JEJAK KAPUR DI DADA

Fajar mengetuk pintu kelas, bangku-bangku menguap pelan,
menyimpan mimpi yang belum dipanen di laci kenangan.
Kuangkat sepotong bulan patah bernama kapur,
kutulis harap di papan hitam, langit yang rela dikubur.

Kau datang, bocah bersepatu lubang dan tawa yang basah,
membawa sungai kecil di matamu yang ingin kuseberangi tanpa perahu.
Hurufmu menari goyah, bagai semut mabuk di halaman putih,
dan papan tulis menahan napas, takut menghapus bimbangmu yang letih.

Bel sekolah menagih waktu seperti penagih utang yang sabar,
hujan mengetuk jendela, ikut mencatat pelajaran yang berdebar.
Kelas ini rumah kedua, dindingnya hafal doa yang lirih,
memeluk gaduh, memeluk gagap, memeluk yang tak terpilih.

Paradoks ini kupelihara: makin kuberi, makin penuh sakuku,
makin kau menjauh, makin dekat kau mengetuk rinduku.
Kuajar kau terbang agar tak lagi perlu sangkarku,
dan di situlah kehilangan menjelma hadiah terindahku.

Tahun-tahun melaju bagai kereta tanpa rem, meninggalkan debu kapur di lengan baju,
rambutku memutih, salju kecil yang tumbuh dari lelah dan rindu.
Buku nilai menua, tinta birunya larut jadi laut ingatan,
dan namamu berlayar ke kota jauh, kulepas dengan doa dan ketulusan.

Kini bila kau pulang, berdasi, bersepatu mengilap, atau bergelar,
cukup panggil aku “Guru”, dan seluruh semesta berpendar.
Sebab cinta seorang guru tak pernah lulus, ia kapur yang tak habis ditulis,
meski patah, meski luruh, ia abadi di dada, menetes sebagai gerimis.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan