
Ketika Pengabdian Tak Lagi Didengar
Kami datang sebelum matahari membuka pagi,
Membawa harapan di antara buku dan mimpi,
Menyapa wajah-wajah kecil dengan senyum yang kami beri,
Meski lelah sering kami simpan sendiri.
Kami mengajar bukan sekadar membaca dan menulis,
Kami menanam karakter di tanah yang masih tipis,
Menguatkan hati yang rapuh, menuntun langkah yang tersisih,
Namun siapa yang menguatkan kami ketika hati mulai letih ?
Di balik papan tulis, ada air mata yang tak terlihat,
Ada doa yang panjang, ada pengorbanan yang hebat,
Ada waktu bersama keluarga yang perlahan tersesat,
Demi sebuah panggilan yang kami jaga dengan setia dan kuat.
Kami tidak meminta dipuja,
Tidak pula ingin dianggap paling berjasa,
Kami hanya ingin suara kami didengar sebagai manusia,
Sebab guru pun punya luka, punya lelah, dan punya asa.
Ketika pengabdian tak lagi didengar,
Ketika keluhan dianggap sekadar suara yang lewat sebentar,
Kami tetap berdiri meski langkah terasa berat,
Sebab di depan kami ada generasi yang tak boleh kehilangan arah.
Wahai negeri, dengarkanlah suara kami,
Bukan suara kemarahan, melainkan suara hati,
Hargailah guru sebelum cahaya kami redup sendiri,
Sebab ketika guru dihargai, masa depan bangsa pun sedang kita lindungi.






