik keseharian masyarakat Bali. Menyama Braya mengajarkan bahwa semua orang, terlepas dari asal-usul, suku, atau agamanya, adalah saudara. Filosofi ini menciptakan ruang bersama yang inklusif, di mana setiap individu merasa diterima dan dihargai .
Sebuah studi bahkan menyebutkan bahwa nilai utama dari Menyama Braya adalah persaudaraan, kesetaraan, gotong royong, serta pengakuan sosial bahwa seluruh manusia adalah saudara . Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya keharmonisan sosial di tengah heterogenitas masyarakat Bali.
Tri Hita Karana: Tiga Penyebab Kebahagiaan
Jika Menyama Braya adalah filosofi persaudaraan, maka Tri Hita Karana adalah panduan teknis untuk mewujudkannya. Secara harfiah, Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kebahagiaan, yang bersumber dari tiga hubungan harmonis: Parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan manusia dengan sesama), dan Palemahan (hubungan manusia dengan lingkungan alam) .
Pilar Pawongan, atau hubungan harmonis antarmanusia, menjadi landasan utama bagi toleransi di Bali. Praktiknya bisa dilihat sehari-hari. Misalnya, tradisi Ngejot, yaitu saling mengirim makanan saat hari raya keagamaan. Ketika umat Hindu merayakan Galungan atau Nyepi, mereka mengirimkan makanan kepada tetangga Muslim atau Kristen. Sebaliknya, saat Idul Fitri tiba, umat Islam pun melakukan hal yang sama, mengantarkan opor ayam atau kue kering ke rumah tetangga yang berbeda keyakinan. Mereka bahkan dengan sigap menyiapkan makanan khusus yang tidak mengandung daging babi untuk memastikan saudara Muslim mereka bisa menikmatinya .
Wujud nyata lainnya adalah kolaborasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti yang terjadi di Kelurahan Seririt, Buleleng. Saat umat Hindu melaksanakan upacara keagamaan di pura, tidak hanya pecalang (petugas keamanan adat) yang berjaga, tetapi warga Muslim setempat juga turut membantu mengamankan jalannya upacara. Begitu pula sebaliknya, ketika perayaan Maulid Nabi atau hari besar Islam lainnya, pecalang dengan sigap membantu mengatur lalu lintas dan menjaga keamanan . Kolaborasi lintas iman ini adalah bukti bahwa spiritualitas di Bali tidak melahirkan eksklusivitas, melainkan kepedulian sosial yang universal.
Cerita dari Denpasar hingga Serangan: Toleransi dalam Tindakan
Rahmawati, seorang perempuan asal Malang yang telah menetap di Denpasar sejak 2005, merasakan sendiri kenyamanan itu. Sebagai seorang Muslimah, ia mengaku tidak pernah menemui kesulitan berarti menjalankan ibadah di tengah mayoritas masyarakat Hindu. “Di bulan Ramadhan, misalnya, kita bisa menjalankan sholat Tarawih dan Tadarus di masjid atau mushalla. Tidak ada halangan sama sekali,” ujarnya . Mencari makanan halal pun, menurut ibu tiga anak ini, sangat mudah.
Kisah serupa datang dari Pulau Serangan, Denpasar Selatan. Di desa adat ini, bahkan terdapat perkampungan Bugis yang dihuni oleh warga perantauan dari Sulawesi dan Jawa. Mereka hidup harmonis dengan warga asli Bali yang Hindu, berbagi ruang dan aktivitas sehari-hari. Bahkan dalam proyek inovasi teknologi “Desa Hidrogen Hijau”, anak-anak dari berbagai latar belakang—seperti Sarah, Abdullah, dan Haris—bisa bermain dan belajar bersama tentang energi surya tanpa sekat perbedaan .
Semua praktik baik ini tidak luput dari perhatian pemerintah dan berbagai lembaga. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Denpasar, misalnya, baru saja meraih penghargaan Harmony Award 2025 dari Kementerian Agama sebagai kota dengan kinerja terbaik dalam menerapkan nilai-nilai toleransi. Penghargaan ini adalah bukti kolaborasi apik antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat dalam merawat kebhinekaan . Ketua FKUB Denpasar, I Nyoman Budiana, dengan indah merangkum makna toleransi, “Toleransi bukan menyeragamkan yang berbeda, tetapi merawat kemesraan dalam keberagaman” .
Menjaga Api Harmoni di Era Digital
Tentu saja, harmoni bukanlah kondisi yang statis dan bebas dari tantangan. Di era digital seperti sekarang, arus informasi dan provokasi di media sosial kerap menjadi ujian bagi kerukunan. Narasi-narasi intoleran dan hoaks berpotensi menggerus toleransi yang telah lama terbangun .
Oleh karena itu, generasi muda Bali kini dibekali dengan pemahaman tentang moderasi beragama. Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, melainkan cara beragama yang adil, seimbang, dan berorientasi pada kemanusiaan, serta menolak ekstremisme dan fanatisme sempit . Nilai-nilai ini sejatinya sudah selaras dengan ajaran Tri Hita Karana dan Menyama Braya yang diwarisi secara turun-temurun.
Dengan menjadikan moderasi beragama dan kearifan lokal sebagai kompas, Bali tidak hanya menjaga warisan toleransi leluhurnya, tetapi juga mewariskan masa depan yang harmonis bagi generasi mendatang. Bali mengajarkan pada kita semua bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang, jika dirawat dengan kebijaksanaan, akan melahirkan kekuatan yang luar biasa. Seperti filosofi vasudhaiva kutumbhakam, dunia adalah satu keluarga, dan di Bali, semangat persaudaraan itu hidup dan nyata (IWS) .






