
Dididik Guru di Sekolah, Dibiarkan Orang Tua di Rumah
Dididik Guru di Sekolah, Dibiarkan Orang Tua di Rumah
Oleh: Rizky Aulia, S.Pd., Gr.
Ada ironi besar dalam pendidikan kita: anak dititipkan kepada guru untuk dididik, tetapi ketika guru benar-benar mendidik, sebagian orang tua justru datang untuk memprotes. Anak diminta disiplin di sekolah, tetapi di rumah aturan bisa dinegosiasikan. Guru menegur karena pelanggaran, orang tua merasa anaknya diserang. Guru memberikan konsekuensi edukatif, orang tua mengancam melapor.
Lalu, sebenarnya siapa yang sedang kita didik: anak atau ego orang dewasa?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan pada jenjang SMA. Remaja bukan lagi anak kecil yang cukup diberi tahu mana yang benar dan salah. Mereka sedang berada pada fase pencarian identitas, membangun kemandirian, menguji batas, sekaligus sangat rentan terhadap pengaruh teman sebaya dan dunia digital. Karena itu, pendidikan mereka membutuhkan konsistensi antara rumah dan sekolah.
Masalahnya, konsistensi itulah yang sering hilang. Guru menghabiskan waktu berjam-jam di sekolah untuk mengajarkan pengetahuan sekaligus membentuk karakter. Namun, selepas bel pulang berbunyi, tanggung jawab pendidikan seolah ikut ditinggalkan di gerbang sekolah. Di rumah, anak kembali berada dalam ekosistem yang kadang justru berlawanan dengan nilai yang dibangun guru.
Kita meminta guru mengajarkan disiplin, tetapi orang tua membenarkan anak ketika terlambat. Kita meminta guru menanamkan tanggung jawab, tetapi ketika anak mendapatkan konsekuensi karena tidak mengerjakan tugas, orang tua buru-buru mencari alasan. Kita meminta sekolah membangun karakter, tetapi ketika guru menegur perilaku anak, sebagian orang tua menganggapnya sebagai penghinaan terhadap keluarga.
Lebih mengkhawatirkan, ketidakpercayaan itu dapat berkembang menjadi konflik terbuka. Berulang kali publik disuguhi pemberitaan tentang guru yang menghadapi intimidasi, pelaporan, bahkan kekerasan setelah menegur siswa. Salah satu kasus yang kembali menjadi sorotan adalah orang tua murid yang menganiaya guru dan kemudian diproses secara hukum; pada November 2025, Pengadilan Negeri Amlapura menjatuhkan hukuman 3 bulan 15 hari dalam salah satu perkara penganiayaan terhadap guru tersebut. Kasus-kasus seperti ini tidak boleh dibaca sebagai perang antara guru dan orang tua. Justru sebaliknya, ia harus menjadi alarm bahwa relasi pendidikan kita sedang membutuhkan perbaikan mendasar.
Negara sendiri telah bergerak. Pada 2026, pemerintah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Regulasi ini menempatkan keamanan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosial-kultural, hingga keamanan digital sebagai bagian dari budaya sekolah. Yang lebih penting, penyelenggaraannya tidak hanya menjadi urusan sekolah, tetapi melibatkan orang tua, komite, masyarakat, dan media. Artinya jelas: pendidikan tidak mungkin dibebankan kepada guru seorang diri.
Pemerintah juga telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026 yang memperkuat perlindungan bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Perlindungan guru bukan berarti guru kebal dari evaluasi atau kritik. Guru tetap harus profesional, tidak boleh melakukan kekerasan, dan harus menghormati hak anak. Namun, guru juga tidak boleh dibiarkan sendirian ketika menjalankan tugas profesionalnya. Di sinilah orang tua harus memahami perbedaan antara membela anak dan membenarkan anak. Membela anak berarti memastikan anak mendapatkan perlakuan yang adil. Membenarkan semua perilaku anak justru dapat merampas kesempatan anak untuk belajar dari kesalahan.
Seorang siswa SMA yang ditegur guru karena merokok, membolos, melakukan perundungan, tidak disiplin, atau melanggar tata tertib tidak selalu membutuhkan orang tua yang datang dengan kemarahan. Ia membutuhkan orang tua yang bertanya: “Mengapa kamu melakukan itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang harus kamu perbaiki?”
Inilah pendidikan yang sesungguhnya.
Ki Hadjar Dewantara mengingatkan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Kalimat tersebut terasa semakin relevan hari ini. Rumah tidak boleh menjadi tempat pembatalan atas semua pendidikan yang dilakukan sekolah.
Jika sekolah mengatakan disiplin, rumah harus memperkuat disiplin. Jika sekolah mengajarkan tanggung jawab, rumah harus memberi ruang bagi anak untuk bertanggung jawab. Jika guru mengatakan bahwa kesalahan memiliki konsekuensi, orang tua semestinya tidak selalu menjadi “penghapus konsekuensi”.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti bahkan menegaskan, “Untuk mendidik satu anak diperlukan satu kampung.” Pendidikan, menurutnya, harus menjadi kerja bersama antara sekolah, keluarga, dan lingkungan bermain. Pesan tersebut sangat penting bagi pendidikan anak SMA. Kita tidak bisa berharap sekolah menghasilkan generasi berkarakter jika selama 24 jam sehari anak hanya menerima pendidikan karakter selama beberapa jam di ruang kelas.
Sekolah mungkin mengajarkan sopan santun, tetapi anak melihat orang dewasa memaki di rumah. Guru mengajarkan literasi digital, tetapi orang tua membiarkan anak tanpa batas bermain gawai. Sekolah mengajarkan tanggung jawab, tetapi orang tua terus menyelesaikan seluruh persoalan anak. Kontradiksi semacam ini membuat pesan pendidikan kehilangan kekuatannya. Karena itu, orang tua tidak perlu menjadi “guru kedua” yang selalu mengoreksi guru pertama. Jadilah mitra guru.
Ketika ada masalah, duduk bersama. Dengarkan guru. Dengarkan anak. Periksa fakta. Jangan langsung mengambil kesimpulan berdasarkan satu cerita dari anak. Begitu pula guru harus membuka ruang komunikasi dan tidak menempatkan orang tua sebagai pihak yang selalu salah.
Kita perlu mengubah paradigma: guru bukan musuh orang tua, dan orang tua bukan musuh guru. Keduanya sedang menghadapi musuh yang sama, yaitu ketidakmatangan karakter anak dan tantangan perubahan zaman.
Jika rumah dan sekolah saling mencurigai, anak belajar satu hal yang berbahaya: bahwa setiap aturan dapat dicari celahnya. Ketika guru berkata “tidak boleh”, cukup mencari pembela di rumah. Ketika orang tua berkata “tidak boleh”, cukup mencari pembenaran dari teman atau internet. Inilah yang harus dihentikan.
Anak SMA membutuhkan batas, tetapi juga membutuhkan kepercayaan. Membutuhkan kasih sayang, tetapi juga membutuhkan konsekuensi. Membutuhkan guru yang tegas, sekaligus orang tua yang tidak mudah tersulut emosi. Pendidikan tidak akan berhasil jika guru bekerja sendirian dan orang tua hanya muncul ketika anak bermasalah.
Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Siapa yang salah, guru atau orang tua?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang sedang kita lakukan agar anak kita tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab?”
Sebab pada akhirnya, sekolah hanya memiliki anak selama beberapa jam. Rumah memiliki mereka jauh lebih lama. Jika sekolah mendidik, tetapi rumah membiarkan; jika guru menanamkan, tetapi orang tua mencabut; jangan heran apabila karakter anak tumbuh tanpa arah.
Maka ingatlah bahawa anak bukanlah proyek sekolah. Anak adalah tanggung jawab Bersama Guru dan Orang Tua.



