Jakarta, Senin 4 Mei 2026
Biarkan pagi bermula dari matamu, tempat langit menyampitkan anila yang tenang.
Aku melihatmu pada bening embun yang enggan luruh, seolah sedang menyimpan seluruh ingatan semalaman agar tak lekas menguap pergi dijemput cahaya pagi.
Di sana, namamu kutuliskan tanpa suara, menyatu dengan udara yang kian berhembus.
Tepat saat baskara tegak di atas ubun-ubun, kau adalah rimbun yang tak membiarkan panas menyentuh kulitku.
Sosokmu merupa gema di antara desir daun jati; sebuah teka-teki yang sengaja ditiupkan angin agar aku tetap bertahan mencari jalan pulang.
Kau tak perlu menjadi apa-apa, cukup menjadi teduh yang memeluk gelisahku.
Lalu sore menjahit sisa-sisa cahaya pada dahan mangga yang mulai merunduk.
Kau hadir dalam kepak sayap yang pulang ke sarang, dalam aroma tanah yang basah sesudah gerimis tipis. Ada kecemasan yang indah di sana—seperti caramu yang tiba-tiba diam, namun detakmu terasa hingga ke ujung jari-jariku.
Antara terang yang berpamit dan gelap yang bertamu, kau adalah hening yang paling khusyuk. Saat azan mulai membelah sisa hari, kau merayap lembut sebagai usapan pada kening, menjadi jarak paling dekat antara keningku dan bumi. Di waktu yang singkat ini, kau adalah rahasia yang paling ingin kusimpan selamanya.
Hingga akhirnya malam melarutkan segala warna, kecuali kau. Kau menetap sebagai jeda di antara hela napas, sebagai ritme yang paling setia merawat denyut di dadaku. Di tengah sunyi yang paling pekat, kau adalah nyanyian tanpa kata yang membuat hidupku tetap memiliki arti.
Aku tak butuh banyak alasan untuk merawatmu, selain memastikan bahwa setiap tarikan napasku adalah sebuah permohonan agar kau tetap baik-baik saja







