Di sebuah sekolah hutan, Bu Guru Elang mengajar enam murid burung: Nuri, Kakatua, Dara, Merpati, Gagak, dan Burung Hantu. Saat sesi perkenalan, Nuri, Kakatua, Dara, dan Merpati saling memamerkan kelebihan dan mengejek Gagak serta Hantu yang dianggap tidak punya istimewa. Bu Guru Elang lalu mengingatkan bahwa setiap makhluk punya kelebihan dan kekurangan.
Beliau kemudian mengajukan pertanyaan: mengapa lidah hanya diciptakan satu, sementara mata, hidung, dan telinga sepasang? Semua murid diam, hingga Gagak menjawab dengan bijak. Ia menjelaskan bahwa lidah tidak punya teman diskusi, makanya kerap melukai. Namun lidah yang mendengarkan hati akan menjadi milik makhluk bijak. Jawaban Gagak membuat semua murid terkesima dan meminta maaf. Mereka pun saling berpelukan sebagai sahabat (IWS).
Selengkapnya di
Radar Bojonegoro (jawapos.com)
http://radarbojonegoro.jawapos.com/lembar-budaya/715829328/lembar-budaya-belajar-dari-sang-gagak








