
Langit yang kutunggu di gerbang sekolah
Riuh yang pernah diramu dalam sepenggal kalimat
menjelma gema di ruang sunyi
nama-nama di secarik kertas berterbangan di kepalaku
menyisakan debu pada ingatan yang rapuh
Goresan tinta yang tertinggal
masih melekat menjadi sejarah
di ruang kecil tempat jemari mungil
mengeja angan, menjejak saksi, meluapkan mimpi
Kita adalah satu hati yang terbagi bagi
bagiku kau seperti nyanyian rindu yang tak berujung
bagimu aku seumpama kota yang kau singgahi lalu beranjak pergi
suatu hari kau kembali setelah impian merangkul sedalam kidung
Langit yang kita tunggu di gerbang sekolah
saling menyapa pada wajah wajah lugu
berbaris rapi setiap pagi dengan sepatu hitam berdebu
dan baju kusut oleh tawa dan tangis yang padu
Waktu menjadikan kita sebagai hiasan di dinding zaman
memajang satu persatu kenangan di bawah temaram angan
kita saling memandang masa depan
aku menjadi tangan yang mengukir langkah, dan
kau adalah kaki yang menjejaki seisi cita
Oktober 2026






