Berhenti Bangga Karena Sibuk, Saatnya Belajar Menjadi Produktif

Saya sibuk sekali.”

Kalimat ini terdengar seperti keluhan, tetapi diam-diam sering menjadi kebanggaan.   Kita merasa hebat ketika jadwal penuh. Merasa penting ketika banyak orang mencari. Merasa produktif ketika hampir tidak memiliki waktu untuk berhenti.  Pagi bekerja. Siang rapat. Sore menyelesaikan tugas. Malam masih membalas pesan. Besoknya diulang lagi.   Lalu ketika seseorang bertanya, “Apa kabar?”, kita menjawab:

“Sibuk.”  Seolah-olah sibuk adalah bukti bahwa hidup kita berhasil.  Padahal, sibuk dan produktif adalah dua hal yang berbeda.  Jangan Bangga Hanya Karena Jadwalmu Penuh Jadwal yang penuh tidak selalu menunjukkan kehidupan yang terarah. Bisa jadi kita hanya terlalu banyak mengatakan “iya”. Iya pada pekerjaan yang sebenarnya bisa ditunda. Iya pada permintaan yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita. Iya pada berbagai kegiatan yang tidak memiliki hubungan dengan tujuan hidup kita.  Akhirnya, hari-hari kita penuh aktivitas, tetapi kosong pencapaian.  Kita bergerak terus, tetapi tidak tahu sedang menuju ke mana.   Inilah jebakan kesibukan. Kita merasa sedang maju, padahal mungkin hanya sedang berputar-putar.  Produktif Bukan Berarti Melakukan Semuanya  Orang produktif bukanlah orang yang mampu mengerjakan semua hal.

Justru sebaliknya.   Orang produktif tahu bahwa dirinya memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan perhatian. Karena itu, ia belajar memilih. Mana yang penting. Mana yang mendesak.
Mana yang bisa ditunda. Mana yang harus ditolak.   Tidak semua hal membutuhkan energi kita. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada pekerjaan yang bisa didelegasikan. Ada pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Kemampuan memilih inilah yang sering terlupakan ketika kita terlalu sibuk. Jangan Sampai Kesibukan Menghabiskan Hidup  Yang lebih berbahaya dari kesibukan adalah ketika kita mulai menganggap lelah sebagai tanda keberhasilan.  Kita merasa bersalah ketika beristirahat.

Ketika memiliki waktu luang, kita merasa harus mencari pekerjaan lain.  Ketika tidak melakukan apa-apa, kita merasa tidak berguna.  Padahal manusia bukan mesin.  Kita membutuhkan jeda. Kita membutuhkan tidur. Kita membutuhkan keluarga. Kita membutuhkan percakapan yang bermakna. Kita membutuhkan waktu untuk membaca, berpikir, berdoa, dan menikmati hidup.   Beristirahat bukan berarti menyerah.  Beristirahat adalah cara menjaga agar perjalanan panjang tidak berhenti di tengah jalan.  Produktivitas Dimulai dari Kejelasan    Sebelum bertanya, “Apa yang harus saya kerjakan hari ini?”, mungkin kita perlu bertanya:  “Apa yang paling penting bagi saya?”  Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita menggunakan waktu.

Jika tujuan kita jelas, kita tidak mudah tergoda oleh semua hal yang datangKita belajar mengatakan:  “Tidak sekarang.”   Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kita memahami prioritas.   Sebab setiap kali kita mengatakan “ya” kepada sesuatu, sebenarnya kita sedang mengatakan “tidak” kepada sesuatu yang lain.

Waktu yang kita berikan untuk hal yang tidak penting adalah waktu yang tidak bisa kita ambil kembali.   Sibuk Membuat Kita Terlihat, Produktif Membuat Kita Berdampak   Ada perbedaan besar antara terlihat sibuk dan memberikan dampak.   Orang yang sibuk mungkin terlihat di mana-mana.  Tetapi orang yang produktif mungkin tidak selalu terlihat.  Ia bekerja dalam diam.  Belajar ketika orang lain berhenti.   Menyelesaikan satu hal penting dengan sungguh-sungguh.  Tidak sibuk menjelaskan betapa banyak yang sedang ia kerjakan.  Karena ia memahami satu hal:  Hasil tidak membutuhkan terlalu banyak pengumuman.

 

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *