Mengubah Anggapan Aksara Jawa Yang Kuno Menjadi Kekinian Melalui Ruang Digital

Bermula dari keresahan yang muncul saat materi aksara jawa, para murid terlihat kurang antusias karena menganggap Aksara Jawa sebagai materi yang rumit, kuno, dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka sehari-hari. 

Setiap kali mengajar materi Aksara Jawa, rasanya energi seperti terserap hanya untuk membangkitkan minat belajar mereka. Karena bagi mereka Aksara Jawa tidak ubahnya seperti prasasti kuno yang hanya ada di museum dan tidak ada kaitannya dengan kehidupan mereka. 

Dari situ saya berpikir keras. Bagaimana caranya membuat mereka sadar bahwa Aksara Jawa itu sebenarnya dekat dengan kehidupan mereka? Tantangannya ya itu, saya harus mencari pemicu yang relevan sekaligus bisa memanfaatkan ketertarikan mereka dengan teknologi. 

Hingga suatu hari, saya menyadari hal menarik di Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya ternyata sedang gencar melestarikan warisan budaya melalui penulisan Aksara Jawa untuk papan nama kantor kecamatan dan kelurahan. Iseng-iseng saya memperhatikan dengan seksama setiap tulisan yang telah saya temukan, ternyata masih ada beberapa kantor kecamatan atau kelurahan yang penulisanya kurang tepat. Kesalahan-kesalahan kecil di ruang publik ini justru terasa seperti “harta karun” buat saya angkat ke kelas.

Begitu masuk kelas, foto-foto papan nama itu langsung saya tampilkan di depan. Saya melempar pertanyaan simpel, “Coba sampeyan gatekna foto-foto ing ngarep kuwi, ana sing ngerti iku ning endi? Coba smpeyan teliti apa panulisan aksara jawa ing foto kasebut wis pener kabeh?”

Seketika kelas yang biasanya hening langsung ramai! Para murid yang tadinya cuek mendadak penasaran dan mulai memperhatikan layar. Mereka sadar ternyata Aksara Jawa masih ada didekat mereka, dilingkungan mereka. Momen ini saya manfaatkan untuk menggali lebih dalam lagi ketertarikan mereka dengan Aksara Jawa. 

Saya meminta mereka berkelompok untuk menganalisis kesalahan penulisan di papan nama tadi berdasarkan kaidah yang benar. Tapi tantangannya tidak hanya sampai disitu saya melempar pertanyaan lagi “Saka sing wis sampeyan rembug mau, nyatane ana saperangan sing salah sajrone nulis aksara jawa kasebut, saiki coba sampeyan bayangna piye carane sinau aksara jawa iki supaya bisa diakses dening kabeh wong? 

Disinilah ide dan kreativitas mereka benar-benar meledak, berbagai gagasan disampaikan dan dijabarkan, ada kelompok yang mengusulkan “mebuat game petualangan belajar Aksara Jawa”, ada yang mengusulkan membuat audio visual tentang materi Aksara Jawa, ada juga yang mempunyai gagasan membuat infografis,  ditengah-tengah proses brainstorming itu ada yang memaparkan bahwa saat mereka belajar pada mata pelajaran KKA mereka diajari memanfaatkan fitur hyperlink pada Canva untuk membuat sebuah Media Pembelajaran Interaktif.
Setelah disepakati bersama akhirnya mereka mebuat sebuah “Media Pembelajaran Interaktif” yang bisa diakses oleh siapapun dan dimanapun. Murid-murid yang tadinya malas menyentuh Aksara Jawa akhirnya jadi asyik mengotak-atik Canva dan menyambungkan hyperlink antar-halaman. Lucunya, saat proses menyusun contoh-contoh penulisannya, mereka baru sadar satu hal: jika kaidah Aksara Jawa yang dimasukkan ke dalam hyperlink itu salah, kan malu-maluin banget. Alhasil, mereka malah sibuk buka buku panduan dan diskusi sendiri demi memastikan kaidah penulisannya sudah presisi dan benar. Tanpa disadari, pengetahuan dari pelajaran KKA itu berhasil mereka hubungkan secara mandiri untuk paham Aksara Jawa, bukan lagi karena dipaksa hafalan.

Momen yang tak kalah seru tentu saja saat unjuk karya didepan kelas. Setiap kelompok bergantian mempresentasikan Media Pembelajaran Interaktif buatan mereka lewat layar proyektor. Suasana kelas langsung heboh! Kelompok lain tidak hanya mendengarkan, tapi ikut mencoba karya  buatan temannya. Suasana makin hidup dan pecah ketika ada kelompok lain yang jeli menemukan kesalahan dimedia yang sedang ditayangkan. “Eh, tunggu dulu! Itu hyperlink tombol ‘Lanjut’-nya pas diklik kok malah ke halaman yang salah? Pasangannya kan harusnya pakai pasangan Na, bukan Ta!” teriak salah satu murid dari meja belakang. Kelompok yang di depan langsung tersipu malu sambil tertawa, sementara seisi kelas ikut riuh menimpali dan memperdebatkan kaidah yang benar. 

Disitu saya hanya bisa tersenyum merasa puas. Melihat mereka berdebat tentang kaidah pasangan dan sandhangan dengan wajah antusias sambil mengoperasikan media buatan teman sendiri yang menumbuhkan rasa bangga dan hangat.

Yang paling membuat terharu, minat belajar mereka melonjak drastis. Mereka terlihat sangat bangga ketika sadar jika sekarang mereka punya kemampuan untuk memahami dan mengoreksi kesalahan penulisan di fasilitas umum kota mereka sendiri. Pembelajaran menjadi terasa nyata, hidup, dan mempunyai makna untuk mereka. Melalui proyek ini, para murid tidak hanya paham kaidah Aksara Jawa, tapi juga semakin kritis dan bisa mengintegrasikan materi KKA secara nyata dikehidupan sehari-hari. Aksara Jawa tidak lagi dianggap sebagai warisan kaku dan menegangkan, tapi menjadi sesuatu yang keren dan bisa mereka tampilkan secara modern lewat karya digital. 

Kebahagiaan saya rasanya makin lengkap saat membaca hasil lembar refleksi yang mereka isi di akhir pembelajaran. Ada satu isian murid yang benar-benar bikin saya tersenyum sendiri. Dia menulis, “Jujur, dulu saya malas dan benci banget tiap kali ada pelajaran Bahasa Jawa. Tapi setelah bikin proyek ini, saya malah jadi kangen pengin belajar Bahasa Jawa lagi.” Membaca pengakuan jujur itu rasanya lega sekali. 

Saya menaruh harapan besar, semoga percikan semangat ini tidak berhenti di kelas kami saja. Semoga murid-murid bisa terus membawa rasa bangga dan cinta terhadap budayanya sendiri. Sebab pada akhirnya, melestarikan Aksara Jawa bukan lagi tentang memaksa mereka menghafal sejarah masa lalu, melainkan tentang bagaimana kita memberi ruang bagi mereka untuk merawat identitasnya dengan cara yang modern dan relevan dengan zamannya.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan