
Ketika Nurani Ikut Menjauh
Tanah-tanah telah lama meretak,
mengharapkan setitik embun dari langit yang membakar.
Bibir-bibir kering mengeja doa dan harapan,
di antara debu yang bertiup tanpa belas kasihan.
Musim kemarau ini begitu panjang dan menyiksa,
membawa dahaga yang menggerogoti raga.
Namun yang lebih menyakitkan dari terik matahari,
adalah pintu-pintu gedung tinggi yang terkunci rapi.
Di sana, di balik meja-meja megah pelayanan,
mereka menatap kami tanpa secuil rasa iba.
Tangan yang seharusnya mengulurkan bantuan,
terlipat rapi, dingin, dan tak bersuara.
Jeritan rakyat dianggap angin lalu,
penderitaan kami cukup dibalas senyum kaku.
Bukan hanya air tanah yang telah mengering,
tapi juga rasa kemanusiaan yang makin nyaring berpaling.
Sebab kini, di tengah bencana yang makin menjadi,
bukan hanya hujan yang enggan turun ke bumi,
melainkan nurani mereka…
yang perlahan melangkah dan ikut menjauh pergi.






