PESAN MODERASI & TREN BERAGAMA YANG BAIK

Oleh TARSUDI, S.Pd.

SELAYANG PANDANG PENULIS

Aktifitas keseharian saya seorang guru, menjadi guru bukanlah perkara mudah, apalagi seorang guru yang mengajar di sebuah pondok pesantren modern di tengah kota Indramayu. Tapi itu semua menjadi sebuah tantangan tersendiri, disamping bisa berbagi ilmu juga bisa menambah wawasan ilmu agama, yang di istilahkan “menyelam sambil minum air”. Dalam perjalanan di dunia pendidikan, mungkin saya termasuk terlambat, karena pada saat lulus
SMA saya tidk langsung menempuh pendidikan S1. Selama perjalanan empat tahun merantau di ibu kota, lahir dari berbagai latar belakang, ada orang Betawi, Sunda, Jawa, Palembang,
Kalimantan, Sulawesi, Batak dan bahkan orang China. Kalau teman organisasi dulu celoteh sering menjaga Gereja, tetapi saya lebih dari itu, yaitu pernah lama hidup ngontrak bareng
bersama orang katolik dan tinggal di kostan yang mayoritas orang non muslim.

Kultur budaya dan kebiasaan yang berbeda dan sangat majemuk itu, tentunya memberikan pelajaran tersendiri bagi saya untuk memahami makna moderasi yang sebenarnya. Dari modal pengalaman itulah maka kenapa saya bisa hidup beradaptasi di sebuah pondok pesantren modern yang berbeda dengan kebiasaan saya yang lahir dari kecil di lingkungan orang Nahdliyin (NU). Letak lokasi mengajar saya juga mungkin yang paling unik di kota Indramayu. Karena di kecamatan ini banyak berbagai pemahaman agama yang berbeda dan lembaga – lemabaga
pendidikan yayasan Islam terbanyak di kota Indramayu. Ada dari NU, Muhammadiyah, PUI, Al Wasliyah, Persis, Al Irsyad, Habaib, Salafi dan semua hidup berdampingan.

Menyadari hal itu saya termotivasi untuk selalu berbuat baik dan menyampaikan pandangan bagaimana tentang moderasi beragama, baik kepada peserta didik maupun kepada masyarakat. Dari tulisan ini pula mudah – mudahan bisa memberikan wawasan dan gambaran tentang menyikapi cara hidup bermoderasi. Dengan harapan para generasi muda dan peserta didik agar paham betul manfaat moderasi dalam beragama, agar senantiasa menanamkan sikap tasamuh dan
tawasuth dalam kehidupan bersmasyarakat. Dan yang terpenting adalah memberikan pemahaman
bahaya akan pemahaman intoleran, sikap panatisme berlebihan dan mencegah tindakan ekstrim dan radikal di lingkungan masyarakat.

PEMABAHASAN
Belakangan pembahasan tentang moderasi beragama sudah sering kita dengar, baik di majalah, tabloid, jurnal, berita dan seminar seminar kampus. Bahkan pemerintah sendiri sering
mengkampanyekan tentang moderasi beragama baik melalui lembaga Kementrian Agama, Kemendikbud bahkan BNPT. Tetapi pada faktanya sebagain orang masih belum memahami tentang moderasi, mungkin karena keterbatasaan informasi. Seberapa pentingkah kita memahami
tentang moderasi beragama. Dan bagaimana praktek dilapangan tentang moderasi terutama dilingkungan sekolah. Dan bagaimana cara beragama yang baik agar menjadi tren anak masa kini.
Moderasi beragama dapat diartikan sebagai sebuah pandangan atau sikap yang selalu berusaha mengambil posisi tengah dari dua sikap yang berseberangan dan berlebihan sehingga salah satu dari kedua sikap yang dimaksud tidak mendominasi dalam pikiran dan sikap seseorang.
(Sudarji;2020,h.97). Moderasi beragama juga bisa di pahami sebagai cara beragama seseorang dalam memilih suatu sikap jalan tengah sesuai pengertian moderasi. Dengan moderasi beragama, seseorang tidak memilih jalan ekstrem dan tidak berlebih-lebihan dalam menjalani ajaran
agamanya. Persoalan perilaku radikal adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan rasa sadar dan tumbuh dari sebuah perjalan hidup seorang, baik karena pengaruh lingkungan doktren – doktren fantisme agama dan peran media sosial. Tindakan ini senantiasa akan terus berkembang dan meluas
seiring dengan kemajuan teknologi infromasi yang sulit di awasi.

Melihat fakta belakangan ini, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakir para pelaku bom bunuh diri atau sering disebut sebagai penganten sudah berubah pola dan sasaran pelakunya. Rata – rata usia para pelaku masih muda dan remaja, bahkan sebagian masih berstatus sebagai pelajar.
Seperti kasus penangkapan empat terduga pelaku jaringan terorisme Jamaah Asharut Daulah (JAD) di Indramayu pada tahun 2018 yang lalu. Sebagian masih berusia tiga puluh satu tahun inisial K, tiga puluh sembilan tahun inisial A dan bahkan ada yang masih di bawah umur yaitu enam belas tahun inisial IIB. Selain karena faktor lingkungan dengan doktren agama yang salah, peran media social sangat
berdampak besar terhadap cara pandang masyarakat dalam memhami sebuah agama. Minimnya literasi tentang perjalanan suatu sejarah bisa menjadi suatu factor banyak pelaku pelaku teror yang mewarnai perjalanan bangsa dalam sepuluh tahun terakir ini. Buktinya sebelum media social berkembang pada tahun 2010, para pelaku terror dan bom bunuh diri rata – rata berusia relative dewasa dan mempunyai latar belakang ekonomi dan pendidikan mupuni, seperti para pelaku bom Bali satu dan bom Bali dua.

A. Pendiddikan Moderasi di lingkungan sekolah

Sekolah adalah suatu wadah kedua bagi sumber pengetahuan bagi peserta didik, penanaman nilai nilai moral dan sikap yang baik, sangat ditentukan dengan system pendidikan yang baik.
Menurut para ahli, pendidikan adalah sesuatu yang dapat membantu perkembangan individu dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang dapat memungkinkan tercapainya sebuah.kesempurnaan [plato]. Sedangkan menurut Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan adalah sebuah usaha pokok untuk memberikan nilai-nilai kebatinan yang ada dalam hidup rakyat yang berkebudayaan kepada tiap- tiap turunan baru (penyerahan kultur), tidak hanya berupa “pemeliharaan” akan tetapi juga
dengan maksud “memajukan” serta “memperkembangkan” kebudayaan, menuju ke arah keseluruhan hidup kemanusiaan.

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi paham ekstrim dan radikal harus menggandeng peran lembaga pendidikan, baik pesantren maupun sekolah umum. Dengan cara
pendekatan yang persuasive tidak melukai suatu keyakinan umat lain dan harus memisahkan antara kegiatan agama dengan paham ekstrimisme. Ini menjadi kunci dalam memberikan
pemahaman yang sesuai dengan niali – nilai kemanusiaan. Untuk mengimpelentasikan pesan moderasi dan tren beragama yang baik, yang akan saya jelaskan sebagai berikut:

1. Menanamkan sikap tasamuh dan tawasuth kepada peserta didik

Sikap tasamuh sendiri dimaknai sebagai sikap toleran sedangkan sikap tawasuth adalah sikap mengambil jalan tengah dalam mentukan suatu pandangan. Nilai sikap yang terkandung di dalam moderasi yaitu, tawasuth, i,tidal, tawasmuh, syura, ishlah, muwathonah, qudwah, la unf dan urf. Dimana dijelaskan didalam Al quran surat Al Baqarah : 143 “Dan demikian (pula) kami menjadikan kamu (umat Islam) ummatan wasthan (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rosul (Muhammad) menjadi saksi
(atas kamu)…”

Sebagai guru agama Islam, kita mempunyai tanggung jawab yang sangat besar terhadap pemahaman agama kepada peserta didik tentang pentingnya hidup bermoderasi, menanamkan sikap tasamuh dan tawasuth, baik melaluipemahaman/doktren maupun dalam bentuk kampanye kebiasan – kebiasan berperilaku toleran di sekolah. Sebagai suatu contoh; ketika kita mempunyai teman yang berbeda agama kita harus menghargai keyakinanya. Kita saling tolong menolong dalam keadaan apapun. Ketika sakit kita harus menjenguknya walapun berbeda agama. Adapun dalam tindakan yang nyata guru harus mampu mananamkan sikap sebagai berikut :
a. Membiasakan kepada peserta didik untuk menanamkan nilai nilai moderasi beragama melalui budaya sekolah.
b. Mencantumkan pemahaman moderasi di dalam modul / materi pembelajan PAI dan penguatan karakter siswa dengan moderasi beragama.
2. Pendekatan pemahaman melalui sejarah masa lampau Mendalami sejarah memberikan beragam manfaat esensial yang membentuk cara pandang dan pola pikir seseorang. Beberapa di antaranya meliputi; Pembentukan karakter, pola pikir kritis, pengambilan keputusan, pengetahuan kontekstual, inspirasi dan refleksi. Aspek-aspek ini saling terkait dan membentuk landasan kokoh bagi individu dalam menghadapi kompleksitas dunia modern serta berkontribusi secara positif bagi masyarakat. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Barton dan Levstik (2004) menemukan bahwa pembelajaran sejarah dapat menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai keberagaman pada
diri siswa. Dan dijelaskan di dalam Al quran surat Al Hasyr ; 18 “ Wahai orang orang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan”.
Islam juga menganjurkan kepada umatnya agar senantiasa belajar dari masalalu agar tidak mengulainginya jika itu tidak baik, sebagaimana di jelaskan di dalam surat Al Hasyr 18
Kita dalam memahami suatu peristiwa atau suatu keadaan hendaklah belajar dari masa lampau. Mempelajari perjalanan bangsa dan peradaban manusia di masa lampau memberikan
dasar kuat bagi pembentukan karakter yang berintegritas, yaitu :
a. Empati dan Toleransi
b. Keteladanan dan Integritas
c. Kesadaran akan Tanggung Jawab
d. Nasionalisme dan Cinta Tanah Air
Sebagaimana kita ketahui bahwa perjalanan sejarah Islam di masa lampau sudah di hadapi dengan benih – benih persoalan radikalisme dan paham kebencian. Paska di tinggalnya Rosulallah SAW. Di masa kepemimpinan khalifah Abu Bakar As shidiq sudah diwarnai dengan pemberontakan dan paham radikalisme. Dari masa Khulafaurosidin sampai kepada bani Umayah dan Abbasiyah tidak terlepas dari yang namanya peperangan saudara, bahkan
sebagian besar para pemimpin khalifah meninggal karena terbunuh oleh orang Islam itu sendiri.
Dari sejarah inilah tentunya kita harus paham betul, bagaimana untuk memberikan pemahaman terhadap perserta didik. Bahwa paham radikalisme itu bukanlah paham suatu
agama tertentu, akan tetapi lebih kepada upaya pergulatan politik kekuasaan yang mengatas namakan agama. Dan lahirnya benih – benih radikal yang diwarsi oleh kaum Khawarij
ataupun Syiah di masa khalifah, ataupun bangsa – bangsa kolonialis lainya, harus menjadi pembelajaran penting untuk menangkal paham radikal, agar mampu memahami persoalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi struktur budaya Indonesia sangat berbeda dengan negara – negara Islam di timur tengah. Islam masuk ke Indonesia denga cara
damai dan penuh toleransi, berbaur dengan budaya kebiasaan masyarakat. Maka dari itu paham radikalisme di Indonesia sangat tidak cocok untuk hidup di tanah yang kita cintai ini.

B. Tren Beragama yang Baik
Islam mengajarkan kita berperilaku ahsan kepada siapapun, baik kepada manusia maupun kepada mahluk hidup yang ada di bumi ini. Sebagaimana Rosulallah SAW di utus di bumi ini
sebagai suri tauladan yang baik (uswatun hasanah). Dijelaskan di dalam Al quran surat Al Ahzab : 21 “Sungguh telah ada pada diri (Muhammad) suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang – orang yang mengharap rahmat Allah….” Sebagaimana Al quran diturunkan pada masa bangsa Arab sedang tren dengan para penyair –
penyair yang hebat.

Kekuatan peradaban sastra dan penyair pada masa itu tumbuh dan mengakar kuat pada bangsa Arab. Dan ketika Al quran turun dan viral dikalangan bangsa
Arab, mereka menyadari keindahan bahasa dan susunan kata yang ada pada Al quran sangat mempesona. Dan pada akhirnya sebagaian masyarakat Arab menuduh bahwa nabi Muhammad adalah seorang penyair.[2]

Dari sepenggal kisah diatas, dapat kita simpulkan bahwa tren adalah sesuatu yang baik jika kita memanfaatkanya dengan hal – hal yang positif, seperti halnya Al quran hadir disaat viralnya para penyair dan penulis di bangsa Arab. Dan seperti zaman sekarang, teknologi sudah semakin maju, infromasi semakin canggih, kita bisa memanfaatkan teknologi IA sebagai media dalam menyampaikan pembelajaran dikelas atau media social lainya. Jika kita memisahkan agama dari perkembangan teknologi, maka tidak akan mungkin ajaran agama
akan ditinggal oleh para pengikutnya.
Dan pada prakteknya kita jangan pernah malu dalam menyampaikan kebaikan di media social atau di tempat umum, jadikan suatu kebaikan sebagai tren. Apalagi kita sebagai guru yang
tindak tanduknya akan menjadi contoh oleh murid dan siswa. Selama apa yang kita lakukan dan perbuat adalah hal yang positif. Kita perlu pahami, bahwa cikal bakal paham radikal
adalah selalu menyoalkan suatu hal yang baru (bid’ah) dalam hal furuiyah, fanatisme berlebih pada suatu golongan. Moderasi adalah sebuah jawaban tren cara pandang dan berfikir
beragama yang baik, sesuai kebutuhan zamanya. Sebagaimana Rosulallah SAW berdakwah dengan metode dan cara sesuai keadaan suatu zamanya. Wallahu a’lam bissawab…

PENUTUP

Kesimpulannya yaitu dengan perkembangan teknologi semakin maju pada akhirnya berdampak pada pola berfikir masyarakat yang mengakibatkan adanya suatu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih dan praktis. Dengan kepraktisan pengaksesan berbagai media sosial banyak anak-anak yang salah menggunakannya, sangat mudah belajar agama tanpa
ada guru, sehingga mereka salah dalam memahami agama, salah dalam mentafsirkan suatu ayat. yang menimbulkan perilaku atau tindakan yang membunuh di anggap sebagai jalan jihad dan berperilaku membenarkan apa yang menurut keyakinan dan nafsunya.

Dan secara tidak langsung perilaku tindakan menyimpang, ekstrimisme dan berbagai macam tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama semakin marak terjadi dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Oleh karena itu, penyebaran pemahaman melalu pesan Moderasi dan tren beragama yang baik adalah solusi etis untuk menghadapi persoalan radikalisme baik yang ada
dilingkungan sekolah, masyarakat maupun di dunia maya (media social).
Pesan moderasi dan tren beragama pada hakikatnya adalah suatu ikhtiar atau upaya sikap bagaimana kita membangun cara pandang dan praktek beragama dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui pesan penyampaian tentang moderasi agama, diharapkan kita mampu mengimplementasikan ajaran agama secara seimbang dan adil. Agar terhindar dari perilaku yang terlalu berlebihan dalam paham agama.

REFERENSI

Dewi Murni, “Toleransi dan Kebebasan Beragama dalam Perspektif Al-Quran”, Jurnal Syahadah,
Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi Dan
Demokratisasi. Jakarta: Buku Kompas.
Kurnia Muhajarah. 2016. “PENDIDIKAN TOLERANSI BERAGAMA PERSPEKTIF TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM.” An-Nuha.
Aslati, “Toleransi Antar Umat Beragama dalam Perspektif Islam (Suatu Tinjauan Historis)”,
TOLERANSI; Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, Vol 4, No 1 (2012).[1]https://nasional.sindonews.com/berita/1321935/13/densus-88-tangkap-empat-terduga- teroris-di-indramayu
[2] https://minan.sch.id/blog/ketika-al-quran-mendadak-viral-di-kalangan-bangsa-arab/
Website:http://jurnaledukasikemenag.org Al quran terjemah android fersi utsmani

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan