Merdeka Harus Terdidik

Dalam catatan sejarah, majunya peradaban ketika ilmu pengetahuan diberikan ruang untuk ikut membentuk arah zaman. Negara ini telah merasakan bagaimana peran pendidikan dalam menggerakan semangat perjuangan. Sebermula katanya, merdeka berasal dari bahasa sansekerta yaitu mahardhika yang bermakna terpelajar. Kemudian, diikatkan dalam kearifan jawa kuno, kata itu diartikan sebagai kedalaman pengetahuan dan ketinggian budi.
Merdeka berarti kebebasan untuk hidup dengan penuh kehormatan. Terbebas dari urusan kelas, kasta, keberuntungan nasib dan belenggu kebebasan berfikir. Maka, untuk merawat kemerdekaan itu harus dengan pendidikan. Merdeka tanpa keterdidikan laksana kendaraan tanpa pengemudi, mampu bergerak tapi tidak memiliki arah. Kemajuan pembangunan fisik, tidak bisa dilakukan dengan memperkerdilkan manusia. Bangsa yang dirawat dengan pendidikan, akan menumbuhsuburkan akar kecerdasan dan membuahkan kebijaksanaan.

Sejarah peradaban manusia telah membuktikan, bahwa bangsa yang dirawat dengan keterdidikan manusianya, ia akan mampu bertahan dan sejahtera. Ini adalah catatan tidak tertulis yang terus terawat dalam sejarah umat manusia. Jika manusia ditempatkan sebagai subjek pembelajar, maka ia akan melahirkan dirinya dalam kesadaran untuk mencipta, bukan sekadar objek penerima. Pendidikan tidak boleh hanya didefinisikan sebatas membaca dan menulis, tapi lebih kepada kemampuan berpikir yang merdeka. Karena segala tindakan yang dihasilkan oleh manusia merupakan hasil dari cara berpikirnya, dan cara berpikir akan sangat menentukan arah masa depan peradaban.

Tapi sayangnya realitas yang terjadi saat ini amat terbalik dengan yang kita butuhkan. Inilah akibatnya (mungkin), jika pemerintah tidak faham tentang filosofi pendidikan kita. Jika boleh saya katakan— anda tidak harus sepaham, bahwa pendidikan kita adalah hasil seksualitas para penguasa. Artinya pendidikan kita hanya berhenti pada tataran kekuasaan, tidak berfokus pada perbaikan. Ketika berganti kekuasaan, maka berganti pula wajah pendidikan di negeri ini. Inilah yang menyebabkan ruh pendidikan tidak pernah sampai di hati anak-anak Indonesia. Karena hanya dengan pendidikan, kualitas manusia akan menjadi lebih maju. Makanya cara terbaik untuk mengatasi kemiskinan, ketimpangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dengan cara memberikan akses pendidikan yang luas. Namun sayangnya, jika seluruh masyarakat kita cerdas, ada pihak-pihak yang tidak menginginkan itu. Masih ingat pada bab pertama buku ini, bahwa kekuasaan agar tetap kokoh jalan satu-satunya dengan cara menternak orang-orang miskin dan bodoh.

Kemudian, filosofi pendidikan kita hanya direduksi sekadar menjadi alat untuk melahirkan tenaga kerja industri, jauh dari tujuan memerdekakan manusia. Ruang-ruang pendidikan kita berubah menjadi pabrik-pabrik yang memproduksi tenaga kerja. Akibatnya, lahirlah sebuah sistem yang hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara teknis, tapi tidak memiliki kesadaran kritis. Mereka dibentuk menjadi robot-robot yang hanya mampu bekerja, tanpa mempunyai keberanian dan kesadaran untuk mempertanyakan. Inilah bentuk krisis yang sebenarnya, ketika pendidikan kehilangan ruh untuk membebaskan manusia dari belenggu penindasan.

Dalam situasi seperti ini, menjadi manusia terdidik menjadi nilai yang sangat mahal untuk bisa didapatkan. Timpangnya dalam pendidikan akan melahirkan ketimpangan kesadaran. Orang-orang yang tidak terdidik akan mudah dipengaruhi, diarahkan dan sangat mudah dikendalikan oleh kekuasaan. Maka dalam sistem kapitalisme seperti sekarang ini, kemerdekaan hanya bisa dirasakan oleh sedikit orang. Benarlah ucapan Tan Malaka, bahwa merdeka tanpa masyarakat yang terdidik akan membawa pada penjajahan model baru.

Maka dari itu, kemerdekaan yang hanya dirawat dengan seremoni-seremoni tahunan, ia tidak akan bermakna. Ia harus diperjuangkan dan dihidupkan dalam ruang-ruang belajar, meja makan keluarga, ruang diskusi yang bertumbuh dan keberanian untuk berani berpikir berbeda. Filosofi pendidikan harus kita kembalikan pada rel yang tepat, yaitu sebagai sebuah jalan untuk mendidik manusia merdeka. Olehnya, setiap orang harus diberikan kesempatan untuk tumbuh, berani bertanya dan mampu memberi dampak. Karena itulah hakikatnya makna pendidikan yang membebaskan. Tidak boleh ada lagi yang menjadikan pendidikan sebagai hak istimewa kelompok elit, karena pendidikan hak dasar setiap orang. Sebab, kita berharap bahwa dari sanalah akan lahir generasi yang unggul dan berani. Karena pada akhirnya, hanya dengan manusia terdidiklah sebuah peradaban akan benar-benar merdeka.

“Kalau kita ingin memperbaiki peradaban ini— negeri ini, mulailah dari cara berpikirmu. Dan cara berpikir yang paling kuat, lahir dari kebiasaan membaca buku.”

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan