
Voice Note dari Ibu
Ponsel Raka bergetar untuk kesebelas kalinya hari itu. Di dalam KRL yang sesak, terjepit di antara bapak-bapak berransel besar dan mbak-mbak yang asyik menggulir TikTok, ia melirik layar. Ibu — Voice note (2:47).
Dua menit empat puluh tujuh detik. Raka sudah hafal isinya: Sudah makan, Nak? Jangan lupa vitamin. Anak Bu Rini sudah nikah lho. Kamu kapan pulang? Ia mengetik cepat, “Iya Bu, nanti ya, lagi sibuk,” lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Sudah tiga tahun Raka merantau di Jakarta. Kerja di startup, lembur hampir tiap hari, makan malam mi instan yang ia beri telur supaya terasa seperti masakan rumah. Hidupnya baik-baik saja, begitu selalu ia katakan pada Ibu. Yang tidak pernah ia katakan: ia belum sekali pun mendengarkan satu voice note sampai habis.
Di sebuah rumah kecil di pinggiran Magelang, Ibu Sari duduk di teras sambil memegang ponsel dengan kedua tangan, seperti memegang burung kecil yang takut lepas. Dulu, Raka yang mengajarinya. “Gampang, Bu. Tekan terus ikon mikrofon, bicara, lepas.”
Sejak itu Ibu jatuh cinta pada voice note. Mengetik terlalu lama, hurufnya kecil-kecil, jempolnya sering salah pencet. Tapi bicara? Empat puluh tahun ia bicara pada murid-murid SD, pada tetangga, pada ayam-ayamnya.
“Sudah dibalas?” tanya Bu Rini dari pagar.
“Sudah,” jawab Ibu, tersenyum. “Katanya sibuk.”
Senyumnya tetap ada. Hanya matanya yang tidak ikut. Ada hal-hal yang tidak pernah dikeluhkan seorang ibu, karena ia terlalu sibuk memastikan anaknya baik-baik saja.
Bulan Oktober, hujan turun nyaris tiap sore. Suatu Jumat malam Raka pulang dengan badan menggigil dan menjatuhkan diri ke kasur tanpa sempat melepas sepatu. Sabtu pagi, suhunya 39 derajat. Ia tidak punya tenaga untuk bangun, apalagi memasak.
Ponselnya berbunyi lagi. Voice note (4:12). Biasanya ia abaikan. Tapi pagi itu, mungkin karena terlalu lemas untuk melakukan hal lain, jarinya menekan tombol putar.
“Raka, Nak. Ibu lagi di teras. Hujannya deras sekali. Ibu jadi ingat waktu kamu kecil, takut petir, lari ke kamar Ibu bawa bantal. Kamu bilang, ‘Bu, aku nggak takut, cuma bantalnya yang takut.’”
Raka tertawa kecil. Tawa itu berubah jadi batuk.
“Ibu nggak mau ganggu. Ibu tahu kamu sibuk. Cuma, kalau Ibu kirim voice note, Ibu bisa dengar suara Ibu sendiri menyebut namamu. Rasanya seperti kamu masih di rumah. Aneh ya, Nak?”
Hening sebentar. Hanya suara hujan di seberang sana.
“Tadi Ibu masak sayur sop. Kebanyakan lagi. Empat puluh tahun masak untuk bertiga, sekarang tinggal Ibu sendiri, tangan Ibu belum mau diajak mengerti.”
Ada yang menekan dada Raka, dan itu bukan demam. Ia memutar bagian terakhir itu tiga kali.
Ia mencoba mengetik balasan, tapi jarinya gemetar dan kata-katanya terasa terlalu kecil. Akhirnya ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan: menekan terus ikon mikrofon.
“Bu, aku lagi sakit sedikit. Tapi nggak apa-apa. Aku denger voice note Ibu. Sampai habis.” Ia menelan ludah. “Maaf ya, Bu. Selama ini aku cuma bales ‘sibuk’. Padahal sayur sop Ibu yang paling aku kangenin di dunia ini.”
Dua puluh detik kemudian, ponselnya berdering. Panggilan video. Wajah Ibu muncul terlalu dekat, setengah dahinya terpotong, dengan sepotong ayam lewat di latar.
“Raka? Kamu sakit? Mukamu pucat sekali, Ya Allah!”
“Bu, HP-nya kejauhan. Itu dahi Ibu doang yang kelihatan.”
“Oh. Begini?”
“Sekarang hidung.”
Mereka tertawa, di dua kota yang berbeda, di bawah hujan yang sama.
Ibu tidak menyuruhnya pulang. Itu yang membuat Raka akhirnya memesan tiket.
Selasa pagi, setelah demamnya turun, ia duduk di kereta menuju Yogyakarta, lalu menyambung bus ke Magelang. Enam jam perjalanan yang tiga tahun ini selalu ia sebut “nanti kapan-kapan”. Di dalam bus, ia menggulir riwayat obrolannya ke atas, ke voice note paling awal.
“Halo, Raka? Ini Ibu. Sudah sampai Jakarta? Ibu coba voice note ini, katanya bisa. Kalau kamu dengar, bales ya. Ibu bangga sama kamu.”
Raka menutup mulut dengan tangan. Bapak di sebelahnya, yang sedang mengantuk, diam-diam menyodorkan tisu. “Rindu rumah, Mas?”
“Rindu suara, Pak.”
Raka mengangguk dan menatap keluar jendela. Sawah-sawah lewat satu per satu, hijau dan basah, seperti halaman-halaman buku yang lama tak ia buka.
Magelang sore itu berbau tanah basah. Ibu sedang menyiram tanaman ketika langkah kaki terdengar di halaman. Ia menoleh, dan selang di tangannya terlepas begitu saja, airnya mengalir ke mana-mana.
“Raka?”
Ibu tidak berlari, tidak berteriak. Ia hanya berdiri, seolah takut kalau berkedip anak itu akan hilang. Raka yang melangkah lebih dulu, menjatuhkan ransel, dan memeluk perempuan kecil itu erat-erat. Bau minyak kayu putih dan sabun. Bau yang tidak dijual di toko mana pun di Jakarta.
“Kamu kurus,” gumam Ibu di dadanya.
“Ibu juga.”
“Ibu ini langsing.”
Malamnya mereka makan berdua di dapur. Sayur sop mengepul di tengah meja, cukup untuk lima orang. Raka menambah tiga kali.
“Ibu nggak pernah marah kamu jarang pulang,” kata Ibu pelan. “Ibu cuma kangen.”
“Aku tahu, Bu. Sekarang aku tahu.”
Setahun kemudian, ponsel Raka bergetar di tengah lorong kantor. Voice note (5:03). Ia memasang earphone dan menekan putar.
“Raka, Nak. Si Gundala sekarang punya anak ayam enam. Bu Rini nanya lagi kapan kamu nikah, Ibu bilang kamu masih sibuk jadi orang hebat. Oh iya, Minggu ini Ibu masak sayur sop. Kebanyakan lagi. Tapi nggak apa-apa. Kan kamu pulang.”
Raka tersenyum. Ia menekan terus ikon mikrofon. “Iya, Bu. Aku pulang. Sisain yang banyak ya.”
Di teras rumah kecil di Magelang, seorang ibu mendengar suara anaknya, dan seperti biasa, memutarnya dua kali.
Karena kadang, yang paling ingin kita dengar bukan kabar penting, hanya suara orang yang menyebut nama kita dengan sayang.






