Di bawah langit yang sobek oleh mortir,
Aku menulis surat dengan tangan gemetar…
Bukan tentang dendam atau ingin membalas,
Hanya cinta, yang tertinggal di antara puing dan napas.
Anakku tidur, tapi takkan bangun lagi,
Di dadaku ia dingin, seperti malam yang sepi.
“Bunda, aku ingin sekolah,” katanya kemarin,
Kini buku dan tasnya terkubur bersama angin.
Jangan kirimi kami tangis yang hampa,
Kami butuh dunia yang bersuara nyata.
Sebab kami telah kehilangan semua,
Tapi belum kehilangan iman dan asa.
Aku tak tahu apakah esok masih ada,
Tapi aku tahu… langit Palestina menyimpan doa.
Doa dari Ibu-ibu yang tak sempat menua,
Dari anak-anak yang syahid tanpa sempat dewasa.
Jika kami tiada, jangan bilang kami kalah,
Kami hanya pulang lebih dulu ke arah yang Allah titah.
Karena cinta kami tak habis dibom atau dibakar,
Ia tumbuh, berakar… dalam tiap jiwa yang sadar.

Tinggalkan Balasan