
Hujan Bulan Oktober
Oktober datang bersama hujan.
Sejak pagi, langit menggantungkan awan kelabu di atas atap rumahku. Rintik-rintik yang jatuh di halaman membasahi tanah yang berbulan-bulan mengeras, menyisakan aroma yang anehnya selalu mampu membangkitkan kenangan. Aku duduk di dekat jendela, memandangi air yang mengalir di antara celah-celah tanah, sembari menyeruput kopi yang mulai kehilangan hangatnya.
Ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Sesuatu yang sulit kujelaskan, bahkan kepada diriku sendiri.
Aku merasa sedikit terlepas dari ikatan penghambaan yang selama ini kupahami sebagai hubungan antara manusia dan Tuhannya. Bukan berarti aku berhenti percaya. Bukan pula berarti aku sepenuhnya meninggalkan-Nya. Hanya saja, ada jarak yang entah sejak kapan terbentang di antara kami.
Aku masih mengenal nama-Nya. Masih mengakui keberadaan-Nya. Namun, ada kalanya aku merasa seperti seseorang yang berdiri di depan pintu rumahnya sendiri, tetapi lupa bagaimana cara mengetuk.
“Ada yang salah denganku,” gumamku.
Kalimat itu meluncur begitu saja, memecah kesunyian pagi.
Aku mencoba menelusuri kembali perjalanan hidupku. Mencari titik awal ketika segala sesuatu mulai terasa berbeda. Sayangnya, ingatan tidak pernah bekerja seperti peta yang bisa menunjukkan dengan pasti di mana seseorang tersesat.
Maka kubuka sebuah buku catatan. Pada halaman pertama, kutuliskan dua kata dengan tinta hitam.
Senandung Oktober.
Aku tidak tahu apakah catatan ini akan menjadi pengakuan, pengaduan, atau sekadar percakapan panjang dengan diri sendiri. Aku hanya ingin menuliskan apa yang selama ini berdesakan di kepala, sesuatu yang tak selalu mampu kuucapkan kepada orang lain.
Di luar, hujan semakin deras.
Beberapa minggu sebelumnya, orang-orang di kampungku sibuk membicarakan kemarau yang seolah enggan berakhir. Sumur-sumur mulai surut. Sebagian warga harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air bersih. Pepohonan kehilangan kesegarannya, tanah merekah, dan debu beterbangan setiap kali angin menyapu jalanan.
Kekhawatiran itu tumbuh di mana-mana.
Lalu Oktober datang membawa hujan.
Aku memandangi halaman rumah yang mulai tergenang. Ada kebahagiaan sederhana di wajah orang-orang yang menyambutnya. Anak-anak berlarian di bawah rintik hujan, sementara beberapa tetangga mengangkat wajah ke langit seolah sedang menyambut seseorang yang telah lama mereka rindukan.
Aku ikut tersenyum.
Bukankah selama ini kita sering lupa bahwa apa yang kita miliki tidak semata-mata lahir dari kerja keras kita sendiri? Bukankah ada begitu banyak hal yang berada di luar kendali manusia, tetapi tetap datang menyelamatkan kita pada waktunya?
Aku percaya Tuhan memiliki kuasa atas segala sesuatu.
Setidaknya, itulah yang selama ini kuyakini.
Namun, mengapa keyakinan itu kadang terasa begitu dekat, sementara pada kesempatan lain seolah menjauh hingga tak terjangkau?
Aku menghela napas panjang.
Barangkali masalahnya bukan pada Tuhan. Barangkali ada sesuatu dalam diriku yang belum selesai.
Aku hampir menginjak usia tiga puluh tahun ketika mulai menyadari betapa rumitnya menjadi manusia.
Pada usia ini, aku sering membayangkan seharusnya hidupku sudah berada di tempat yang lebih baik. Aku semestinya telah mencapai sesuatu yang bisa kubanggakan, memiliki kematangan berpikir, dan berdiri dengan keyakinan yang tidak mudah digoyahkan oleh keadaan.
Namun, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan.
Ada hari-hari ketika aku merasa cukup kuat menghadapi dunia. Aku bisa tertawa lepas, berbicara dengan siapa saja, dan menikmati hal-hal kecil tanpa terlalu banyak berpikir.
Akan tetapi, pada hari yang lain, aku berubah menjadi seseorang yang pendiam. Aku mengurung diri dalam pikiran-pikiranku sendiri, mengkritik banyak hal, mempertanyakan berbagai keyakinan, bahkan meragukan apa yang sebelumnya kuanggap pasti.
Aku tidak tahu apakah ini sekadar bagian dari pendewasaan atau justru pertanda bahwa aku sedang kehilangan arah.
Kadang aku menyalahkan lingkungan. Kadang aku menganggap diriku terlalu banyak membaca, terlalu banyak mendengar, atau terlalu sering membiarkan pikiran berkelana tanpa batas.
Aku pernah mencoba mencari jawaban melalui video-video pendek di telepon genggam. Nasihat tentang kehidupan, potongan ceramah, kisah pertobatan, dan kalimat-kalimat bijak berkelebat di layar.
Sesaat, semuanya terasa menenangkan.
Aku merasa tersentuh. Merasa diingatkan. Bahkan terkadang mataku berkaca-kaca mendengar seseorang berbicara tentang dosa dan ampunan.
Namun, setelah layar padam dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, perasaan itu perlahan menghilang.
Aku kembali pada kebiasaan lama.
Kembali mengabaikan hal-hal yang semestinya kujaga. Kembali larut dalam keinginan-keinginan yang kutahu tidak selalu membawa kebaikan. Kembali berdiri di antara dua sisi yang saling bertentangan.
Gelap dan terang.
Seolah-olah aku berjalan di sebuah lorong panjang dengan lampu yang sesekali menyala, lalu padam tanpa peringatan.
Aku lelah.
Tetapi yang paling melelahkan bukanlah perjalanan itu sendiri. Yang paling melelahkan adalah mengetahui bahwa aku mungkin sedang tersesat, sementara aku sendiri tidak benar-benar tahu ke mana harus melangkah.
“Jangan-jangan aku tersesat dalam otakku sendiri,” bisikku pada suatu malam.
Kalimat itu membuatku terdiam cukup lama.
Ada satu nama yang selalu berhasil membuka pintu kenangan paling dalam di hatiku.
Ayah.
Setiap kali mengingatnya, ada sesuatu yang terasa mengganjal di dada. Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata, apalagi kuselesaikan hanya dengan menarik napas panjang.
Dahulu, ketika usiaku tujuh belas tahun, aku sering menganggap ayah sebagai orang yang terlalu banyak mengatur.
Ia ingin tahu ke mana aku pergi, dengan siapa aku berteman, kapan aku pulang, dan apa yang kulakukan sepanjang hari. Bagiku, semua itu terasa seperti pagar tinggi yang membatasi kebebasanku.
Aku ingin menjadi anak laki-laki yang bebas menentukan jalannya sendiri. Aku ingin mencoba banyak hal tanpa terus-menerus merasa diawasi.
Pertengkaran kecil sering terjadi di antara kami.
Kadang hanya karena persoalan sepele. Kadang karena aku menjawab dengan nada tinggi, sementara ayah membalas dengan ketegasan yang tak ingin kuterima.
Aku masih ingat beberapa kali meninggalkan rumah dengan wajah kesal, membawa kemarahan yang menurutku benar-benar beralasan.
Aku mengira waktu masih panjang.
Aku mengira akan ada banyak kesempatan untuk menjelaskan semuanya ketika aku sudah lebih dewasa. Akan ada hari-hari ketika aku bisa duduk bersama ayah, tertawa mengenang masa lalu, lalu mengatakan kepadanya bahwa aku akhirnya memahami maksud dari segala larangannya.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa kesempatan itu bisa hilang begitu saja.
Juni 2021.
Bulan itu datang seperti bulan-bulan lainnya, tetapi pergi dengan meninggalkan lubang yang tidak pernah benar-benar tertutup.
Ayah berpulang.
Tidak ada kesepakatan sebelumnya antara kami tentang kapan ia boleh pergi. Tidak ada percakapan terakhir yang cukup panjang untuk menampung seluruh penyesalanku. Tidak ada kesempatan untuk mengulang waktu dan memperbaiki kata-kata yang pernah kuucapkan dengan nada tinggi.
Kematian tidak menunggu seseorang selesai berdamai dengan masa lalunya.
Ia datang, mengambil yang menjadi bagiannya, lalu meninggalkan orang-orang yang masih ingin mengatakan sesuatu.
Sejak hari itu, aku belajar bahwa kehilangan tidak selalu berbentuk air mata.
Ada kehilangan yang membuat seseorang menangis hingga tak mampu bersuara. Ada pula kehilangan yang justru mengeringkan air mata, menyisakan kekosongan yang tak bisa diterangkan kepada siapa pun.
Aku pernah berada di depan makam ayah, berdiri lama tanpa tahu harus melakukan apa.
Tanah di hadapanku begitu tenang. Nisan itu diam. Angin bergerak pelan, menggoyangkan dedaunan di sekelilingnya.
Aku ingin menangis, tetapi air mataku tidak keluar.
Aku ingin meminta maaf, tetapi suaraku seperti tertahan di tenggorokan.
“Ayah, aku belum sempat membalas apa-apa.”
Hanya itu yang mampu kuucapkan dalam hati.
Aku tidak tahu apakah ayah pernah benar-benar memahami kegelisahanku ketika aku masih remaja. Aku tidak tahu apakah ia pernah menyadari bahwa di balik sikap keras kepalaku, ada seorang anak yang sebenarnya masih membutuhkan bimbingan.
Yang kutahu, setelah kepergiannya, aku baru memahami betapa banyak hal yang dahulu kuanggap sebagai pengekangan ternyata mungkin merupakan bentuk kekhawatiran.
Dulu aku merasa ayah merampas kebebasanku.
Kini aku justru merindukan seseorang yang bertanya mengapa aku pulang terlambat.
Dulu aku kesal ketika ayah menasihatiku.
Kini, dalam kesunyian yang panjang, aku rela mendengar nasihat yang sama berulang kali, bahkan jika itu berarti aku harus kembali menjadi anak tujuh belas tahun yang belum memahami apa-apa.
Sayangnya, waktu tidak pernah bekerja mundur.
Empat tahun telah berlalu, tetapi ada bagian dalam diriku yang seolah masih tertinggal di hari kepergiannya.
Orang-orang mengatakan bahwa seseorang harus belajar mengikhlaskan. Aku mengerti maksud mereka. Aku tahu setiap manusia yang bernyawa pada akhirnya akan menghadapi dua kemungkinan: meninggalkan atau ditinggalkan.
Aku juga tidak menyalahkan Tuhan.
Aku tidak merasa berhak menghakimi keputusan yang berada di luar kuasaku.
Namun, memahami kematian ternyata berbeda dengan menerima kehilangan. Aku bisa menjelaskan kematian dengan akal sehat, tetapi tidak selalu mampu menenangkan hati ketika kerinduan datang tanpa aba-aba.
Kadang aku merindukannya ketika sedang tertawa.
Kadang ketika melihat seorang ayah menggandeng anaknya di jalan.
Kadang ketika ada persoalan yang membuatku ingin meminta pendapat seseorang yang mengenalku jauh sebelum dunia mengenalku sebagai orang dewasa.
Dan pada malam-malam tertentu, aku hanya duduk diam, memandangi langit-langit kamar, membayangkan bagaimana jika ayah masih ada.
Mungkin aku akan bercerita banyak kepadanya.
Tentang hidupku yang belum selesai. Tentang pikiranku yang terlalu ramai. Tentang keyakinanku yang terkadang terasa goyah. Tentang betapa sulitnya menjadi seseorang yang ingin melakukan hal-hal baik, tetapi berulang kali terjatuh dalam kelemahannya sendiri.
Mungkin aku akan meminta maaf.
Mungkin aku hanya akan duduk di sampingnya tanpa mengatakan apa-apa.
Sebab semakin dewasa, aku semakin memahami bahwa tidak semua kerinduan membutuhkan percakapan. Ada yang cukup hadir dalam diam, tetapi terasa lebih berat daripada seribu kalimat.
“Ayah, semoga engkau damai di sisi Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”
Kalimat itu menjadi doa yang selalu kusimpan, meski aku tidak pernah tahu seberapa baik caraku mendoakannya.
Kehilangan ayah membuatku semakin sering memikirkan Tuhan.
Anehnya, semakin sering aku memikirkan-Nya, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di kepalaku.
Aku percaya Tuhan ada. Aku percaya ada kekuatan yang melampaui kemampuan manusia. Tetapi terkadang aku mempertanyakan banyak hal tentang agama, tentang riwayatnya, tentang penjelasan yang kudengar dari orang-orang, dan tentang bagaimana manusia memahami sesuatu yang mereka yakini sebagai kebenaran.
Aku bukan sedang berusaha menjadi orang yang paling benar.
Aku hanya ingin memahami.
Setiap kali mendengar penjelasan yang tidak mampu menjawab pertanyaanku, pikiranku bergerak mencari jawaban lain. Aku membaca, mendengar, membandingkan, kemudian mempertanyakan kembali apa yang baru saja kupahami.
Kadang aku menemukan penjelasan yang terasa masuk akal.
Kadang aku justru menemukan pertanyaan baru yang lebih rumit.
Lama-kelamaan, aku mulai curiga bahwa pikiranku sendiri telah berubah menjadi ruang pengadilan yang tidak pernah selesai bersidang. Segala sesuatu harus diperiksa, dipertanyakan, dan diperdebatkan. Bahkan ketika hati hanya membutuhkan ketenangan, pikiranku tetap memaksa mencari pembuktian.
Aku ingin percaya tanpa harus mematikan akal.
Namun, aku juga tidak ingin menggunakan akal sebagai alasan untuk terus menjauh.
Di sinilah aku sering terjebak.
Aku tidak ingin menerima sesuatu hanya karena orang lain mengatakannya. Tetapi aku juga menyadari bahwa tidak semua hal bisa kupahami sekaligus. Ada batas pengetahuan manusia yang harus kuakui, meskipun mengakuinya terkadang terasa seperti kekalahan bagi egoku sendiri.
Aku teringat satu malam ketika hujan turun begitu deras.
Aku duduk sendirian di ruang tengah. Lampu menyala redup. Televisi mati. Telepon genggam tergeletak di atas meja, sementara pikiranku kembali berputar pada pertanyaan yang sama.
Mengapa imanku kadang terasa kuat, lalu melemah?
Mengapa aku bisa merasa dekat dengan Tuhan pada satu waktu, tetapi pada waktu lain justru larut dalam hal-hal yang menjauhkanku dari-Nya?
Apakah aku terlalu banyak memikirkan manusia?
Apakah aku terlalu mudah terpengaruh oleh kata-kata manis, pujian, dan pengakuan?
Atau ada sesuatu dalam diriku yang terus membisikkan bahwa keinginan pribadi harus selalu didahulukan?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu, aku sedang berperang.
Bukan perang dengan senjata. Bukan pula perang yang bisa disaksikan orang lain.
Aku sedang berperang melawan dorongan-dorongan dalam diriku sendiri. Melawan kesombongan yang terkadang menyamar sebagai kecerdasan. Melawan keinginan untuk selalu merasa benar. Melawan kebiasaan membenarkan kesalahan hanya karena aku tidak ingin mengakuinya.
Perang ini tidak meninggalkan luka di kulit, tetapi sering membuatku kelelahan.
Aku tidak tahu kapan semuanya akan berakhir.
Bahkan, aku tidak yakin apakah seseorang benar-benar bisa memenangkan perang melawan dirinya sendiri untuk selama-lamanya.
Mungkin yang bisa kulakukan hanyalah terus belajar mengenali kapan aku mulai tersesat, lalu berusaha mencari jalan pulang sebelum jarak itu semakin jauh.
Sebagai manusia, aku sering merasa memiliki empati yang cukup besar.
Melihat orang lain kesusahan bisa membuatku terenyuh. Mendengar kisah seseorang yang kehilangan orang tercinta bisa membuatku ikut merasakan kesedihannya. Melihat orang-orang berjuang di tengah keterbatasan kadang membuatku ingin melakukan sesuatu.
Namun, tidak semua keinginan itu menjelma menjadi tindakan.
Aku terlalu sering terjebak dalam pikiran sendiri.
Aku mempertimbangkan banyak hal, membayangkan kemungkinan-kemungkinan, memikirkan apakah yang kulakukan benar-benar berguna atau justru menimbulkan masalah. Pada akhirnya, beberapa niat baik hanya berhenti sebagai perasaan iba.
Aku mulai menyadari bahwa empati tanpa tindakan bisa menjadi tempat persembunyian yang nyaman bagi seseorang yang sebenarnya takut mengambil langkah.
Aku pun demikian.
Aku sering merasa telah memahami persoalan hanya karena mampu memikirkannya dari berbagai sudut. Padahal, memahami penderitaan seseorang tidak selalu berarti aku telah melakukan sesuatu untuk meringankannya.
Begitu pula dengan hubunganku kepada Tuhan.
Ada masa ketika aku merasa sangat tersentuh oleh nasihat keagamaan. Aku berjanji akan memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan kembali menjalankan kewajiban dengan lebih sungguh-sungguh.
Namun, janji itu sering kehilangan kekuatannya ketika aku kembali berhadapan dengan kehidupan sehari-hari.
Aku terjatuh lagi.
Lalu menyesal.
Kemudian mencoba kembali.
Setelah itu, terkadang aku mengulang kesalahan yang sama.
Siklus itu membuatku malu terhadap diriku sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang yang memahami sesuatu sebagai kebaikan justru berulang kali memilih hal yang bertentangan dengannya?
Aku tidak ingin menjadikan kelemahan sebagai pembenaran. Aku juga tidak ingin terus-menerus menghukum diri sendiri hingga kehilangan keberanian untuk berubah.
Namun, di antara kedua sikap itu, aku belum menemukan keseimbangan.
Ada kalanya aku merasa menjadi orang paling buruk di dunia. Pada kesempatan lain, aku justru terlalu mudah memaafkan diri sendiri, seolah semua kesalahan bisa selesai hanya dengan mengatakan bahwa manusia memang tidak sempurna.
Aku tahu kedua sikap itu sama-sama tidak menyelesaikan persoalan.
Tetapi mengetahui sesuatu tidak selalu membuat seseorang sanggup melakukannya.
Barangkali itulah salah satu kenyataan paling menyebalkan dalam kehidupan manusia: kita bisa memahami jalan yang benar, tetapi tetap kesulitan mengambil langkah ke arahnya.
Malam itu, hujan kembali turun.
Aku mengambil buku catatan yang beberapa hari terakhir tergeletak di atas meja. Halaman-halamannya dipenuhi kalimat yang saling berkejaran, pertanyaan yang belum terjawab, dan pengakuan yang bahkan tidak berani kusampaikan kepada orang terdekat.
Aku membaca ulang semuanya.
Ada banyak kalimat yang terasa terlalu keras. Ada pula pertanyaan yang mungkin tidak akan menemukan jawaban dalam waktu dekat. Aku bahkan sempat tertawa ketika membaca beberapa bagian yang ditulis dengan emosi berlebihan.
“Betapa rumitnya manusia,” gumamku.
Lalu aku berhenti pada satu kalimat yang kutulis beberapa hari sebelumnya.
Apakah seorang pendosa masih boleh merindukan Tuhannya?
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Entah mengapa, pertanyaan tersebut terasa lebih jujur daripada seluruh pertanyaan lain yang memenuhi kepalaku.
Aku sering memikirkan Tuhan dengan cara yang rumit. Mencari alasan, menguji penjelasan, mempertanyakan berbagai hal, dan berusaha memahami hubungan antara keyakinan dan akal.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.
Kerinduan.
Aku merindukan ketenangan yang dulu kurasakan ketika berdoa tanpa sibuk memikirkan apakah setiap kata telah kususun dengan sempurna. Aku merindukan perasaan ketika bisa mengakui kelemahan tanpa harus terlebih dahulu menyusun pembelaan. Aku merindukan ruang batin tempat aku bisa datang sebagai diriku sendiri, tanpa berpura-pura menjadi manusia yang selalu baik.
Aku merindukan Tuhan.
Pengakuan itu terasa begitu sederhana, tetapi justru menjadi hal yang paling sulit kuterima.
Bagaimana mungkin aku merindukan-Nya sementara aku sendiri masih sering mengabaikan perintah-Nya?
Bagaimana mungkin aku berharap mendapatkan ampunan ketika kesalahan yang sama masih berulang?
Bukankah seharusnya kerinduan itu dibuktikan dengan ketaatan, bukan sekadar perasaan yang muncul ketika hidup terasa berat?
Aku tidak memiliki jawaban yang sempurna.
Aku hanya tahu bahwa kerinduan ini nyata.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak ingin buru-buru menghakimi diriku sendiri karena merasakannya.
Aku teringat orang-orang yang baru berdoa ketika berada dalam kesulitan. Mereka yang mencari Tuhan ketika kehilangan, ketika sakit, ketika harapan runtuh, atau ketika tidak ada lagi manusia yang mampu memberikan pertolongan.
Dahulu, mungkin aku akan mempertanyakan ketulusan mereka.
Sekarang, aku justru bertanya-tanya: jika seseorang datang kepada Tuhan karena terluka, apakah itu berarti kedatangannya tidak berarti?
Bukankah manusia sering baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kehilangannya?
Aku tidak sedang mencari alasan untuk membenarkan kelemahanku. Aku hanya berusaha memahami diriku sendiri tanpa menutup mata terhadap kesalahan yang pernah kulakukan.
Aku ingin percaya bahwa pintu untuk memperbaiki diri tidak tertutup hanya karena seseorang berkali-kali gagal menjadi baik.
Aku ingin percaya bahwa seseorang tidak harus menunggu dirinya sempurna untuk mulai berdoa.
Sebab jika aku harus menunggu sampai seluruh keraguan lenyap, seluruh kebiasaan buruk berhenti, dan seluruh pertanyaan menemukan jawaban, mungkin aku tidak akan pernah memulai.
Aku menghela napas.
Kemudian, dengan suara yang hampir tak terdengar, aku berkata, “Tuhan, aku tidak tahu harus memulai dari mana.”
Tidak ada suara yang menjawab.
Tidak ada cahaya tiba-tiba yang memenuhi ruangan.
Hujan tetap turun seperti sebelumnya. Jam dinding terus bergerak. Malam tidak berubah menjadi pagi hanya karena aku mengucapkan sebuah pengakuan.
Tetapi untuk sesaat, aku merasa tidak perlu memenangkan seluruh perdebatan di dalam kepalaku.
Aku tidak perlu memecahkan semua persoalan malam itu juga.
Aku hanya perlu jujur.
Jujur bahwa aku lelah.
Jujur bahwa aku masih menyimpan penyesalan atas kepergian ayah.
Jujur bahwa aku masih memiliki banyak kelemahan.
Dan jujur bahwa di balik semua keraguan yang kubangun dengan begitu rumit, ada bagian dari diriku yang tetap ingin kembali.
Aku menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak berusaha menyusun kalimat yang terdengar bijaksana. Aku tidak mencoba menjelaskan diriku dengan teori-teori yang kupahami setengah-setengah.
Aku hanya berbicara sebagai seorang manusia yang sedang kehilangan arah.
Tentang ayah yang kurindukan.
Tentang waktu yang tidak bisa kuulang.
Tentang kesalahan-kesalahan yang belum sepenuhnya mampu kutinggalkan.
Tentang pikiran yang terkadang menjadi tempat paling bising untuk bersembunyi.
Dan tentang kerinduan yang selama ini berusaha kututupi dengan berbagai pertanyaan.
Aku tidak tahu apakah doaku malam itu telah mengubah sesuatu secara berarti.
Aku juga tidak ingin buru-buru mengklaim bahwa setelahnya aku akan menjadi manusia yang sepenuhnya berbeda.
Aku tahu diriku sendiri.
Mungkin esok aku akan kembali gelisah. Mungkin pertanyaan-pertanyaan lama akan datang lagi. Mungkin aku akan kembali tergelincir pada kebiasaan yang sama.
Tetapi setidaknya, malam itu aku berhenti berpura-pura tidak membutuhkan jalan pulang.
Pagi datang perlahan.
Hujan telah reda, menyisakan tetesan air di ujung daun dan genangan kecil di halaman. Udara terasa lebih segar. Tanah yang kemarin kering kini tampak lebih gelap, seolah sedang menyimpan kehidupan baru di balik permukaannya.
Aku membuka jendela.
Seekor burung bertengger di pagar, berkicau sebentar sebelum terbang menjauh.
Aku kembali duduk di depan buku catatan. Halaman terakhir masih kosong. Untuk beberapa saat, aku hanya memandangi ruang putih itu tanpa tahu apa yang harus kutuliskan.
Lalu aku mengambil pena.
Ada banyak hal yang belum kupahami tentang diriku sendiri. Ada pertanyaan yang mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan jawabannya. Ada luka yang tidak serta-merta sembuh hanya karena aku telah belajar menerima kenyataan.
Ayah tetap tidak akan kembali.
Penyesalanku tidak akan mengubah masa lalu.
Dan kerinduanku kepada Tuhan tidak secara otomatis menjadikanku manusia yang taat.
Aku menyadari semua itu.
Namun, mungkin hidup memang bukan tentang menunggu sampai seluruh persoalan selesai sebelum berani melangkah.
Mungkin hidup adalah keberanian untuk terus berjalan sambil mengakui bahwa kita belum sepenuhnya memahami jalan yang sedang ditempuh.
Aku menulis satu kalimat di halaman terakhir.
Aku tidak tahu apakah hari ini aku telah menjadi lebih baik, tetapi aku tidak ingin berhenti berusaha menjadi lebih baik.
Kubaca kalimat itu berulang kali.
Tidak ada kata-kata megah di dalamnya. Tidak ada janji bahwa aku tidak akan pernah jatuh lagi. Tidak ada pernyataan bahwa seluruh keraguanku telah lenyap.
Hanya sebuah keinginan sederhana untuk terus mencoba.
Di luar, matahari mulai menembus sela-sela awan. Cahayanya jatuh di atas lantai, perlahan merambat hingga menyentuh ujung kakiku.
Aku memandang cahaya itu sambil tersenyum tipis.
Selama ini aku mengira harus menemukan cahaya yang sempurna sebelum berani meninggalkan kegelapan. Aku lupa bahwa langkah pertama tidak selalu diambil oleh seseorang yang telah memahami segalanya. Terkadang, langkah itu justru dimulai ketika seseorang mengakui bahwa dirinya sedang tersesat.
Aku menutup buku catatan.
Senandung Oktober belum selesai. Mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai selama aku masih hidup, masih berpikir, masih melakukan kesalahan, dan masih berusaha memahami apa arti menjadi manusia.
Aku pun tidak tahu apakah esok aku akan menjadi seseorang yang lebih dekat kepada Tuhan atau kembali menjauh karena kelemahanku sendiri.
Tetapi pagi itu, aku tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk menebak-nebak masa depan.
Aku ingin memulai dari sesuatu yang paling sederhana: memperbaiki apa yang bisa kuperbaiki, menjalankan apa yang selama ini kutunda, meminta maaf ketika bersalah, dan belajar melakukan kebaikan tanpa terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain akan menilainya.
Aku ingin belajar menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus kujawab hari ini.
Bahwa tidak semua luka harus kupahami sebelum bisa berdamai dengannya.
Dan bahwa kerinduan kepada Tuhan mungkin bukan tanda bahwa aku telah menjadi manusia yang baik, melainkan pengingat bahwa masih ada sesuatu dalam diriku yang ingin mencari jalan pulang.
Aku menatap langit Oktober sekali lagi.
Entah berapa lama perjalanan ini akan berlangsung. Entah berapa kali aku akan jatuh dan harus kembali berdiri. Entah berapa banyak pertanyaan yang masih menungguku di sepanjang jalan.
Aku tidak tahu.
Aku hanya tahu bahwa aku masih di sini.
Seorang manusia dengan pikiran yang gaduh, hati yang belum sepenuhnya sembuh, penyesalan yang masih tersimpan, dan iman yang terkadang goyah.
Seorang anak yang masih merindukan ayahnya.
Seorang pendosa yang masih ingin berdoa.
Dan seorang hamba yang, di tengah segala keraguan dan kelemahannya, ternyata belum selesai merindukan Tuhan.
Barangkali kita memang tidak pernah benar-benar selesai mencari-Nya.
Sebab di balik perbedaan cara berpikir, panjangnya perdebatan, dan rumitnya perjalanan hidup, kita tetaplah manusia yang memiliki batas.
Kita bisa merasa paling benar, tetapi tetap melakukan kesalahan.
Kita bisa memahami banyak hal, tetapi tetap kehilangan arah.
Kita bisa menjauh, bahkan ketika hati diam-diam merindukan kedekatan.
Dan mungkin, pada suatu pagi di bulan Oktober, ketika hujan telah membasahi tanah yang lama mengering, kita akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatian.
Bahwa tidak semua yang kering telah mati.
Bahwa tidak semua yang tersesat telah berhenti mencari.
Dan bahwa tidak semua hati yang menjauh telah kehilangan kerinduannya.
Aku menutup jendela perlahan.
Di dalam dada, masih ada ruang kosong yang belum menemukan bentuknya. Masih ada nama yang kurindukan. Masih ada pertanyaan yang belum terjawab.
Namun, untuk hari ini, biarlah semuanya tetap ada.
Aku tidak ingin lagi berpura-pura bahwa aku telah memahami seluruh rahasia kehidupan.
Aku hanya ingin terus belajar menjadi manusia.
Sebab pada akhirnya, setinggi apa pun pikiran membawa kita berkelana, sedalam apa pun keraguan menenggelamkan kita, dan sejauh apa pun langkah menjauh dari keyakinan, kita tetaplah manusia yang tidak pernah sepenuhnya bebas dari kelemahan.
Dan aku, dengan segala kekuranganku, masih ingin percaya bahwa di antara jarak yang kubangun dan jalan pulang yang belum sepenuhnya kutemukan, kerinduan itu akan tetap hidup.
Kerinduan yang tidak selalu mampu kujelaskan.
Kerinduan yang tidak selalu mampu kubuktikan dengan sempurna.
Kerinduan yang membuatku kembali membuka buku, menuliskan kegelisahan, lalu menengadah dalam diam.
Tuhan, jika suatu hari aku kembali tersesat, semoga aku tidak terlalu angkuh untuk mengakui bahwa aku membutuhkan petunjuk-Mu.
Jika suatu hari aku kembali jatuh, semoga aku tidak terlalu malu untuk bangkit.
Dan jika suatu hari pikiranku kembali mempertanyakan segala sesuatu, semoga aku tetap memiliki kerendahan hati untuk menyadari bahwa aku hanyalah manusia yang sedang belajar memahami kehidupan.
Sebab aku tidak ingin menjadikan keraguan sebagai rumah.
Aku hanya ingin menjadikannya jalan untuk mengenal diriku sendiri, memahami batas-batasku, dan belajar melangkah dengan lebih jujur.
Oktober terus berjalan.
Hujan mungkin akan berhenti. Tanah akan kembali mengering. Musim akan berganti, dan kehidupan akan membawa persoalan-persoalan baru.
Tetapi selama masih ada waktu, aku ingin terus mencoba.
Bukan untuk membuktikan bahwa aku paling benar.
Bukan pula untuk memastikan bahwa aku lebih baik daripada manusia lainnya.
Melainkan agar suatu hari nanti, ketika kembali menoleh ke belakang, aku tidak hanya menemukan jejak-jejak penyesalan, tetapi juga langkah-langkah kecil yang pernah kuambil untuk memperbaiki diri.
Dan jika kelak aku kembali menuliskan sebuah catatan tentang diriku, semoga aku tidak lagi hanya berkisah tentang kegelisahan.
Semoga ada keberanian untuk berubah di dalamnya.
Semoga ada ketulusan untuk mengakui kesalahan.
Dan semoga, di antara kalimat-kalimat yang belum sempurna itu, masih terselip sebuah doa sederhana dari seorang manusia yang tidak pernah benar-benar selesai belajar.
Belajar tentang kehidupan.
Belajar tentang kehilangan.
Belajar tentang dirinya sendiri.
Dan belajar merindukan Tuhan tanpa harus berpura-pura bahwa dirinya telah sempurna.
Sebab aku tetap manusia. Dan di dalam diriku, di antara segala keraguan yang belum selesai, masih ada hati yang ingin pulang.





