
MIMPI ANAK PETANI MENAPAKI PENDIDIKAN TINGGI
- Tidak semua perjalanan menuju pendidikan tinggi dimulai dari keluarga berada. Ada yang harus melewati jalan terjal, menahan malu, menunda keinginan, bahkan mengorbankan sesuatu yang sangat berharga demi sebuah mimpi. Inilah kisah perjalanan seorang anak petani, dari keluarga sederhana dengan delapan bersaudara, yang sejak kecil belajar bahwa pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah diperoleh, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan. Saya terlahir dari keluarga sederhana. Orang tua saya bekerja sebagai petani, ayah saya disela aktifitas disawah juga sebagai tukang parkir untuk mencari uang makan dan jajan untuk anak-anaknya, dan ibu sebagai pekerja serabutan kadang jualan apapun yang didapat dari sawah, dengan menggantungkan kehidupan keluarga pada hasil tanah yang tidak selalu menjanjikan. Saya adalah anak dari delapan bersaudara. Dalam keluarga kami, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja bukan perkara mudah, apalagi membayangkan dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Sejak kecil saya sudah memahami bahwa keadaan ekonomi keluarga menjadi batas yang harus saya hadapi. Namun, keterbatasan itu tidak pernah benar-benar mampu mematikan keinginan saya untuk belajar.
Hampir Berhenti di Bangku SMP !
Ada satu masa yang hingga hari ini tidak pernah saya lupakan. Ketika masih duduk di bangku SMP, saya hampir saja berhenti sekolah. Bukan karena saya tidak ingin belajar. Bukan pula karena saya malas. Saat itu, keadaan ekonomi orang tua benar-benar tidak memungkinkan. Untuk memenuhi kebutuhan sekolah, membeli buku, seragam, membayar berbagai keperluan pendidikan, semuanya terasa berat bagi keluarga kami. Dengan delapan bersaudara sangat tidak memungkinkan orang tua bisa mensekolahkan anaknya dengan waktu bersamaan. Akhirnya, saya dan kakak kakak saya selalu menunggu 1 tahun ketika lulus dari sd yang ingin melanjut ke smp. Yaitu dengan cara, menanti kakak saya agar lulus dari smp dulu.
Saya pernah berada pada titik di mana saya berpikir bahwa mungkin sekolah memang bukan jalan yang ditakdirkan untuk saya. Saya melihat orang tua yang setiap hari bekerja keras sebagai petani, tetapi hasilnya belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan delapan anak. Ada rasa tidak tega ketika harus meminta uang untuk
keperluan sekolah. Namun, entah dari mana datangnya kekuatan itu, saya memilih untuk tetap bertahan. Saya terus sekolah !
Saya belajar bahwa kemiskinan mungkin bisa membatasi keadaan, tetapi tidak boleh membatasi cita-cita.
Karena keinginan saya besar ingin sekolah, suatu waktu saya memaksakan diri ikut daftar sampai jenjang smp, namun sekolahnya berbeda dengan teman-teman pada
umumnya. Saya ikut sekolah Terbuka, yaitu program sekolah gratis yang diperuntukan untuk siswa miskin. Sekolahnya masuk hanya satu kali dalam seminggu.
Ditengah perjalan sekolah saya dimasa smp, hamipr saja putus sekolah, karena
berbagai faktor. Ibu sampai-sampai menangis melihat kondisi perjalan sekolah saya, mungkin ibu malu dan merasa bersalah karena tidak mampu menyekolahkan saya seperti sekolah yang pada umumnya. Namun dengan semangat dan tekad yang kuat, saya akhirnya bisa menuntaskan pendidikan smp dan lulus ujian nasional. Dari lima
belas teman saya di sekolah terbuka, hanya ada tiga anak yg lulus ujian nasional termasuk saya dan dua teman saya, walau dengan nilai pas-pasan. Dan wajar saja kami belajar hany satu kali dalam seminggu.
Mimpi Kuliah Sejak Bangku SMK !
Memasuki SMK, mimpi saya mulai tumbuh lebih besar. Di saat banyak orang mungkin menganggap kuliah sebagai sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi, saya justru mulai berani bermimpi: “Suatu hari nanti saya harus bisa kuliah.” Mimpi itu sederhana, tetapi bagi saya sangat besar. Saya tahu keluarga saya bukan keluarga yang memiliki tabungan untuk pendidikan
tinggi. Saya tahu orang tua saya tidak memiliki penghasilan tetap yang dapat menjamin biaya kuliah. Tetapi saya juga percaya bahwa setiap manusia berhak
memiliki mimpi. Saya tidak tahu bagaimana caranya saat itu. Yang saya tahu hanya satu: saya ingin kuliah. Mimpi itu kemudian menjadi bahan bakar yang membuat saya terus melangkah menapaki mimpi, memotivasi bagaimana caranya agar saya bisa lanjut kuliah, bersabar menunggu waktu untuk mengumpulkan uang kerja saat di ibu kota Jakarta. Dan akhirnya selama empat tahun bekerja sudah saatnya untuk meraih mimpi itu yaitu melanjutkab kuliah S.1. Menjadi Guru dengan Segala Keterbatasan !
Setelah menyelesaikan pendidikan, perjalanan hidup membawa saya menjadi seorang guru honorer. Menjadi guru adalah sebuah kebahagiaan karena saya bisa berbagi ilmu dan ikut mendidik generasi muda. Tetapi di sisi lain, kehidupan sebagai guru honorer tidaklah mudah. Saya menerima penghasilan sekitar Rp500.000 per bulan. Jumlah itu tentu sangat jauh
dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Terlebih saya telah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak yang menjadi tanggung jawab saya. Pada titik tersebut, saya
kembali dihadapkan pada pilihan: menyerah pada keadaan atau mencari jalan lain. Saya memilih untuk berjuang !
Menjadi teknisi pendingin dan usaha galon demi keluarga dan Pendidikan
Di luar pekerjaan sebagai guru, saya mengambil pekerjaan sampingan sebagai teknisi pendingin dan kuli galon air minum. Mungkin bagi sebagian orang pekerjaan itu sederhana. Tetapi bagi saya, setiap galon yang saya angkat adalah bagian dari perjuangan.
Saya mengangkat galon bukan hanya untuk mendapatkan uang.
Saya mengangkatnya demi membeli kebutuhan anak-anak. Saya mengangkatnya demi membantu keluarga. Dan saya mengangkatnya sambil menyimpan satu mimpi
yang sejak SMK belum pernah saya lepaskan: Saya ingin melanjutkan pendidikan hingga S2 !
Ada kalanya tubuh terasa lelah. Setelah mengajar, saya masih harus bekerja
sampingan. Setelah bekerja, masih ada keluarga yang menunggu. Tetapi setiap kali rasa lelah datang, saya teringat orang tua saya yang dahulu bekerja sebagai petani demi menghidupi delapan anaknya. Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri:
“Kalau orang tua saya tidak pernah menyerah membesarkan kami, mengapa saya harus
menyerah memperjuangkan pendidikan?”
Pertanyaan itu selalu membuat saya kembali bangkit. Ketika Mimpi S2 Terasa Mustahil ! Akhirnya, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 datang. Namun ternyata, masuk kuliah bukanlah akhir dari perjuangan. Justru perjuangan yang
sesungguhnya dimulai. Biaya kuliah, kebutuhan keluarga, kebutuhan anak, dan kebutuhan sehari-hari harus
berjalan bersamaan. Penghasilan sebagai guru honorer tidak sebanding dengan kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ada saat-saat ketika saya benar-benar bertanya:
“Mampukah saya menyelesaikan S2 ini?”
Saya pernah merasa hampir menyerah.
Tetapi di tengah keterbatasan itu, keluarga menjadi sumber kekuatan terbesar saya. Istri dan anak-anak menjadi alasan untuk terus melangkah.
Hingga pada suatu titik, untuk memenuhi kewajiban pembayaran UKT, kami harus mengambil keputusan yang sangat berat. Cincin istri saya dijual !
Bagi orang lain mungkin cincin hanyalah sebuah benda. Tetapi bagi kami, cincin itu memiliki nilai emosional. Ada kenangan dan perjuangan di dalamnya. Namun saat itu kami memilih sebuah keyakinan:
“Lebih baik kehilangan sebuah benda daripada kehilangan sebuah kesempatan untuk menggapai cita-cita”
Cincin itu akhirnya menjadi bagian dari perjalanan pendidikan saya.
Bukan sekadar perhiasan yang dijual untuk membayar UKT, tetapi menjadi simbol pengorbanan seorang istri, perjuangan sebuah keluarga, dan harga yang harus dibayar untuk sebuah mimpi.
Tidak Ada Perjuangan yang Sia-Sia !
Hari ini, ketika saya menengok ke belakang, saya menyadari bahwa perjalanan ini bukanlah perjalanan yang mudah; Saya pernah hampir putus sekolah ketika SMP karena keterbatasan ekonomi. Saya pernah bermimpi kuliah ketika masih duduk di SMK, meskipun belum tahu bagaimana cara mewujudkannya.
Saya menjadi guru honorer dengan penghasilan sekitar Rp500.000.
Saya bekerja sebagai kuli galon dan tukang servis setelah mengajar.
Saya memiliki tiga anak yang harus saya perjuangkan masa depannya.
Saya pernah berada pada kondisi harus menjual cincin istri untuk membayar UKT.
Namun dari semua itu saya belajar satu hal: Mimpi tidak selalu membutuhkan keadaan yang sempurna. Mimpi membutuhkan keberanian untuk memulainya dan keteguhan untuk tidak menyerah ketika keadaan
menjadi sulit. Saya mungkin bukan anak dari keluarga kaya. Saya bukan seseorang yang memiliki jalan pendidikan yang mudah. Saya hanya anak seorang petani, salah satu dari delapan bersaudara, yang pernah hampir berhenti sekolah. Tetapi saya memilih untuk percaya bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan.
Kini saya sedang menapaki pendidikan S2. Bukan karena perjalanan saya lebih mudah dibandingkan orang lain, tetapi karena saya memilih untuk terus berjalan meskipun alannya penuh keterbatasan.
Untuk Anak-Anak Saya !
Pada akhirnya, perjuangan ini bukan hanya tentang mendapatkan gelar S2. Lebih dari itu, saya ingin memberikan sebuah pelajaran kepada tiga anak saya. Saya ingin mereka melihat bahwa ayahnya pernah hidup dalam keterbatasan, tetapi tidak menjadikan
keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. Saya ingin mereka tahu bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari keluarga kaya. Kadang-kadang keberhasilan lahir dari keringat, doa, air mata, pengorbanan, dankeberanian untuk mencoba sekali lagi ketika rasanya ingin menyerah. Dan jika suatu hari nanti anak-anak saya bertanya,
“Abi, bagaimana Abi bisa sampai S2?
Saya ingin menjawab:
“Abi tidak sampai di sini karena Abi punya banyak uang. Abi sampai di sini karena Abi punya mimpi, punya keluarga yang selalu mendukung, dan Abi memilih untuk tidak
menyerah.”
Karena saya percaya, jalan yang sulit bukan berarti jalan yang salah.
Kadang-kadang, justru jalan yang paling beratlah yang membawa kita kepada tempat
yang paling membanggakan.
Dari sawah orang tua, dari bangku sekolah yang hampir ditinggalkan, dari ruang kelas
sebagai guru honorer, dari mengangkat galon demi sesuap kehidupan, hingga
menjual cincin demi membayar UKT. Semuanya adalah bagian dari cerita yang
membuktikan bahwa mimpi sekecil apa pun, layak diperjuangkan.
Saya tidak sedang mengejar gelar semata. Saya sedang membuktikan bahwa anak
seorang petani pun boleh bermimpi setinggi langit. Dan selama masih ada kemauan
untuk berjuang, tidak ada kata terlambat untuk mengubah kehidupan.
By:Tarsudi






