“Namamu Masih Tinggal di Halaman 1998”
Di antara riuh jalan dan senja yang perlahan pulang
ada tatap yang diam-diam menemukan rumah
Ancika, seperti halaman baru dalam buku kehidupan
datang membawa tawa, lalu menetap menjadi resah.
Tahun 1998 menyimpan banyak cerita
tentang langkah muda yang belum mengenal arah
tentang dua hati yang bertemu tanpa rencana
lalu belajar bahwa cinta tak selalu harus sempurna.
Ada namamu di sela percakapan sederhana
ada senyummu yang lebih ramai dari suara kota
kita berjalan tanpa janji yang berlebihan
namun setiap langkah terasa seperti menuju masa depan.
Jika kelak waktu membawa kita berjauhan
biarlah kenangan tetap menjadi tempat untuk pulang
sebab pernah mencintaimu adalah sebuah perjalanan
yang membuat masa muda terasa begitu terang.
Ancika, mungkin cinta kita hanya sebentar dalam waktu
tetapi tidak semua yang singkat harus kehilangan arti
sebab ada perasaan yang tidak selesai oleh perpisahan
ia tetap hidup, seperti lagu lama yang diam-diam kita rindukan kembali.
